BAB I
HAKIKAT ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS
A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan
istilah terbaru yang digunakan dan merupakan terjemahan dari child with
specials needs yang telah digunakan secara luas di dunia nternasional. Ada
beberapa istilah lain yang pernah digunakan diantaranya anak cacat, anak tuna,
anak berkelainan, anak menyimpang dan anak luar biasa. Ada satu istilah yang
berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan
pendekatan dari difference ability. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus
membawa kosekuensi cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa
yang pernah diergunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar
biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak,
maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak
untuk mencapai prestasi sesuai dengan prestesinya.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara
pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada
umumnya. Konsep anak berkebutuhan khusus memiliki arti yang
lebih luas dibandingkan dengan pengertian anak luar biasa. Menurut Zahidi
(2014:6) “Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan
pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya”.
Heward (dalam Zahidi, 2014:6)
berpendapat bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik
khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada
ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Selanjutnya Jamaris (dalam Khadijah,
2015:3) mengungkapkan bahwa anak berkebutuhan khusus yaitu individu yang
memiliki ciri-ciri khusus di dalam perkembangannya yang berbeda dari
perkembangan secara normal. Yang termasuk kedalam
ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras,
kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan
kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa
dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan
bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan
potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks
bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa
isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa
(SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra,
SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D
untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat
ganda.
Oleh karena itu, anak berkebutuhan
khusus (Children with special needs) dapat diartikan sebagai anak
yang berbeda dari anak-anak pada umumnya, karena mereka memliki hambatan
belajar dan perkembangan (barier to learning and development). Oleh
sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan
belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak yang
berkebutuhan khusus. Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi
dua kategori yaitu:
a.
ABK yang
bersifat permanen, yaitu akibat dari kelainan tertentu.
b.
ABK yang
bersifat temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan belajar dan
perkembangan yang disebabkan kondisi dan situasi lingkungan.
Misalnya, anak yang mengalami
kesulitan dalam menyesuaikan diri akibat kerusuhan dan bencana alam, atau tidak
bisa membaca karena kekeliruan guru mengajar, anak yang mengalami kewibahasaan
(perbedaan bahasa di rumah dan di sekolah), anak yang mengalami hambatan
belajar dan perkembangan karena isolasi budaya dank arena kemiskinan dsb. Anak
berkebutuhan khusus temporer, apabila tidak mendapatkan interverensi yang tepat
dan sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen.
Anak berkebutuhan khusus (ABK) agak
berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus berproses dan
tumbuh, tidak dengan modal fisik yang wajar, karenanya sangat wajar jika mereka
terkadang cenderung memiliki sikap defensif (menghindar), rendah diri, atau
mungkin agresif, dan memiliki semangat belajar yang lemah. Istilah yang berkaitan
dengan ABK :
1. Disability
berkurangnya atau
hilangnya fungsi organ atau bagian tubuh tertentu. Disebut juga “impairment”.
Contoh : low vision, dimana kalau membaca bisanya dengan jarak dekat dan
tulisan besar. Kerusakan fungsi pendengaran.
2. Handicap
masalah atau dampak
dari kerusakan (disability atau impairment) yang dialami oleh individu ketika
berinteraksi dengan lingkungan. Contoh : orang tuna netra yang tidak bisa
melihat, akan sulit berjalan di lingkungan yang dia ga kenal.
3. At Risk
anak yang meskipun
tidak teridentifikasikn memilki kerusakan namun berpeluang mengalamihambatan
atau masalah tertentu. Contoh : seseorang yang tidak memilki gangguan tapi dia
mengalami kesulitan salm belajar.
B. Tujuan Pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus
Menurut
Sunan & Rizzo (1979), Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang
memiliki perbedaan dalam beberapa dimensi penting dari fungsi kemanusiaannya.
Mereka adalahyang secara fisik, psikologis, kognitif atau sosial terhambat
dalam mencapai tujuan / kebutuhan dan potensinya secara maksimal sehingga
memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga kerja professional.
Menurut
Mangunsong (2009), ABK sebagai anak yang membutuhkan pendidikan dan
layanna khusus untuk mengoptimalkan potensi kemanusiaannya secara utuh akibat
adanya perbedaan kondisi dengan kebanyakan anak lainnya. Perbedaannya meliputi
: ciri-ciri mental, kemampuan sendorik, fisik dan neuromuscular, perilaku
sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi ataupun kombinasi 2 atau lebih
dari berbagai hal tersebut. Kombinasi 2 hal tersebut dinamakan double handicap.
Kombinasi 3 hal tersebut dinamakan multi handicap.
Anak Berkebutuhan Khusus merupakan anak
dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu
menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam
ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa , tunalaras,
kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, dan anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi
anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa. Pendidikan anak berkebutuhan khusus
merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam
mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, dan
sosial, tetapi memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.Tujuan dari
Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus antara lain :
1. Menemukan
dan menitikberatkan kemampuan siswa berkebutuhan khusus
2. Mengembangkan
kehidupan anak didik dan siswa sebagai pribadi
3. Mengembangkan
kehidupan anak didik dan siswa sebagai anggota masyarakat
4. Mempersiapkan
siswa untuk dapat memiliki keterampilan sehingga bekal memasuki dunia kerja
5. Mempersiapkan
anak didik dan siswa untuk mengikuti pendidikan lanjutan.
Ada tiga bentuk Pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus antara lain :
1.
Integrasi, dimana anak
berkebutuhan khusus diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak
normal di sekolah regular. Bentuk dari pendidikan ini bisa berupa berada di
dalam satu kompleks sekolah namun dengan gedung dan jadwal yang berbeda atau
belajar di kelas khusus dan sesekali bergabung dengan kelas reguler untuk mata
pelajaran tertentu.
2.
Inklusi. Menurut Staut dan Peck,
inklusi merupakan penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat
secara penuh di kelas reguler. Anak Berkebutuhan Khusus ditempatkan sepenuhnya
di kelas reguler.
3.
Segregasi, dimana anak
berkebutuhan khusus belajar dalam lingkungan anak berkebutuhan khusus juga.
Misalnya: TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB.
C. Konsep Dasar Anak Berkebutuhan
Khusus
Untuk memahami
anak berkebutuhan khusus berarti kita harus melihat adanya berbagai perbedaan
bila dibandingkan dengan keadaan normal, mulai dari keadaan fisik sampai
mental,dari anak cacat sampai anak berbakat intelektual.Untuk memahami anak
berkebutuhan khusus dikenal ada dua hal yaitu perbedaan interindividual dan
perbedaan intraindividual.
1.
Perbedaan
Interindividual
Berarti
membandingkan perbedaan individu dengan orang lain dalam berbagai hal
diantaranya perbedaan keadaan mental (kapasitas kemampuan intelektual),
kemampuan panca indera (sensory), kemampuan gerak motorik, kemampuan
komunikasi, kemampuan perilaku, dan keadaan fisik.
a.
Perbedaan interindividual
berdasarkan keadaan panca indera
1)
Anak dengan gangguan penglihatan
Dengan
menggunakan ukuran ketajaman penglihatan, seseorang disebut buta apabila ia
memiliki tingkat efisiensi penglihatan 20,0 % atau lebih kecil. Yang tingkat
efisiensinya lebih besar dari 20,0 % belum diktegorikan sebagai buta. Tunanetra
mengandung arti ketunaan penglihatan mulai dari yang ringan sampai yang buta
total. Untuk mengenal apakah anak mengalami gangguan penglihatan, dapat dilihat
dari ciri-ciri fisik, perilaku maupun keluhan.
§ Ciri fisik,
seperti : mata juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah,
mata infeksi,gerakan mata takberaturan (goyang), mata selalu beair
·
Ciri perilaku, seperti : membaca
terlalu dekat, membaca banyak yang terlewati,cepat lelah ketika
membaca/menulis, sering menggerakan kepala ketika membaca, mengeryitkan kepala
ketika melihat papan tulis, seing mengusap mata, mendongakkan kepala, berjalan
sering menabrak benda di depannya, salah menyalin dalamjarak dekat, dsb.
·
Ciri keluhan, seperti : merasa sakit
kepala, sulit melihat dengan jelas dari jarak jauh, penglihatan terasa kabur
ketika membaca/menulis, benda terlihat seperti dua buah, mata sering terasa
gatal.
Dampak
gangguan penglihatan bermacam-macam.Jika gangguan cukup ringan, mungkin dengan
alat Bantu khusus (seperti kaca mata, loop, atau memperbesar huruf, penempatan
tempat duduk) dapat sedikit membantu mengatasi masalah belajar anak.Tetapi,
untuk gangguan yang sangat serius (sudah samapai tarap buta tentu mereka tidak
dapat mengikuti pendidikan biasa tanpa bantuan layanan khusus.Mereka tidak lagi
menggunakan huruf biasa di dalam belajar.Mereka sudah harus menggunakan huruf
Braille. Guru perlu mengenal mereka agar sejak dini anak yang mengalami
gangguan penglihatan dapat terlayani secara optimal, baik secara medis, sosial,
psikologis, maupun pendidikan, sehingga tidak menimbulkan kesulitan belajar pada
diri anak dikemudian hari.
2)
Anak dengan gangguan pendengaran
Gangguan
pendengaran yang disebabkan oleh kebutuhan khusus oleh kerusakan fungsi dari
sebagian atau seluruh alat atau organ-organ pendengaran, dapat diketahui dengan
menggunakan alat ukur tertentu (audiometer).Dengan menggungkapkan ciri fisik
dan perilaku anak, seorang anak dideteksi apakah mengalami gangguan pendengaran
gangguan atau tidak. Ciri-ciri tersebut, antara lain : sering keluar cairan
dari liang telinga, bentuk daun telinga tidak normal, sering mengeluh atau
gatal di lubang telinga, kalau berbicara selalu melihat gerakan bibir lawan
bicara, sering tidak bereaksi jika diajak bicara kurang keras selalu minta
diulang dalam pembicaraan, dan sebagainya.
3)
Anak dengan kelainan autistic
Perlunya
penanganan khusus bagi anak autis termasuk perkembangan baru dalam bidang
pendidikan luar biasa.Mereka umumnya dikatagorikan sebagai anak dengan gangguan
tunagrahita dan karenanya penanganannya sering dijadikan satu dengan anak
tunagrahita.Namun dalam perkembangan ternyata penyandang autis tidak selalu
mengalami anagrahita.Oleh karena itu dipandang perlu untuk dijadikan katagori
tersendiri sebagai anak yang mengalami kesulitan belajar. Ciri-ciri umum anak
dengan kelainan autistik antara lain adalah :
·
Sering berkata tanpa arti.
·
Sering menirukan perkataan orang
lain secara spontan.Tanpa mengerti apa yang dibaca.
·
Gerakan/aktivitas kaku, menonton dan
berulang.
·
Sering memutar, membanting dan
membariskan benda.
·
Lebih tertarik pada benda mati daripada
orang.
·
Mempunyai gerakan serba cepat
(hiperaktif)
·
Sering berprilaku stereotipik (diulang-ulang),
aneh tanpa tujuan.
·
Minat terhadap objek tertentu secara
luar biasa dan tidak lazim misal detik jam, kipas angin.
·
Kadangkala agresif (menyerang,
merusak).
·
Sulit konsentrasi pada
aktivitas/objek tertentu.
·
Sering sulit tidur, ngompol atau
ngebrok.
·
Tidak senang/mudah marah pada
perubahan (letak barang di kamar, urutan kegiatan).
·
Sering berubah emosi mendadak tanpa
sebab (dari sedih kegembira, atau sebaliknya).
·
Sering terjadi ledakan tawa atau
tangis tanpa sebab.
b.
Perbedaan interindividual
berdasarkan keadaan fisik dan kemampuan gerak motoric
Ada dua
kategori cacat tubuh, yaitu cacat anggota tubuh karena penyakit polio dan cacat
tubuh karena kerusakan otak sehingga mengakibatkan ketidak mampuan gerak (
cerebral palsy ). Pada dasarnya cerebral palsy merupakan gangguan koordinasi
otot. Ototnya sendiri sebenarnya normal, tetapi otak mengalami gangguan dalam
mengirimkan sinyal-sinyal yang penting untuk memerintah otot-otot untuk
memendek atau memanjang atau harus meregang ( Puseschel ,1988 ) Anak-anak
semacam ini masih dapat belajar dengan menggunakan semua inderanya. Tingkat
intelektualnya umumnya normal bahkan ada yang sedikit diatas kesulitan jika
harus melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan koordinasi motorik dan/atau
keterampilan fisik, seperti olahraga, bermain, menulis, malakukan mobilitas,
dan sebagainya. Ciri-ciri gangguan gerakan karena kerusakan otak ( cerebral
palsy ) antara lain sebagai berikut :
§
otot keras dan kadang-kadang kaku
serta tidak dapat menggerakkan anggota tubuh dengan baik, gerakannya sering
tersentak-sentak.
§
Sukar mengontrol kaki dan tangan
dalam melakukan aktivitas, wajah seram dan kadang dengan mengulurkan lidah
§
Kekakuan dalam gerakan yang memerlukan
keseimbangan, orientasi ruang, posisi tubuh mudah jatuh;
§
Kakakuan yang ekstrem pada anggota
tubuh dan sendi-sendi dan sukar bergerak untuk waktu yang lama.
Anak yang mengalami gangguan gerakan pada taraf sedang
dan berat, umumnya dimasukkan ke sekolah luar biasa ( SLB ). Yang mengalami
gangguan ringan mungkin banyak juga ditemukan di sekolah-sekolah umum.Jika
mereka tidak mendapatkan bantuan pelayanan khusus dapat menyebab anak kebutuhan
khusus terjadinya kesulitan belajar yang serius. Gejala-gejala gangguan gerakan
ringan pada anak seperti berikut: ini mungkin perlu di cermati dan diberi
perhatian yang lebih serius yaitu:
§
Salah satu/kedua tangan atau kaki
cacat,
§
Salah satu/kedua tangan atau kaki
tidak berfungsi,
§
Sikap/keseimbangan tubuh saat
duduk/berdiri, berjalan tidak normal,
§
Koordinasi gerakan kaki, tangan,
mata tidak normal,
§
Banyak gerakan yang tidak
terkontrol, menunjukkan tidak terkontrol, menunjukkan ketidaknormalan.
c.
Perbedaan interindividual
berdasarkan keadaan kemampuan komunikasi
Di Indonesia anak dengan gangguan
komunikasi termasuk di dalamnya anak dengan gangguan wicara. Menurut Hallahan
dan Kauffman ( 1991 ) gangguan komunikasi terdiri atas gangguan wicara dan
gangguan bahasa. Gangguan wicara adalah suatu kerusakan atau gangguan dari
suara, artikulasi dari bunyi dan/ atau kelancaran wicara.Jadi gangguan wicara
terdiri dari tiga macam yaitu gangguan suara, gangguan artikulasi, dan gangguan
kelancaran bicara.
Gangguan bahasa adalah gangguan dari pemahaman
dan/atau penggunaan bahasa ujaran, bahasa tulis, dan/atau sistem simbol.
Kerusakan tersebut mungkin meliputi : bentuk bahasa ( fonologi, morfologi, dan
sintaksis ), bahasa atau semantik, dan fungsi bahasa atau fragmatik. Anak yang
mengalami gangguan komunikasi biasanya menunjukkan gejala tidak lancar
berbicara, pembicaraanya sulit ditangkap,suaranya tidak normal, gagap, dan
sebagainya. Penyebabnya dapat bersifat organik dan dapat pula psikologik.
d.
Perbedaan interindividual
berdasarkan keadaan kemampuan emosi dan perilaku
Tidak ada definisi yang baku mengenai gangguan emosi
dan perilaku, tetapi cirri-ciri umum menggambarkan adanya 4 dimensi (Hallahan
dan Kauffman, 1991) sebagai berikut.
o Anak yang
mengalami gangguan perilaku, memiliki ciri-ciri antara lain suka berkelahi,
memukul, menyerang, bersifat pemarah, tidak penurut/melawan peraturan, suka
merusak baik baik milik diri sendiri maupun orang lain, kasar, tidak sopan,
tidak mau kerja sama, penentang, kurang perhatian pada orang lain, suka
mengganggu, suka ribut, mudah marah, suka mendominasi orang lain, suka
mengancam atau menggertak, iri hati, cemburu, suka bertengkar, tidak
bertanggung jawab, ceroboh, mencuri, mengacau, menolak kesalahan dan
menyalahkan orang lain, murung, cemberut, mementinkan diri sendiri.
o Anak yang
mengalami kecemasan dan menyendiri, memiliki ciri-ciri antara lain tegang, rasa
takut bersalah, cemas, pemalu, menyendiri, mengasingkan diri, tidak punya
teman, perasaan tertekan, sedih, sensitive, mudah merasa disakiti hatinya,
merasa rendah diri, merasa tidak berharga, mudah frustasi, kurang keyakinan,
pendiam.
o Anak yang
agresif sosia ciri-cirinya antara lain adalah memiliki perkumpulan yang tidak
baik, berani mencuri, loyal terhadap teman yang suka melanggar hukum, suka
begadang sampai larut malam, melarikan diri dari sekolah, melarikan dari rumah.
o Individu
yang tidak pernah dewasa ciri-cirinya antara lain adalah perhatiannya terbatas,
kurang konsentrasi, melamun, kaku, canggung, pasif, kurang inisiatif, mudah
digerakkan, lamban, ceroboh, mudah bosan, kurang tabah, kurang rapi.
Dengan melihat gejala-gejala tersebut, guru dapat
melakukan identifikasi dan kemudian memberikan layanan yang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan mereka sehingga tidak menjadi berkesulitan belajar.
e.
Perbedaan interindividual
berdasarkan keadaan prestasi belajar
Anak
berkesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi empat jenis :
1)
Anak yang sebenarnya IQ nya
rata-rata atau di atas rata-rata tetapi hasil belajarnya rendah karena factor
eksternal. Disebut sebagai anak yang mengalami hambatan belajar,
2)
Anak yang sebenarnya IQ nya
rata-rata atau di atas rata-rata tetapi mengalami kesulitan dalam bidang
akademik tertentu (mislanya membaca, menulis, berhitung) tidak seluruh mata
pelajaran, diduga karena factor neurologis, disebut sebagai anak yang mengalami
kesulitan belajar spesifik atau spesific learning disability,
3)
Anak yang prestasi belajarnya rendah
tetapi IQ nya sedikit di bawah rata-rata disebut anak yang lamban belajar atua
slow learner, dan
4)
Anak yang prestasi belajarnya rendah
disertai adanya hambatan-hambatan kmunikasi dan social, sedangkan IQ nya jauh
di bawah rata-rata disebut sebagai retardasi mental atau tunagrahita.
Pengelompokan ini penting karena pada umumnya secara
pendidikan kadang-kadang mereka memiliki gejala yang sama, ialah sama-sama
mengalami kesulitan belajar atau problema dalam belajar. Jika kita dapat
menganalisis dan mencari sumber penyebab seta dapat mengelompokkan secara
tepat, maka kita dapat memberikan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan khusus
mereka. Mengenai anak berkesulitan belajar spesifik (spesific learning
disability), juga dapat dibagi menjadi dua jenis, ialah kesulitan belajar
praakademik dan kesulitan belajar akademik.
1)
Kesulitan Belajar Praakademik
Kesulitan
belajar praakademik sering disebut juga sebagai kesulitan belajar developmental.
Ada tiga jenis anak dengan kesulitan belajar developmental :
•
Gangguan Motorik dan persepsi
Gangguan
motorik disebut dispraksia, mencakup gangguan pada motorik kasar, penghayatan
tubuh, dan motorik halus.Gangguan persepsi mencakup persepsi penglihatan atau
persepsi visual.Persepsi pendengaran atau persepsi auditorik, presepsi heptik
(raba dan gerak atau taktil dan kinestik), dan intelegensi system
persepsual.Jenis gangguan ini perlu penanganan secara sistematis karena
pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif yang pada gilirannya juga dapat
berpengaruh terhadap prestasi belajar akademik.Dispraksia atau sering disebut
clumsy adalah keadaan sebagai akibat adanya gangguan dalam intelegensi
auditor-motor.Anak tida mampu melaksanakan gerakan bagian dari tubuh dengan
benar walaupun tidak ada kelumpuhan anggota tubuh, manifestasinya dapat berupa
disfasia verbal (bicara) da non verbal (menulis, bahasa isyarat dan panomim). Ada beberapa jenis dispraksia, yaitu :
a)
Dispraksia ideomotoris ditandai
kurangnya kemampuan dalam melakukan gerakan praktis sederhana, seperti
menggunting, menggosok gigi atau menggunakan sendok makan. Gerakannya terkesan
canggung dan kurang luwes. Dispraksia ini sering merupakan kendala bagi
perkembagan bicara.
b)
Dispraksia ideosional : anak dapat
melakukan gerakan kompleks tetapi tidak mampu menyelesaikan secara keseluruhan
terutama dalam kondisi lingkungan yang tidak tenang. Kesulitannya erletak pada
urutan gerakan, anak sering bingung mengawali suatu aktivitas, misalna
mengikuti irama musik.
c)
Dispraksia konstruksinal : anak
mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan-gerakan kompleks yag berkaitan
dengan bentuk, seperti menyusun balok dan menggambar. Kondisi ini dapat
mempengaruhi gangguan menulis (disgrafia). Hal ini disebabkan dengna kebutuhan
khususan karena kegagalan dalam konsep visio konstruktif.
d) Dispraksia
oral : sering ditemukan pada anak yang mengalami disfasia perkembangan
(gangguan perkembangan bahasa). Anak mempunyai ganggaun dalam bicara karena
adanya gangguan dalam konsep gerakan motorik di dalam mulut. Berbicara
dipandang sebagai bentuk gerakan halus dan terampil dalam rongga mulut
sehinggga anak kurang mampu kalau diminta menirukan gerak, misalnya menjulurka
atau menggerakan lidah, mengembangkan pipi, mencucurkan bibir dan sebagianya.
•
Kesulitan belajar kognitif
Pengertian
kognitif mencakup berbagai aspek structural intelek yang diprgunakan untuk
mengetahui sesuatu.Dengan demikian kognitif merupakan fungsi mental yang
mencakup persepsi, pikiran, simbolisasi, penalaran dan pemcahan masalah,
perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak dalama penggunaan
bahasa dan penyelesaian soal-soal matematika. Mengingat besarnya peran fungsi
kognitif dalam penyelesaian ditangani sejak anak masih berda pada usia
prasekolah.
•
Gangguan perkembangan bahasa
Disfasia
adalah ketidakmampuan atau keterbatasan kemmpuan anak untuk menggunakan simbol
linguistik dalam rangka berkomunikasi sear vrbal. Gangguan pada anak yang
terjadi pada fase perkembangan ktika anak belajar bebicara disebut sebagai
disfasia perkembangan (develompment dysphasia). Bicara adalah bahasa verbal
yang memiliki komponen artikulasi, suara dan kelanaran, ekspresi bahasa bicara
(ujaran) mencakup enam komponen, yaitu : fonem, morfem, sintaksis, semantic,
prosodi (itosasi) dan pragmatik. Kesulitan belajar bicara seyogyanya telah
diketahui dan diperbaiki sejak anak berada pada usia prasekolah karena
berpengaruh terhadap prestasi akademik sekolah. Defisia ada dua jenis : yaitu
defisia reseptif dan defisia eksprsif. Pada defisia reseptif anak mengalami
gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata-kata yang
diucapkan, tetapi tidak mengerti apa yang diengar karena menglami gangguan
dalam memproses stimulus yang masuk. Pada defisia eksprsi anak tidak mengalami
didapat gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata secara
verbal. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak pada kemampuan
membaca dan menulis.
•
Kesulitan dalam penyesuaian perilaku
social
Pada anak
yang periakunya tidak diterima oleh lingkungan sosialnya, baik oleh seama anak,
guru, maupun orang tua.Ia ditolak oleh lingkungan sosialnya karena sering
mengganggu, tidak sopan, tidak tahu aturan atau berbagai perilaku neatif
lainnya. Jika kesulitan penyesuaian perilaku social ini tidak secepatnya
ditaangani maka tidak hanya menimbulkan kerugian bagi anak itu sendiri, tetapi
juga bagi lingkungan.
2)
Kesulitan Belajar Akademik
Meskipun
sekolah mengajarkan berbagai mata pelajaran atau bidang studi, klaisfikasi
kesulitan beljar akademik tidak dikaitkan dengan semua mata pelajaran atau
bidang studi tersbut. Berbagai literature yang mengkaji kesulitan belajar hanya
menyebutkan tiga jenis kesulitan belajar akademik sebagai berikut :
•
Kesulitan belajar membaca
(Disleksia)
Kesulitan
belajar sering disebut Disleksia. Kesulitan
belajar membaca yang berat dinamakan aleksia.Kemampuan membaca tidak hanya merupakan
dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga unutk meningkatkan
keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berprestasi dalam kehidupan
masyarakat secara bersama.Ada dua jenis pelajaran membaca, membaca permulaan
atau membaca lisan dan membaca pemhaman.Mengingat pentingnya kemampuan membaca
bagi kehidupan, kesulitan belajar membaca hendaknya ditangani sedini mungkin. Ada dua tipe disleksia, yaitu disleksia auditoris dan disleksia visual.
a)
Gejala-gejala disleksia auditoris
seabgai berikut:
o Kesulitan
dalam diskriminasi auditoris dan prsepsi sehingga mengalami kesulitan dalam
analisis fonetik. Contoh : anak tidak dapat membedakan kata “Kakak, katak,
kapak”.
o Kesulitan
analisis dan sintesis auditoris. Contoh : “ibu” tidak dapat diuraikan menjadi “I-bu” atau problem sintesa “p-I-ta” menjadi
“pita”. Gangguan ini dapat menyebabkan kesulitan membaca dan mengeja.
o Kesulitan
re-auditoris bunyi atau kata. Jika diberi hurup tidak dapat mengingat bunyi
hurup atau kata tersebut, atau kalau melihat kata tidak dapat mengungkapkannya
walaupun mengerti arti kata tersebut
o Membaca
dalam hati lebih baik dari membaca lisan;
o Kadang-kadang
disertai gangguan urutan auditoris
o Anak
enderung melakukan aktiutas visual.
b)
Gejala-gejala desleksia visual
sebagai berikut :
o Tendensi
terbalik: misalnya b dibaca d, p menjadi g, u menjadi n, m menjadi w dan
sebagainya;
o Kesulitan
diskriminasi, mengacaukan hurup atau kata yang mirip
o Kesulitan
mengikuti dan mengingat urutan visual. Bila diberi huruf cetak untuk menyusun
kata mengalami kesulitan mislanya kata ibu menjadi ubi atau iub
o Memori
visual terganggu
o Kecepatan
persepsi lambat
o kesulitan analisis
dan sintesis visual
o hasil tes
membaca buruk
o biasanya
ebih baik dalam kemampuanaktivias auditorik.
•
Kesulitan belajar menulis
(disgrafia)
Kesulitan
belajar menulis disebut juga disgrafia.Kesulitan belajar menuli yang berat
disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu
1)
menulis permulaan
2)
mengeja atau dikte
3)
menulis ekspresif.
Kegunaan
kemampuan menulis bagi seorang anak adalah untuk menyalin, mencatat, dan
mengerjakan sebagaian besar tugas sekolah.Oleh karena itu, kesulitan belajar
menulis hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan
kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di
sekolah.
•
Kesulitan belajar berhitung
(diskalkulia)
Kesulitan belajar berhitung disebut
juga diskalkulia.Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia.Ada
tiga elemen pelajaran berhitung yang harus dikuasai oleh anak.Ketiga elemen
tersebtu adalah konsep, komputasi dan pemecahan masalah.Seperti halnya bahsa
berhitung yang merupakan bagian dari matematika adalah sarana berpikir
keilmuan. Oleh karena itu, seperti halnya kesulitan belajar bahasa, kesulitan
berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan
kesulitan bagi anak dalam mepelajari lain di sekolah.
2. Perbedaan Intraindividual
Adalah suatu
perbandingan antara potensi yang ada di dalam diri indivdu itu sendiri,
perbedaan ini dapat muncul dari berbagai aspek meliputi intelektual, fisik,
psikologis, dan sosial. Selain masalah perbedaan ada beberapa terminologi yang
dapat digunakan untuk memahami anak berkebutuhan khusus. Istilah tersebut
yaitu:
-
Impairment
Merupakan
suatu keadaan atau kondisi diman individu mengalami kehilangan atau
abnormalitas psikologis, fisiologis, atau fungsi struktur anatomis secara umum
pada tingkat organ tubuh.Contoh seorang yang mengalami amputasi satu
kakinya.Maka dia mengalami kecacatan kaki.
-
Disability
Suatu
keadaan dimana individu mengalami kekurang kemampuan yang dimungkikan karena
adanya keadaan impairment seperti kecacatan pada organ tubuh. Contoh pada orang
yang cacat kakinya maka dia akan merasakan kekurangan fungsi kaki untuk
melakukan mobilitas.
-
Handicaped
Keadaan
dimana individu mengalami ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungan.Hal ini dimungkinkan karena adanya kelainan dan berkurangnya
fungsi organ individu.Contoh orang yang mengalami amputasi kaki sehingga untuk
aktivitas mobilitas atau berinteraksi dengan lingkungannya dia memerlukan kursi
roda. Dan pengajaran yang khusus.
Setiap anak berkebutuhan khusus, baik yang bersifat
permanen maupun yang temporer, memiliki hambatan belajar dan kebutuhan yang
berbeda-beda. Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak, disebabkan oleh
tiga hal yaitu: faktor lingkungan faktor dalam diri anak sendiri, dan kombinasi
antara faktor lingkungan dan faktor dalam diri anak. Oleh karena itu layanan
pendidikan didasarkan atas hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak.
Dengan kata lain pendidikan lebih berpusat kepada anak (child center), bukan
berpusat pada kurikulum dan kecacatan. Untuk memahami kebutuhan dan hambatan
belajar setiap anak, dilakukan melalui sebuah proses yang disebut assessment.
Dalam konteks pendidikan kebutuhan khusus, assessment menjadi kompetensi dasar
seorang guru.
Pendidikan kebutuhan khusus adalah layanan pendidikan
bagi anak berkebutuhan khusus baik yang bersifat permanen maupun yang temporer,
dan sangat fokus pada hambatan belajar dan kebutuhan anak secara individual
(Miriam, 2001).Pendidikan kebutuhan khusus memandang anak sebagai individu yang
khas dan utuh, keragaman dan perbedaan individu sangat dihormati.Dilihat dari
caranya memandang eksistensi seorang anak, pendidikan kebutuhan khusus (special
needs education) berbeda dengan jelas dari pendidikan khusus (special
education).Dalam pendidikan khusus (special education), yang menjadi fokus
perhatian tertuju kepada kecacatan anak (disability).Sedangkan pendidikan
kebutuhan khusus (special needs education) fokus kepada hambatan belajar dan
kebutuhan anak. Ruang lingkup garapan disiplin ilmu pendidikan kebutuhan khusus
meliputi tiga hal yaitu: Pertama, mencegah timbulnya hambatan belajar dan
hamabatan perkembangan pada setiap anak. Kedua mengkompensasikan hambatan yang
dimiliki anak dan Ketiga, menangani hambatan (intervensi).
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anak
Berkebutuhan Khusus
Menurut Alimin (2012:10) terdapat
tiga faktor yang dapat diidentifikasi sebagai sebab musabab timbulnya kebutuhan
khusus pada seorang anak yaitu:
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah kondisi yang dimiliki oleh anak
yang bersangkutan. Sebagai contoh seorang anak memiliki kebutuhan khusus dalam
belajar karena ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau tidak
mengalami kesulitan untuk begerak. Keadaan seperti itu berada pada diri anak
yang bersangkutan secara internal. Dengan kata lain hambatan yang dialami
berada di dalam diri anak yang bersangkutan.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah Sesuatu yang berada di luar
diri anak mengakibatkan anak menjadi memiliki hambatan perkembangan dan
hambatan belajar, sehingga mereka memiliki kebutuhan layanan khusus dalam
pendidikan. Sebagai contoh seorang anak yang mengalami kekerasan di rumah
tangga dalam jangka panjang mengakibatkan anak teresbut kehilangan konsentrasi,
menarik diri dan ketakutan. Akibatnya anak tidak tidak dapat belajar. Contoh lain, anak yang mengalai trauma berat karena bencana alam atau
konflik sosial/perang. Anak ini menjadi sangat ketakutan kalau bertemu dengan
orang yang belum dikenal, ketakutan jika mendengar gemuruh air yang
diasosiasikan dengan banjir besar yang pernah dialaminya. Keadaan seperti ini
menyebabkan anak tersebut mengalami hambatan dalam belajar, dan memerlukan
layanan khusus dalam pendidikan.
3. Kombinasi faktor eksternal dan internal.
Kombinasi
antara faktor eksternal dan faktor internal dapat menyebabkan terjadinya
kebutuhan khusus pada sorang anak. Kebutuhan khusus yang disebabkan oleh faktor
ekternal dan internal sekaligus diperkirakan akan anak akan memiliki kebutuhan
khusus yang lebih kompleks. Sebagai contoh seorang anak yang mengalami gangguan
pemusatan perhataian dengan hiperaktivitas dan dimiliki secara internal berada
pada lingkungan keluarga yang kedua orang tuanya tidak memerima kehadiran anak,
tercermin dari perlakuan yang diberikan kepada anak yang bersangkutan. Anak
seperti ini memiliki kebutuhan khusus akibat dari kondisi dirinya dan akibat
perlakuan orang tua yang tidak tepat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar