Minggu, 18 Desember 2016

Kelompok 1



BAB I
HAKIKAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
      Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan dan merupakan terjemahan dari child with specials needs yang telah digunakan secara luas di dunia nternasional. Ada beberapa istilah lain yang pernah digunakan diantaranya anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang dan anak luar biasa. Ada satu istilah yang berkembang secara luas telah digunakan yaitu difabel, sebenarnya merupakan pendekatan dari difference ability. Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa kosekuensi cara pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah diergunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan prestesinya. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Konsep anak berkebutuhan khusus memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian anak luar biasa. Menurut Zahidi (2014:6) “Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya”.
      Heward (dalam Zahidi, 2014:6) berpendapat bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Selanjutnya Jamaris (dalam Khadijah, 2015:3) mengungkapkan bahwa anak berkebutuhan khusus yaitu individu yang memiliki ciri-ciri khusus di dalam perkembangannya yang berbeda dari perkembangan secara normal. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.
      Oleh karena itu, anak berkebutuhan khusus (Children with special needs) dapat diartikan sebagai anak yang berbeda dari anak-anak pada umumnya, karena mereka memliki hambatan belajar dan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak yang berkebutuhan khusus. Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu:
a.    ABK yang bersifat permanen, yaitu akibat dari kelainan tertentu.
b.   ABK yang bersifat temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan yang disebabkan kondisi dan situasi lingkungan.
      Misalnya, anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri akibat kerusuhan dan bencana alam, atau tidak bisa membaca karena kekeliruan guru mengajar, anak yang mengalami kewibahasaan (perbedaan bahasa di rumah dan di sekolah), anak yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan karena isolasi budaya dank arena kemiskinan dsb. Anak berkebutuhan khusus temporer, apabila tidak mendapatkan interverensi yang tepat dan sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen.
      Anak berkebutuhan khusus (ABK) agak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus berproses dan tumbuh, tidak dengan modal fisik yang wajar, karenanya sangat wajar jika mereka terkadang cenderung memiliki sikap defensif (menghindar), rendah diri, atau mungkin agresif, dan memiliki semangat belajar yang lemah. Istilah yang berkaitan dengan ABK :
1.   Disability
berkurangnya atau hilangnya fungsi organ atau bagian tubuh tertentu. Disebut juga “impairment”. Contoh : low vision, dimana kalau membaca bisanya dengan jarak dekat dan tulisan besar. Kerusakan fungsi pendengaran.
2.   Handicap
masalah atau dampak dari kerusakan (disability atau impairment) yang dialami oleh individu ketika berinteraksi dengan lingkungan. Contoh : orang tuna netra yang tidak bisa melihat, akan sulit berjalan di lingkungan yang dia ga kenal.
3.   At Risk
anak yang meskipun tidak teridentifikasikn memilki kerusakan namun berpeluang mengalamihambatan atau masalah tertentu. Contoh : seseorang yang tidak memilki gangguan tapi dia mengalami kesulitan salm belajar.

B.  Tujuan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
      Menurut Sunan & Rizzo (1979), Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki perbedaan dalam beberapa dimensi penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka adalahyang secara fisik, psikologis, kognitif atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan / kebutuhan dan potensinya secara maksimal sehingga memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga kerja professional.
      Menurut Mangunsong (2009), ABK sebagai anak yang membutuhkan pendidikan dan layanna khusus untuk mengoptimalkan potensi kemanusiaannya secara utuh akibat adanya perbedaan kondisi dengan kebanyakan anak lainnya. Perbedaannya meliputi : ciri-ciri mental, kemampuan sendorik, fisik dan neuromuscular, perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi ataupun kombinasi 2 atau lebih dari berbagai hal tersebut. Kombinasi 2 hal tersebut dinamakan double handicap. Kombinasi 3 hal tersebut dinamakan multi handicap.                                  
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2fGx0AWEQfiFSEz7PnrsGJcoqqQsoF4pyyXSJntsFdn0nydsLQM8ZErKCIQrcsp1sG1nzm7LZpkuDh1BG8AYhA_VtFSvhisfMH-5xbHtHLwTzlDg4nkAeM6THD_LYbqONGoo9a7dCdmO0/s200/ABK.jpg       Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWVXgU2YXlprBic6V6OHhXgo0D-VCGumbF6MjNt3VwwkaQq1qzXmPzszdLDFdVq1s5OE5OGmbkjpJmrDC0d1SPbwSnyxICaqYeRCy36xKukB1xeljvRhpvIJswdIxkyjO__SoVqxnH3mDC/s200/ABK1.jpg
      Anak Berkebutuhan Khusus merupakan anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa , tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, dan  anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa. Pendidikan anak berkebutuhan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, tetapi memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.Tujuan dari Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus antara lain :
1.   Menemukan dan menitikberatkan kemampuan siswa berkebutuhan khusus
2.   Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa sebagai pribadi
3.   Mengembangkan kehidupan anak didik dan siswa sebagai anggota masyarakat
4.   Mempersiapkan siswa untuk dapat memiliki keterampilan sehingga bekal memasuki dunia kerja
5.   Mempersiapkan anak didik dan siswa untuk mengikuti pendidikan lanjutan.
Ada tiga bentuk Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus antara lain :
1.   Integrasi, dimana anak berkebutuhan khusus diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak normal di sekolah regular. Bentuk dari pendidikan ini bisa berupa berada di dalam satu kompleks sekolah namun dengan gedung dan jadwal yang berbeda atau belajar di kelas khusus dan sesekali bergabung dengan kelas reguler untuk mata pelajaran tertentu.
2.   Inklusi. Menurut Staut dan Peck, inklusi merupakan penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Anak Berkebutuhan Khusus ditempatkan sepenuhnya di kelas reguler.
3.   Segregasi, dimana anak berkebutuhan khusus belajar dalam lingkungan anak berkebutuhan khusus juga. Misalnya: TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB.

C. Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus
      Untuk memahami anak berkebutuhan khusus berarti kita harus melihat adanya berbagai perbedaan bila dibandingkan dengan keadaan normal, mulai dari keadaan fisik sampai mental,dari anak cacat sampai anak berbakat intelektual.Untuk memahami anak berkebutuhan khusus dikenal ada dua hal yaitu perbedaan interindividual dan perbedaan intraindividual.
1.      Perbedaan Interindividual
Berarti membandingkan perbedaan individu dengan orang lain dalam berbagai hal diantaranya perbedaan keadaan mental (kapasitas kemampuan intelektual), kemampuan panca indera (sensory), kemampuan gerak motorik, kemampuan komunikasi, kemampuan perilaku, dan keadaan fisik.
a.    Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan panca indera
1)   Anak dengan gangguan penglihatan
Dengan menggunakan ukuran ketajaman penglihatan, seseorang disebut buta apabila ia memiliki tingkat efisiensi penglihatan 20,0 % atau lebih kecil. Yang tingkat efisiensinya lebih besar dari 20,0 % belum diktegorikan sebagai buta. Tunanetra mengandung arti ketunaan penglihatan mulai dari yang ringan sampai yang buta total. Untuk mengenal apakah anak mengalami gangguan penglihatan, dapat dilihat dari ciri-ciri fisik, perilaku maupun keluhan.
§  Ciri fisik, seperti : mata juling, sering berkedip, menyipitkan mata, kelopak mata merah, mata infeksi,gerakan mata takberaturan (goyang), mata selalu beair
·      Ciri perilaku, seperti : membaca terlalu dekat, membaca banyak yang terlewati,cepat lelah ketika membaca/menulis, sering menggerakan kepala ketika membaca, mengeryitkan kepala ketika melihat papan tulis, seing mengusap mata, mendongakkan kepala, berjalan sering menabrak benda di depannya, salah menyalin dalamjarak dekat, dsb.
·      Ciri keluhan, seperti : merasa sakit kepala, sulit melihat dengan jelas dari jarak jauh, penglihatan terasa kabur ketika membaca/menulis, benda terlihat seperti dua buah, mata sering terasa gatal.
Dampak gangguan penglihatan bermacam-macam.Jika gangguan cukup ringan, mungkin dengan alat Bantu khusus (seperti kaca mata, loop, atau memperbesar huruf, penempatan tempat duduk) dapat sedikit membantu mengatasi masalah belajar anak.Tetapi, untuk gangguan yang sangat serius (sudah samapai tarap buta tentu mereka tidak dapat mengikuti pendidikan biasa tanpa bantuan layanan khusus.Mereka tidak lagi menggunakan huruf biasa di dalam belajar.Mereka sudah harus menggunakan huruf Braille. Guru perlu mengenal mereka agar sejak dini anak yang mengalami gangguan penglihatan dapat terlayani secara optimal, baik secara medis, sosial, psikologis, maupun pendidikan, sehingga tidak menimbulkan kesulitan belajar pada diri anak dikemudian hari.
2)   Anak dengan gangguan pendengaran
Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kebutuhan khusus oleh kerusakan fungsi dari sebagian atau seluruh alat atau organ-organ pendengaran, dapat diketahui dengan menggunakan alat ukur tertentu (audiometer).Dengan menggungkapkan ciri fisik dan perilaku anak, seorang anak dideteksi apakah mengalami gangguan pendengaran gangguan atau tidak. Ciri-ciri tersebut, antara lain : sering keluar cairan dari liang telinga, bentuk daun telinga tidak normal, sering mengeluh atau gatal di lubang telinga, kalau berbicara selalu melihat gerakan bibir lawan bicara, sering tidak bereaksi jika diajak bicara kurang keras selalu minta diulang dalam pembicaraan, dan sebagainya.

3)   Anak dengan kelainan autistic
Perlunya penanganan khusus bagi anak autis termasuk perkembangan baru dalam bidang pendidikan luar biasa.Mereka umumnya dikatagorikan sebagai anak dengan gangguan tunagrahita dan karenanya penanganannya sering dijadikan satu dengan anak tunagrahita.Namun dalam perkembangan ternyata penyandang autis tidak selalu mengalami anagrahita.Oleh karena itu dipandang perlu untuk dijadikan katagori tersendiri sebagai anak yang mengalami kesulitan belajar. Ciri-ciri umum anak dengan kelainan autistik antara lain adalah :
·      Sering berkata tanpa arti.
·      Sering menirukan perkataan orang lain secara spontan.Tanpa mengerti apa yang dibaca.
·      Gerakan/aktivitas kaku, menonton dan berulang.
·      Sering memutar, membanting dan membariskan benda.
·      Lebih tertarik pada benda mati daripada orang.
·      Mempunyai gerakan serba cepat (hiperaktif)
·      Sering berprilaku stereotipik (diulang-ulang), aneh tanpa tujuan.
·      Minat terhadap objek tertentu secara luar biasa dan tidak lazim misal detik jam, kipas angin.
·      Kadangkala agresif (menyerang, merusak).
·      Sulit konsentrasi pada aktivitas/objek tertentu.
·      Sering sulit tidur, ngompol atau ngebrok.
·      Tidak senang/mudah marah pada perubahan (letak barang di kamar, urutan kegiatan).
·      Sering berubah emosi mendadak tanpa sebab (dari sedih kegembira, atau sebaliknya).
·      Sering terjadi ledakan tawa atau tangis tanpa sebab.


b.   Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan fisik dan kemampuan gerak motoric
Ada dua kategori cacat tubuh, yaitu cacat anggota tubuh karena penyakit polio dan cacat tubuh karena kerusakan otak sehingga mengakibatkan ketidak mampuan gerak ( cerebral palsy ). Pada dasarnya cerebral palsy merupakan gangguan koordinasi otot. Ototnya sendiri sebenarnya normal, tetapi otak mengalami gangguan dalam mengirimkan sinyal-sinyal yang penting untuk memerintah otot-otot untuk memendek atau memanjang atau harus meregang ( Puseschel ,1988 ) Anak-anak semacam ini masih dapat belajar dengan menggunakan semua inderanya. Tingkat intelektualnya umumnya normal bahkan ada yang sedikit diatas kesulitan jika harus melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan koordinasi motorik dan/atau keterampilan fisik, seperti olahraga, bermain, menulis, malakukan mobilitas, dan sebagainya. Ciri-ciri gangguan gerakan karena kerusakan otak ( cerebral palsy ) antara lain sebagai berikut :
§  otot keras dan kadang-kadang kaku serta tidak dapat menggerakkan anggota tubuh dengan baik, gerakannya sering tersentak-sentak.
§  Sukar mengontrol kaki dan tangan dalam melakukan aktivitas, wajah seram dan kadang dengan mengulurkan lidah
§  Kekakuan dalam gerakan yang memerlukan keseimbangan, orientasi ruang, posisi tubuh mudah jatuh;
§  Kakakuan yang ekstrem pada anggota tubuh dan sendi-sendi dan sukar bergerak untuk waktu yang lama.
Anak yang mengalami gangguan gerakan pada taraf sedang dan berat, umumnya dimasukkan ke sekolah luar biasa ( SLB ). Yang mengalami gangguan ringan mungkin banyak juga ditemukan di sekolah-sekolah umum.Jika mereka tidak mendapatkan bantuan pelayanan khusus dapat menyebab anak kebutuhan khusus terjadinya kesulitan belajar yang serius. Gejala-gejala gangguan gerakan ringan pada anak seperti berikut: ini mungkin perlu di cermati dan diberi perhatian yang lebih serius yaitu:
§  Salah satu/kedua tangan atau kaki cacat,
§  Salah satu/kedua tangan atau kaki tidak berfungsi,
§  Sikap/keseimbangan tubuh saat duduk/berdiri, berjalan tidak normal,
§  Koordinasi gerakan kaki, tangan, mata tidak normal,
§  Banyak gerakan yang tidak terkontrol, menunjukkan tidak terkontrol, menunjukkan ketidaknormalan.
c.          Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan kemampuan komunikasi
Di Indonesia anak dengan gangguan komunikasi termasuk di dalamnya anak dengan gangguan wicara. Menurut Hallahan dan Kauffman ( 1991 ) gangguan komunikasi terdiri atas gangguan wicara dan gangguan bahasa. Gangguan wicara adalah suatu kerusakan atau gangguan dari suara, artikulasi dari bunyi dan/ atau kelancaran wicara.Jadi gangguan wicara terdiri dari tiga macam yaitu gangguan suara, gangguan artikulasi, dan gangguan kelancaran bicara.
Gangguan bahasa adalah gangguan dari pemahaman dan/atau penggunaan bahasa ujaran, bahasa tulis, dan/atau sistem simbol. Kerusakan tersebut mungkin meliputi : bentuk bahasa ( fonologi, morfologi, dan sintaksis ), bahasa atau semantik, dan fungsi bahasa atau fragmatik. Anak yang mengalami gangguan komunikasi biasanya menunjukkan gejala tidak lancar berbicara, pembicaraanya sulit ditangkap,suaranya tidak normal, gagap, dan sebagainya. Penyebabnya dapat bersifat organik dan dapat pula psikologik.
d.   Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan kemampuan emosi dan perilaku
Tidak ada definisi yang baku mengenai gangguan emosi dan perilaku, tetapi cirri-ciri umum menggambarkan adanya 4 dimensi (Hallahan dan Kauffman, 1991) sebagai berikut.
o  Anak yang mengalami gangguan perilaku, memiliki ciri-ciri antara lain suka berkelahi, memukul, menyerang, bersifat pemarah, tidak penurut/melawan peraturan, suka merusak baik baik milik diri sendiri maupun orang lain, kasar, tidak sopan, tidak mau kerja sama, penentang, kurang perhatian pada orang lain, suka mengganggu, suka ribut, mudah marah, suka mendominasi orang lain, suka mengancam atau menggertak, iri hati, cemburu, suka bertengkar, tidak bertanggung jawab, ceroboh, mencuri, mengacau, menolak kesalahan dan menyalahkan orang lain, murung, cemberut, mementinkan diri sendiri.
o  Anak yang mengalami kecemasan dan menyendiri, memiliki ciri-ciri antara lain tegang, rasa takut bersalah, cemas, pemalu, menyendiri, mengasingkan diri, tidak punya teman, perasaan tertekan, sedih, sensitive, mudah merasa disakiti hatinya, merasa rendah diri, merasa tidak berharga, mudah frustasi, kurang keyakinan, pendiam.
o  Anak yang agresif sosia ciri-cirinya antara lain adalah memiliki perkumpulan yang tidak baik, berani mencuri, loyal terhadap teman yang suka melanggar hukum, suka begadang sampai larut malam, melarikan diri dari sekolah, melarikan dari rumah.
o  Individu yang tidak pernah dewasa ciri-cirinya antara lain adalah perhatiannya terbatas, kurang konsentrasi, melamun, kaku, canggung, pasif, kurang inisiatif, mudah digerakkan, lamban, ceroboh, mudah bosan, kurang tabah, kurang rapi.
Dengan melihat gejala-gejala tersebut, guru dapat melakukan identifikasi dan kemudian memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka sehingga tidak menjadi berkesulitan belajar.
e.                                                          Perbedaan interindividual berdasarkan keadaan prestasi belajar
Anak berkesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi empat jenis :
1)      Anak yang sebenarnya IQ nya rata-rata atau di atas rata-rata tetapi hasil belajarnya rendah karena factor eksternal. Disebut sebagai anak yang mengalami hambatan belajar,
2)      Anak yang sebenarnya IQ nya rata-rata atau di atas rata-rata tetapi mengalami kesulitan dalam bidang akademik tertentu (mislanya membaca, menulis, berhitung) tidak seluruh mata pelajaran, diduga karena factor neurologis, disebut sebagai anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik atau spesific learning disability,
3)      Anak yang prestasi belajarnya rendah tetapi IQ nya sedikit di bawah rata-rata disebut anak yang lamban belajar atua slow learner, dan
4)      Anak yang prestasi belajarnya rendah disertai adanya hambatan-hambatan kmunikasi dan social, sedangkan IQ nya jauh di bawah rata-rata disebut sebagai retardasi mental atau tunagrahita.
Pengelompokan ini penting karena pada umumnya secara pendidikan kadang-kadang mereka memiliki gejala yang sama, ialah sama-sama mengalami kesulitan belajar atau problema dalam belajar. Jika kita dapat menganalisis dan mencari sumber penyebab seta dapat mengelompokkan secara tepat, maka kita dapat memberikan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. Mengenai anak berkesulitan belajar spesifik (spesific learning disability), juga dapat dibagi menjadi dua jenis, ialah kesulitan belajar praakademik dan kesulitan belajar akademik.
1)   Kesulitan Belajar Praakademik
Kesulitan belajar praakademik sering disebut juga sebagai kesulitan belajar developmental. Ada tiga jenis anak dengan kesulitan belajar developmental :
   Gangguan Motorik dan persepsi
Gangguan motorik disebut dispraksia, mencakup gangguan pada motorik kasar, penghayatan tubuh, dan motorik halus.Gangguan persepsi mencakup persepsi penglihatan atau persepsi visual.Persepsi pendengaran atau persepsi auditorik, presepsi heptik (raba dan gerak atau taktil dan kinestik), dan intelegensi system persepsual.Jenis gangguan ini perlu penanganan secara sistematis karena pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif yang pada gilirannya juga dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar akademik.Dispraksia atau sering disebut clumsy adalah keadaan sebagai akibat adanya gangguan dalam intelegensi auditor-motor.Anak tida mampu melaksanakan gerakan bagian dari tubuh dengan benar walaupun tidak ada kelumpuhan anggota tubuh, manifestasinya dapat berupa disfasia verbal (bicara) da non verbal (menulis, bahasa isyarat dan panomim). Ada beberapa jenis dispraksia, yaitu :
a)   Dispraksia ideomotoris ditandai kurangnya kemampuan dalam melakukan gerakan praktis sederhana, seperti menggunting, menggosok gigi atau menggunakan sendok makan. Gerakannya terkesan canggung dan kurang luwes. Dispraksia ini sering merupakan kendala bagi perkembagan bicara.
b)   Dispraksia ideosional : anak dapat melakukan gerakan kompleks tetapi tidak mampu menyelesaikan secara keseluruhan terutama dalam kondisi lingkungan yang tidak tenang. Kesulitannya erletak pada urutan gerakan, anak sering bingung mengawali suatu aktivitas, misalna mengikuti irama musik.
c)   Dispraksia konstruksinal : anak mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan-gerakan kompleks yag berkaitan dengan bentuk, seperti menyusun balok dan menggambar. Kondisi ini dapat mempengaruhi gangguan menulis (disgrafia). Hal ini disebabkan dengna kebutuhan khususan karena kegagalan dalam konsep visio konstruktif.
d)  Dispraksia oral : sering ditemukan pada anak yang mengalami disfasia perkembangan (gangguan perkembangan bahasa). Anak mempunyai ganggaun dalam bicara karena adanya gangguan dalam konsep gerakan motorik di dalam mulut. Berbicara dipandang sebagai bentuk gerakan halus dan terampil dalam rongga mulut sehinggga anak kurang mampu kalau diminta menirukan gerak, misalnya menjulurka atau menggerakan lidah, mengembangkan pipi, mencucurkan bibir dan sebagianya.
    Kesulitan belajar kognitif
Pengertian kognitif mencakup berbagai aspek structural intelek yang diprgunakan untuk mengetahui sesuatu.Dengan demikian kognitif merupakan fungsi mental yang mencakup persepsi, pikiran, simbolisasi, penalaran dan pemcahan masalah, perwujudan fungsi kognitif dapat dilihat dari kemampuan anak dalama penggunaan bahasa dan penyelesaian soal-soal matematika. Mengingat besarnya peran fungsi kognitif dalam penyelesaian ditangani sejak anak masih berda pada usia prasekolah.
   Gangguan perkembangan bahasa
Disfasia adalah ketidakmampuan atau keterbatasan kemmpuan anak untuk menggunakan simbol linguistik dalam rangka berkomunikasi sear vrbal. Gangguan pada anak yang terjadi pada fase perkembangan ktika anak belajar bebicara disebut sebagai disfasia perkembangan (develompment dysphasia). Bicara adalah bahasa verbal yang memiliki komponen artikulasi, suara dan kelanaran, ekspresi bahasa bicara (ujaran) mencakup enam komponen, yaitu : fonem, morfem, sintaksis, semantic, prosodi (itosasi) dan pragmatik. Kesulitan belajar bicara seyogyanya telah diketahui dan diperbaiki sejak anak berada pada usia prasekolah karena berpengaruh terhadap prestasi akademik sekolah. Defisia ada dua jenis : yaitu defisia reseptif dan defisia eksprsif. Pada defisia reseptif anak mengalami gangguan pemahaman dalam penerimaan bahasa. Anak dapat mendengar kata-kata yang diucapkan, tetapi tidak mengerti apa yang diengar karena menglami gangguan dalam memproses stimulus yang masuk. Pada defisia eksprsi anak tidak mengalami didapat gangguan pemahaman bahasa, tetapi ia sulit mengekspresikan kata secara verbal. Anak dengan gangguan perkembangan bahasa akan berdampak pada kemampuan membaca dan menulis.
    Kesulitan dalam penyesuaian perilaku social
Pada anak yang periakunya tidak diterima oleh lingkungan sosialnya, baik oleh seama anak, guru, maupun orang tua.Ia ditolak oleh lingkungan sosialnya karena sering mengganggu, tidak sopan, tidak tahu aturan atau berbagai perilaku neatif lainnya. Jika kesulitan penyesuaian perilaku social ini tidak secepatnya ditaangani maka tidak hanya menimbulkan kerugian bagi anak itu sendiri, tetapi juga bagi lingkungan.
2)   Kesulitan Belajar Akademik
Meskipun sekolah mengajarkan berbagai mata pelajaran atau bidang studi, klaisfikasi kesulitan beljar akademik tidak dikaitkan dengan semua mata pelajaran atau bidang studi tersbut. Berbagai literature yang mengkaji kesulitan belajar hanya menyebutkan tiga jenis kesulitan belajar akademik sebagai berikut :
   Kesulitan belajar membaca (Disleksia)
Kesulitan belajar sering disebut Disleksia. Kesulitan belajar membaca yang berat dinamakan aleksia.Kemampuan membaca tidak hanya merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga unutk meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berprestasi dalam kehidupan masyarakat secara bersama.Ada dua jenis pelajaran membaca, membaca permulaan atau membaca lisan dan membaca pemhaman.Mengingat pentingnya kemampuan membaca bagi kehidupan, kesulitan belajar membaca hendaknya ditangani sedini mungkin. Ada dua tipe disleksia, yaitu disleksia auditoris dan disleksia visual.
a)                                                         Gejala-gejala disleksia auditoris seabgai berikut:
o  Kesulitan dalam diskriminasi auditoris dan prsepsi sehingga mengalami kesulitan dalam analisis fonetik. Contoh : anak tidak dapat membedakan kata “Kakak, katak, kapak”.
o  Kesulitan analisis dan sintesis auditoris. Contoh : “ibu” tidak dapat diuraikan menjadi  “I-bu” atau problem sintesa “p-I-ta” menjadi “pita”. Gangguan ini dapat menyebabkan kesulitan membaca dan mengeja.
o  Kesulitan re-auditoris bunyi atau kata. Jika diberi hurup tidak dapat mengingat bunyi hurup atau kata tersebut, atau kalau melihat kata tidak dapat mengungkapkannya walaupun mengerti arti kata tersebut
o  Membaca dalam hati lebih baik dari membaca lisan;
o   Kadang-kadang disertai gangguan urutan auditoris
o  Anak enderung melakukan aktiutas visual.
b)                                                         Gejala-gejala desleksia visual sebagai berikut :
o  Tendensi terbalik: misalnya b dibaca d, p menjadi g, u menjadi n, m menjadi w dan sebagainya;
o  Kesulitan diskriminasi, mengacaukan hurup atau kata yang mirip
o  Kesulitan mengikuti dan mengingat urutan visual. Bila diberi huruf cetak untuk menyusun kata mengalami kesulitan mislanya kata ibu menjadi ubi atau iub
o  Memori visual terganggu
o  Kecepatan persepsi lambat
o  kesulitan analisis dan sintesis visual
o  hasil tes membaca buruk
o  biasanya ebih baik dalam kemampuanaktivias auditorik.
   Kesulitan belajar menulis (disgrafia)
Kesulitan belajar menulis disebut juga disgrafia.Kesulitan belajar menuli yang berat disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu
1)   menulis permulaan
2)   mengeja atau dikte
3)   menulis ekspresif.
Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang anak adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagaian besar tugas sekolah.Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
    Kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)
Kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia.Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia.Ada tiga elemen pelajaran berhitung yang harus dikuasai oleh anak.Ketiga elemen tersebtu adalah konsep, komputasi dan pemecahan masalah.Seperti halnya bahsa berhitung yang merupakan bagian dari matematika adalah sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, seperti halnya kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mepelajari lain di sekolah.
2.   Perbedaan Intraindividual
Adalah suatu perbandingan antara potensi yang ada di dalam diri indivdu itu sendiri, perbedaan ini dapat muncul dari berbagai aspek meliputi intelektual, fisik, psikologis, dan sosial. Selain masalah perbedaan ada beberapa terminologi yang dapat digunakan untuk memahami anak berkebutuhan khusus. Istilah tersebut yaitu:
-     Impairment
Merupakan suatu keadaan atau kondisi diman individu mengalami kehilangan atau abnormalitas psikologis, fisiologis, atau fungsi struktur anatomis secara umum pada tingkat organ tubuh.Contoh seorang yang mengalami amputasi satu kakinya.Maka dia mengalami kecacatan kaki.
-     Disability
Suatu keadaan dimana individu mengalami kekurang kemampuan yang dimungkikan karena adanya keadaan impairment seperti kecacatan pada organ tubuh. Contoh pada orang yang cacat kakinya maka dia akan merasakan kekurangan fungsi kaki untuk melakukan mobilitas.
-     Handicaped
Keadaan dimana individu mengalami ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan.Hal ini dimungkinkan karena adanya kelainan dan berkurangnya fungsi organ individu.Contoh orang yang mengalami amputasi kaki sehingga untuk aktivitas mobilitas atau berinteraksi dengan lingkungannya dia memerlukan kursi roda. Dan pengajaran yang khusus.
      Setiap anak berkebutuhan khusus, baik yang bersifat permanen maupun yang temporer, memiliki hambatan belajar dan kebutuhan yang berbeda-beda. Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak, disebabkan oleh tiga hal yaitu: faktor lingkungan faktor dalam diri anak sendiri, dan kombinasi antara faktor lingkungan dan faktor dalam diri anak. Oleh karena itu layanan pendidikan didasarkan atas hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak. Dengan kata lain pendidikan lebih berpusat kepada anak (child center), bukan berpusat pada kurikulum dan kecacatan. Untuk memahami kebutuhan dan hambatan belajar setiap anak, dilakukan melalui sebuah proses yang disebut assessment. Dalam konteks pendidikan kebutuhan khusus, assessment menjadi kompetensi dasar seorang guru.
      Pendidikan kebutuhan khusus adalah layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus baik yang bersifat permanen maupun yang temporer, dan sangat fokus pada hambatan belajar dan kebutuhan anak secara individual (Miriam, 2001).Pendidikan kebutuhan khusus memandang anak sebagai individu yang khas dan utuh, keragaman dan perbedaan individu sangat dihormati.Dilihat dari caranya memandang eksistensi seorang anak, pendidikan kebutuhan khusus (special needs education) berbeda dengan jelas dari pendidikan khusus (special education).Dalam pendidikan khusus (special education), yang menjadi fokus perhatian tertuju kepada kecacatan anak (disability).Sedangkan pendidikan kebutuhan khusus (special needs education) fokus kepada hambatan belajar dan kebutuhan anak. Ruang lingkup garapan disiplin ilmu pendidikan kebutuhan khusus meliputi tiga hal yaitu: Pertama, mencegah timbulnya hambatan belajar dan hamabatan perkembangan pada setiap anak. Kedua mengkompensasikan hambatan yang dimiliki anak dan Ketiga, menangani hambatan (intervensi).

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anak Berkebutuhan Khusus
Menurut Alimin (2012:10) terdapat tiga faktor yang dapat diidentifikasi sebagai sebab musabab timbulnya kebutuhan khusus pada seorang anak yaitu:
1.   Faktor Internal
Faktor internal adalah kondisi yang dimiliki oleh anak yang bersangkutan. Sebagai contoh seorang anak memiliki kebutuhan khusus dalam belajar karena ia tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, atau tidak mengalami kesulitan untuk begerak. Keadaan seperti itu berada pada diri anak yang bersangkutan secara internal. Dengan kata lain hambatan yang dialami berada di dalam diri anak yang bersangkutan.
2.   Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah Sesuatu yang berada di luar diri anak mengakibatkan anak menjadi memiliki hambatan perkembangan dan hambatan belajar, sehingga mereka memiliki kebutuhan layanan khusus dalam pendidikan. Sebagai contoh seorang anak yang mengalami kekerasan di rumah tangga dalam jangka panjang mengakibatkan anak teresbut kehilangan konsentrasi, menarik diri dan ketakutan. Akibatnya anak tidak tidak dapat belajar. Contoh lain, anak yang mengalai trauma berat karena bencana alam atau konflik sosial/perang. Anak ini menjadi sangat ketakutan kalau bertemu dengan orang yang belum dikenal, ketakutan jika mendengar gemuruh air yang diasosiasikan dengan banjir besar yang pernah dialaminya. Keadaan seperti ini menyebabkan anak tersebut mengalami hambatan dalam belajar, dan memerlukan layanan khusus dalam pendidikan.
3.   Kombinasi faktor eksternal dan internal.
Kombinasi antara faktor eksternal dan faktor internal dapat menyebabkan terjadinya kebutuhan khusus pada sorang anak. Kebutuhan khusus yang disebabkan oleh faktor ekternal dan internal sekaligus diperkirakan akan anak akan memiliki kebutuhan khusus yang lebih kompleks. Sebagai contoh seorang anak yang mengalami gangguan pemusatan perhataian dengan hiperaktivitas dan dimiliki secara internal berada pada lingkungan keluarga yang kedua orang tuanya tidak memerima kehadiran anak, tercermin dari perlakuan yang diberikan kepada anak yang bersangkutan. Anak seperti ini memiliki kebutuhan khusus akibat dari kondisi dirinya dan akibat perlakuan orang tua yang tidak tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar