BAB IX
KARAKTERISTIK
ANAK BERKELAINAN MENTAL DAN AKADEMIK
A.
Karakteristik Anak Berkelainan Mental Emosional
Anak berkebutuhan khusus yang mengalami
kelainan mental-emosional, yaitu anak tunagrahita, dan tunalaras.
1.
Karakteristik Tunagrahita
Karakteristik anak tunagrahita, yang lebih
spesifik berdasarkan berat ringannya kelainan dapat dikemukakan sebagai
berikut:
a. Mampu didik
Merupakan istilah pendidikan yang
digunakan untuk mengelompokan tunagrahita ringan. Mampu didik memiliki
kapasitas intelegensi antara 50-70 pada skala Binet maupun Weschler. Anak mampu
didik kemampuan maksimalnya setara dengan anak usia 12 tahun atau kelas 6
sekolah dasar, apabila mendapat pelayanan dan bimbingan belajar yang sesuai
maka anak mampu didik dapat lulus Sekolah dasar. Tunagrahita mampu didik
umumnya tidak disertai dengan kelainan fisik baik sensori maupun motoris,
sehingga kesan lahiriah anak mampudidik tidak berbeda dengan anak normal
sebaya, bahkan sering anak mampu didik dikenal dengan terbelakang mental 6 jam,
hal ini dikarenakan anak terlihat terbelakang mental sewaktu mengiuti pelajaran
akademik di sekolah saja, yang mana jam sekolah adalah 6 jam setiap hari.
b. Mampu latih
Tunagrahita mampu latih secara fisik
sering memiliki atau diserati dengan kelainan fisik baik sensori maupun
motoris, bahkan hampir semua anak yang memiliki kelainan dengan tipe klinik
masuk dalam kelompok mampu latih sehingga sangat mudah untuk mendeteksi anak
mampu latih, karena penampilan fisiknya (kesan lahiriah) berbeda dengan anak
normal sebaya. Anak mampu latih memiliki kapasitas intelegensi (IQ) berkisar
30-50, kemampuan tertingginya setara dengan anak normal usia 8 tahun atau kelas
2 SD. Kemampuan akademik anak mampulatih tidak dapat mengikuti pelajaran yang
bersifat akademik walaupun secara sederhana seperti membaca, menulis dan
berhitung. Anak mampu latih hanya mampu dilatih dalam keterampilan mengurus
diri sendiri dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
c. Perlu rawat
Anak perlu rawal adalah klasifikasi
anak tunagrahita yang paling berat, jika pada istilah kedokteran disebut dengan
idiot Anak perlu rawat memiliki kapasitas inteligensi di bawah 25 dan sudah
tidak mampu dilatih keterampilan. Anak ini hanya mampu dilatih pembiasaan
(conditioning) dalam kehidupan sehiri-hari. Seumur hidupnya tidak dapat lepas
dari orang lain.
Klasifikasi Anak Tunagrahita
1)
Klasifikasi berpandangan medis dari keadaan tipe klinis.
Tipe klinis pada tanda anatomik dan fisiologik yang mengalami patologik,
diantaranya:
a)
Down Syndrome (dahulu Mongoloid)
Terlihat raut rupanya menyerupai
orang Mongol dengan ciri:
-
Mata sipit dan miring
-
Lidah tebal dan terbelah-belah serta biasanya menjulur
keluar
-
Telinga kecil
-
Tangan kering
-
Semakin dewasa kulitnya kasar
-
Pipi bulat
-
Bibir tebal dan besar
-
Tangan bulat dan lemah, kecil
-
Tulang tengkorak dari muka hingga belakang tampak pendek
b)
Kretin
Tampak seperti orang cebol dengan
ciri:
- Badan pendek
- Kaki tangan pendek
- Kulit kering, tebal, keriput
- Rambut kering
- Kuku pendek dan tebal
c)
Hydrocephalus
Gejala
yang nampak semakin membesarnya Cranium (tengkorak kepala) yang disebabkan oleh
makin bertambahnyacairan Cerebrospinal pada kepala. Cairan ini memberi tekanan
pada otak besar yang menyebaban kemunduran fungsi otak.
d)
Microcephalus, Macrocephalus, Brachicephalus, dan
Schaphocephalus
- Microcephalus: bentuk ukuran kepala
yang kecil
- Macrocephalus: bentuk ukuran kepala
lebih besar dari ukuran normal
- Brachicephalus: bentuk kepala yang
melebar
- Schaphocephalus: ukran kepala yang
panjang menyerupai menara
e)
Cerebral Palsy
Kelumpuhan
pada otak yang mengganggu kecerdasan, pusat koordinasi gerak
f)
Rusak otak
Kerusakan
otak berpengaruh terhadap berbagai kemampuan yang dikendalikan oleh pusat susunan
syaraf yang dapat terjadi gangguan keerdasan, pengamatan, tingkah laku,
perhatian dan motorik
2) Klasifikasi
yang berpandangan pendidikan, memandang variasi anak tunagrahita dalam
kemampuannya mengikuti pendidikan. Kalangan American Education (Moh. Amin,
1995:21) mengelompokkan menjadi Educable
mentally retarded, trainable mentally retarded and Totally / costudial
dependent yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : mampu didik, mampu
latih, dan perlu rawat. Pengelompokan tersebut sebagai berikut :
a. Mampu didik,
anak ini setingkat mild, borderline,
marginally dependent, moron, dan debil. IQ mereka berkisar 50/55-70/75.
b. Mampu latih, setingkat dengan morderate, semi dependent, imbesil, dan
memiliki tingkat kecerdasan IQ berkisar 20/25-50/55.
c. Perlu rawat,
mereka termasuk totally dependent or
profoundly mentally retarded, severe, idiot, dan tingkat kecerdasannya
0/5-20/25.
3) Klasifikasi yang berpandangan
sosiologis memandang variasi tunagrahita dalam kemampuannya mandiri di
masyarakat, atau peran yang dapat dilakukannya dalam masyarakat. Menurut AAMD
(Amin, 1995:22-24) klasifikasi itu sebagai berikut :
a. Tunagrahita
ringan, tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar 50-70, dalam penyelesaian diri
pada lingkungan social yang lebih luas dan mampu melakukan pekerjaan setingkat
semi terampil.
b. Tunagrahita
sedang, tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar antara 30-50, mampu melakukan
keterampilan mengurus diri sendiri (self-help), mampu mengadakan adaptasi
social dilingkungan terdekat, dan mampu mengerjakan pekerjaan yang rutin yang
perlu pengawasan atau bekerja ditempat kerja terlindung (sheltered work shop).
c. Tunagrahita
berat dan sangat berat, mereka sepanjang hidupnya selalu tergantung bantuan dan
perawatan orang lain. Ada yang masih mampu dilatih mengurus sendiri dan komunikasi
secara sederhana dan dalam batas tertentu, mereka memiliki tingkat kecerdasan
(IQ) kurang dari 30.
4) Klasifikasi
yang dikemukakan oleh Leo Kanner (Amin, 1995:22-24), dan ditinjau dari sudut
tingkat pandangan masyarakat sebagai berikut :
a. Tunagrahita absolute, termasuk kelompok tunagrahita
yang jelas nampak ketunagrahitaannya baik berada di pedesaan maupun perkotaan,
dimasyarakat petani, maupun masyarakat industry, di lingkungan sekolah,
lingkungan keluarga dan di tempat pekerjaan. Golongan ini penyandang
tunagrahita kategori sedang.
b. Tunagrahita relative, termasuk kelompok tunagrahita
yang dalam masyarakat tertentu dianggap tunagrahita, tetapi di tempat
masyarakat lain tidak dipandangtunagrahita. Anak tunagrahita dianggap demikian
adalah anak tunagrahita ringan karena masyarakat perkotaan yang maju dianggap
tunagrahita dan di masyarakat pedesaan yang masih terbelakang dipandang bukan
tunagrahita.
c. Tunagrahita semu (pseudo mentally
retarded) yaitu anak tunagrahita yang menunjukkan penampilan sebagai penyandang
tunagrahita tetapi sesungguhnya ia mempunyai kapasitas kemampuan yang normal.
Misalnya seorang anak dikirim ke sekolah khusus karena menurut kasil tes
kecerdasannya rendah, tetapi setelah mendapat pengejaran remedial dan bimbingan
khusus menjadikan kemampuan belajar dan adaptasi sosialnya normal.
5) Klasifikasi
menurut kecerdasan (IQ), dikemukakan oleh Grosman (Hallahan & Kauffman,
1988:48) sebagai berikut :
|
TERM
|
IQ RANGE FOR LEVEL
|
|
Mild Mental Retardation
Moderate Mental Retardation
Severe Mental Retardation
Profound Mental Retardation
|
55-70 to Aprox, 70
35-40 to 50-55
20-25 to 35-40
Bellow 20 or 25
|
6) James D Page
yang dikutip oleh Suhaeri H.N (Amin: 1995) menguraikan karakteristik anak
tunagrahita sebagai berikut:
a. Kecerdasan.
Kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak.
Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rote-learning) bukan
dengan pengertian.
b. Sosial.
Dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara, dan memimpin diri.
Ketika masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus, disingkirkan dari
bahaya, dan diawasi waktu bermain dengan anak lain.
c. Fungsi-fungsi
mental lain. Mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, pelupa dan sukar
mengungkapkan kembali suatu ingatan. Mereka menghindari berpikir, kurang mampu
membuat asosiasi dan sukar membuat kreasi baru.
d. Dorongan dan
emosi. Perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai
dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing. Kehidupan emosinya lemah, mereka
jarang menghayati perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.
e. Organisme. Struktur dan fungsi organisme pada
anak tunagrahita umumnya kurang dari anak normal. Dapat berjalan dan berbicara
diusia yang lebih tua dari anak normal. Sikap dan gerakannya kurang indah,
bahkan di antaranya banyak yang mengalami cacat bicara.
2.
Karakteristik Tunalaras
Anak
tunalaras adalah anak-anak yang mengalami gangguan perilaku, yang ditunjukkan
dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun dalam
lingkungan sosialnya. Pada hakekatnya, anak-anak tunalaras memiliki kemampuan
intelektual yang normal, atau tidak berada di bawah rata-rata. Kelainan lebih
banyak terjadi pada perilaku sosialnya.
Beberapa karakteristik yang menonjol dari
anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan perilaku sosial ini
adalah:
1.
Berdasarkan perilakunya
· Beresiko Tinggi : hiperaktif, suka
berkelahi, memukul, menyerang, merusak miliki sendiri , melawan, sulit
konsentrasi, tidak mau bekerja sama, sok aksi, ingin menguasai orang lain,
mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak bisa dipercaya, mengejek, suka
mencuri.
· Beresiko rendah : autism, khawatir,
cemas, ketakutan, merasa tertekan, tidak mau bergaul, menarik diri, kurang
percaya diri, bimbang, sering menangis, malu.
· Kurang dewasa: suka berfantasi, berangan-angan,
mudah dipengaruhi, kaku, pasif, sering ngantuk, mudah bosan.
· Agresif : memiliki gang jahat, suka
mencuri, loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos sekolah, sering pulang
larut malaam.
2.
Berdasarkan kepribadian
·
Kekacauan perilaku
·
Menarik diri
·
Ketidakmatangan
·
Agresi sosial
Karakteristik
umum
1)
Mengalami gangguan perilaku; suka berkelahi, memukul,
menyerang,
merusak milik sendiri atau orang lain, melawan, sulit konsentrasi,
tidak mau bekerjasama, sok aksi, ingin menguasai orang lain.
mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak dapat dipercaya, suka
mencuri, mengejek, dan sebagainya.
merusak milik sendiri atau orang lain, melawan, sulit konsentrasi,
tidak mau bekerjasama, sok aksi, ingin menguasai orang lain.
mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak dapat dipercaya, suka
mencuri, mengejek, dan sebagainya.
2)
Mengalami kecemasan; kawatir, cemas, ketakutan, merasa
tertekan,
tidak mau bergaul, menarik diri, kurang percaya diri, bimbang, sering
menangis, malu, dan sebagainya.
tidak mau bergaul, menarik diri, kurang percaya diri, bimbang, sering
menangis, malu, dan sebagainya.
3)
Kurang dewasa,
suka berfantasi,
berangan-angan, mudah
dipengaruhi, kaku, pasif, stika mengantuk, mudah bosan, dan
sebagainya
dipengaruhi, kaku, pasif, stika mengantuk, mudah bosan, dan
sebagainya
4)
Agresif; suka mencuri
dengan kelompoknya,
loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos sekolah, sering pulang
larut malam, dan terbiasa minggat dari rumah.
loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos sekolah, sering pulang
larut malam, dan terbiasa minggat dari rumah.
Karakteristik
Sosial /emosi
1)
Sering melanggar norma masyarakat
2)
Sering mengganggu dan bersifat agresif
3)
Secara emosional sering merasa rendah diri mengalami
kecemasan
Karakteristik
akademik
1)
Hasil belajarnya seringkali jauh di bawah rata-rata
2)
Sering tidak naik kelas
3)
Sering membolos sekolah
4)
Seringkali melanggar peraturan sekolah dan lalulintas
B. Karakteristik Anak Berkelainan
Akademik
Anak-anak berkelainan akademik terdiri dari
anak berbakat dan anak berkesulitan belajar. Adapun karaketistik kelainan
akademik meliputi :
1.
Karakteristik Anak Berbakat
Anak
berbakat dalam konteks ini adalah anak-anak yang mengalami kelainan intelektual
di atas rata-rata. Berkenaan dengan kemampuan intelektual ini Cony Semiawan
(1997:24) mengemukakan ,bahwa diperkirakan satu persen dari populasi total
penduduk Indonesia yang rentangan IQ sekitar 137 keatas, merupakan manusia
berbakat tinggi (highly gifted)
,sedangkan mereka yang rentagannya berkisar 120-137 yaitu yaitu yang mencakup
rentangan 10 persen di bawah yang satu persen itu disebut moderately gifted . Mereka semua memiliki talen akademik (academic talented) atau keberbakatan
intelektual .
Beberapa
kalsifikasi yang menonjol dari anak-anak berbakat umumnya hanya dilihat dari
tigkat inteligensinya ,berdasarkan standar Stanford Binet , yang meliputi :
1. Kategori
rata-rata tinggi ,dengan tingkat kapasitas intelktual (IQ) : 110-119
2. Kategori
superior , dengan tingkat kapasitas intelektual (IQ) : 120-139
3. Kategori sangat
superior ,dengan tingkat intelektual (IQ) : 140-169
Anak berbakat merupakan istilah yang
digunakan untuk menunjukkan adanya anak berkelainan mental tinggi yaitu di atas
rata-rata anak normal. Adapun karakteristik atau ciri yang menenjol pada anak
berbakat meliputi:
1) Karakteristik Intelektual, cepat
dalarn belajar, rasa ingin tahunya tinggi, daya konsentrasinya cukup lama,
memiliki daya kompetetif tinggi.
2) Karakteristik Sosial-emosional,
mudah bergaul atau menyesuaikan diri
dengan lingkungan yang baru, memiliki sifat kepemimpinan (leadership)
terhadap teman sebayanya, bersifat jujur, dan memiliki tenggangg rasa
serta mampu mengontrol emosi.
dengan lingkungan yang baru, memiliki sifat kepemimpinan (leadership)
terhadap teman sebayanya, bersifat jujur, dan memiliki tenggangg rasa
serta mampu mengontrol emosi.
3) Karakteristik Fisik-kesehatan,
berpenampilan menarik, memiliki daya
tahan tabuh yang baik terhadap penyakit. dapat memelihara penampilan
fisik yang bersih dan rapi.
tahan tabuh yang baik terhadap penyakit. dapat memelihara penampilan
fisik yang bersih dan rapi.
2.
Karakteristik Anak Berkesulitan
Belajar
Berkesulitan
belajar merupakan salah satu jenis anak berkebutuahan khusus yang ditandai
dengan adanya kesulitan untuk mencapai standar kompetensi (prestasi) yang telah
ditentukan dengan mengikuti pembelajaran konvensional. Learning disability
merupakan salah satu istilah yang mewadahi berbagai jenis kesulitan yang
dialami anak terutama yang berkaitan dengan masalah akademis.
Adapun
klasifikasi anak berkesulitan belajar spesifik yang merupakan jenis kelainan
unik tidak ada kesamaan antara penderita satu dengan yang lainnya.Untuk
mengklasifikasikan anak berkesulitan belajar spesifik dapat dilakukan berdasar
pada tingkat usia dan juga jenis kesulitannya, yaitu:
1. Kesulitan
Belajar Perkembangan
Pengelompokkan
kesulitan belajar pada anak usia di bawah 5 tahun (balita) adalah kesulitan
belajar perkembangan ,hal ini dikarenakan anak balita belum belajar secara
akademis ,tetapi belajar dalam proses kematangan prasyarat akademis ,seperti
kematangan persepsi visual-audiotory,wicara,daya
diferensiasi,kemampuan sensory-motor dsb.
2. Kesulitan
Belajar Akademik
Anak-anak
usia sekolah yaitu usia di atas 6 tahun masuk dalam kelompok kesulitan belajar
akademik anak-anak ini mengalami kesulitan bidang akademik di sekolah yang
sangat spesifik yaitu kesulitan dalam satu jenis/bidang akademik seperti
berhitung/matematika (diskalkulia),
kesulitan membaca (disleksia),
kesulitan menulis (disgraphia),
kesulitan bebahasa (dysphasia),
kesulitan tidak terampil (dispraksia),
dsb .
Ada
klasifikasi lain yang berdasarkan jenis gangguan atau kesulitan yang dialami
anak yaitu:
· Dispraksia:
merupakan gangguan pada keterampilan motorik, anak terlihat kurang terampil
dalam melakukan aktivitas motorik. Seperti sering menjatuhkan benda yang di
pegang, sering memecahkan gelas kalau minum.
· Disgraphia:
kesulitan dalam menulis ada yang memang karena gangguan pada motoris sehingga
tulisannya sulit untuk dibaca orang lain, ada yang sangat lambat aktivitas
motoriknya, dan juga adanya hambatan pada ideo motorik sehingga sering salah
atau tidak sesuai apa yang dikatakan dengan yang ditulis .
· Diskalkulia:
adalah kesulitan dalam berhitung dan matematika hal ini sering dikarenakan
adanya gangguan pada memori dan logika
· Disleksia:
merupakan kesulitan membaca baik membaca permulaan maupun pemahaman.
· Disphasia:
kesulitan berbahasa dimana anak sering melakukan kesalahan dalam berkomunikasi
baik menggunakan tulisan maupun lisan.
· Body
awareness: Anak tidak memiliki akan kesadaran tubuh sering salah prediksi pada
aktivitas gerak mobilitas seperti sering menabrak bila berjalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar