Minggu, 18 Desember 2016

Kelompok 9

BAB IX
KARAKTERISTIK ANAK BERKELAINAN MENTAL DAN AKADEMIK

A. Karakteristik Anak Berkelainan Mental Emosional
     Anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan mental-emosional, yaitu anak tunagrahita, dan tunalaras.
1.    Karakteristik Tunagrahita
     Karakteristik anak tunagrahita, yang lebih spesifik berdasarkan berat ringannya kelainan dapat dikemukakan sebagai berikut:
                      a.   Mampu didik
Merupakan istilah pendidikan yang digunakan untuk mengelompokan tunagrahita ringan. Mampu didik memiliki kapasitas intelegensi antara 50-70 pada skala Binet maupun Weschler. Anak mampu didik kemampuan maksimalnya setara dengan anak usia 12 tahun atau kelas 6 sekolah dasar, apabila mendapat pelayanan dan bimbingan belajar yang sesuai maka anak mampu didik dapat lulus Sekolah dasar. Tunagrahita mampu didik umumnya tidak disertai dengan kelainan fisik baik sensori maupun motoris, sehingga kesan lahiriah anak mampudidik tidak berbeda dengan anak normal sebaya, bahkan sering anak mampu didik dikenal dengan terbelakang mental 6 jam, hal ini dikarenakan anak terlihat terbelakang mental sewaktu mengiuti pelajaran akademik di sekolah saja, yang mana jam sekolah adalah 6 jam setiap hari.
                     b.   Mampu latih
Tunagrahita mampu latih secara fisik sering memiliki atau diserati dengan kelainan fisik baik sensori maupun motoris, bahkan hampir semua anak yang memiliki kelainan dengan tipe klinik masuk dalam kelompok mampu latih sehingga sangat mudah untuk mendeteksi anak mampu latih, karena penampilan fisiknya (kesan lahiriah) berbeda dengan anak normal sebaya. Anak mampu latih memiliki kapasitas intelegensi (IQ) berkisar 30-50, kemampuan tertingginya setara dengan anak normal usia 8 tahun atau kelas 2 SD. Kemampuan akademik anak mampulatih tidak dapat mengikuti pelajaran yang bersifat akademik walaupun secara sederhana seperti membaca, menulis dan berhitung. Anak mampu latih hanya mampu dilatih dalam keterampilan mengurus diri sendiri dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
                      c.   Perlu rawat
Anak perlu rawal adalah klasifikasi anak tunagrahita yang paling berat, jika pada istilah kedokteran disebut dengan idiot Anak perlu rawat memiliki kapasitas inteligensi di bawah 25 dan sudah tidak mampu dilatih keterampilan. Anak ini hanya mampu dilatih pembiasaan (conditioning) dalam kehidupan sehiri-hari. Seumur hidupnya tidak dapat lepas dari orang lain.
Klasifikasi Anak Tunagrahita
1)      Klasifikasi berpandangan medis dari keadaan tipe klinis. Tipe klinis pada tanda anatomik dan fisiologik yang mengalami patologik, diantaranya:
a)   Down Syndrome (dahulu Mongoloid)
Terlihat raut rupanya menyerupai orang Mongol dengan ciri:
-  Mata sipit dan miring
-  Lidah tebal dan terbelah-belah serta biasanya menjulur keluar
-  Telinga kecil
-  Tangan kering
-  Semakin dewasa kulitnya kasar
-  Pipi bulat
-  Bibir tebal dan besar
-  Tangan bulat dan lemah, kecil
-  Tulang tengkorak dari muka hingga belakang tampak pendek
b)   Kretin
Tampak seperti orang cebol dengan ciri:
-  Badan pendek
-  Kaki tangan pendek
-  Kulit kering, tebal, keriput
-  Rambut kering
-  Kuku pendek dan tebal
c)   Hydrocephalus
     Gejala yang nampak semakin membesarnya Cranium (tengkorak kepala) yang disebabkan oleh makin bertambahnyacairan Cerebrospinal pada kepala. Cairan ini memberi tekanan pada otak besar yang menyebaban kemunduran fungsi otak.
d)  Microcephalus, Macrocephalus, Brachicephalus, dan Schaphocephalus
-     Microcephalus: bentuk ukuran kepala yang kecil
-     Macrocephalus: bentuk ukuran kepala lebih besar dari ukuran normal
-     Brachicephalus: bentuk kepala yang melebar
-     Schaphocephalus: ukran kepala yang panjang menyerupai menara
e)   Cerebral Palsy
     Kelumpuhan pada otak yang mengganggu kecerdasan, pusat koordinasi gerak
f)    Rusak otak
     Kerusakan otak berpengaruh terhadap berbagai kemampuan yang dikendalikan oleh pusat susunan syaraf yang dapat terjadi gangguan keerdasan, pengamatan, tingkah laku, perhatian dan motorik
2)      Klasifikasi yang berpandangan pendidikan, memandang variasi anak tunagrahita dalam kemampuannya mengikuti pendidikan. Kalangan American Education (Moh. Amin, 1995:21) mengelompokkan menjadi Educable mentally retarded, trainable mentally retarded and Totally / costudial dependent yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : mampu didik, mampu latih, dan perlu rawat. Pengelompokan tersebut sebagai berikut :
a.    Mampu didik, anak ini setingkat mild, borderline, marginally dependent, moron, dan debil. IQ mereka berkisar 50/55-70/75.
b.    Mampu latih, setingkat dengan morderate, semi dependent, imbesil, dan memiliki tingkat kecerdasan IQ berkisar 20/25-50/55.
c.    Perlu rawat, mereka termasuk totally dependent or profoundly mentally retarded, severe, idiot, dan tingkat kecerdasannya 0/5-20/25.
3)       Klasifikasi yang berpandangan sosiologis memandang variasi tunagrahita dalam kemampuannya mandiri di masyarakat, atau peran yang dapat dilakukannya dalam masyarakat. Menurut AAMD (Amin, 1995:22-24) klasifikasi itu sebagai berikut :
a.    Tunagrahita ringan, tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar 50-70, dalam penyelesaian diri pada lingkungan social yang lebih luas dan mampu melakukan pekerjaan setingkat semi terampil.
b.   Tunagrahita sedang, tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar antara 30-50, mampu melakukan keterampilan mengurus diri sendiri (self-help), mampu mengadakan adaptasi social dilingkungan terdekat, dan mampu mengerjakan pekerjaan yang rutin yang perlu pengawasan atau bekerja ditempat kerja terlindung (sheltered work shop).
c.    Tunagrahita berat dan sangat berat, mereka sepanjang hidupnya selalu tergantung bantuan dan perawatan orang lain. Ada yang masih mampu dilatih mengurus sendiri dan komunikasi secara sederhana dan dalam batas tertentu, mereka memiliki tingkat kecerdasan (IQ) kurang dari 30.
4)      Klasifikasi yang dikemukakan oleh Leo Kanner (Amin, 1995:22-24), dan ditinjau dari sudut tingkat pandangan masyarakat sebagai berikut :
a.    Tunagrahita absolute, termasuk kelompok tunagrahita yang jelas nampak ketunagrahitaannya baik berada di pedesaan maupun perkotaan, dimasyarakat petani, maupun masyarakat industry, di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan di tempat pekerjaan. Golongan ini penyandang tunagrahita kategori sedang.
b.   Tunagrahita relative, termasuk kelompok tunagrahita yang dalam masyarakat tertentu dianggap tunagrahita, tetapi di tempat masyarakat lain tidak dipandangtunagrahita. Anak tunagrahita dianggap demikian adalah anak tunagrahita ringan karena masyarakat perkotaan yang maju dianggap tunagrahita dan di masyarakat pedesaan yang masih terbelakang dipandang bukan tunagrahita.
c.     Tunagrahita semu (pseudo mentally retarded) yaitu anak tunagrahita yang menunjukkan penampilan sebagai penyandang tunagrahita tetapi sesungguhnya ia mempunyai kapasitas kemampuan yang normal. Misalnya seorang anak dikirim ke sekolah khusus karena menurut kasil tes kecerdasannya rendah, tetapi setelah mendapat pengejaran remedial dan bimbingan khusus menjadikan kemampuan belajar dan adaptasi sosialnya normal.
5)      Klasifikasi menurut kecerdasan (IQ), dikemukakan oleh Grosman (Hallahan & Kauffman, 1988:48) sebagai berikut :
TERM
IQ RANGE FOR LEVEL
Mild Mental Retardation
Moderate Mental Retardation
Severe Mental Retardation
Profound Mental Retardation
55-70 to Aprox, 70
35-40 to 50-55
20-25 to 35-40
Bellow 20 or 25

6)      James D Page yang dikutip oleh Suhaeri H.N (Amin: 1995) menguraikan karakteristik anak tunagrahita sebagai berikut:
a.    Kecerdasan. Kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama untuk hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rote-learning) bukan dengan pengertian.
b.   Sosial. Dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara, dan memimpin diri. Ketika masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus, disingkirkan dari bahaya, dan diawasi waktu bermain dengan anak lain.
c.    Fungsi-fungsi mental lain. Mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, pelupa dan sukar mengungkapkan kembali suatu ingatan. Mereka menghindari berpikir, kurang mampu membuat asosiasi dan sukar membuat kreasi baru.
d.   Dorongan dan emosi. Perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing. Kehidupan emosinya lemah, mereka jarang menghayati perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.
e.     Organisme. Struktur dan fungsi organisme pada anak tunagrahita umumnya kurang dari anak normal. Dapat berjalan dan berbicara diusia yang lebih tua dari anak normal. Sikap dan gerakannya kurang indah, bahkan di antaranya banyak yang mengalami cacat bicara.
2.    Karakteristik Tunalaras
      Anak tunalaras adalah anak-anak yang mengalami gangguan perilaku, yang ditunjukkan dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun dalam lingkungan sosialnya. Pada hakekatnya, anak-anak tunalaras memiliki kemampuan intelektual yang normal, atau tidak berada di bawah rata-rata. Kelainan lebih banyak terjadi pada perilaku sosialnya.
      Beberapa karakteristik yang menonjol dari anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan perilaku sosial ini adalah:
1.   Berdasarkan perilakunya
·      Beresiko Tinggi : hiperaktif, suka berkelahi, memukul, menyerang, merusak miliki sendiri , melawan, sulit konsentrasi, tidak mau bekerja sama, sok aksi, ingin menguasai orang lain, mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak bisa dipercaya, mengejek, suka mencuri.
·      Beresiko rendah : autism, khawatir, cemas, ketakutan, merasa tertekan, tidak mau bergaul, menarik diri, kurang percaya diri, bimbang, sering menangis, malu.
·      Kurang dewasa: suka berfantasi, berangan-angan, mudah dipengaruhi, kaku, pasif, sering ngantuk, mudah bosan.
·      Agresif : memiliki gang jahat, suka mencuri, loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos sekolah, sering pulang larut malaam.
2.   Berdasarkan kepribadian
·      Kekacauan perilaku
·      Menarik diri
·      Ketidakmatangan
·      Agresi sosial
Karakteristik umum
1)   Mengalami gangguan perilaku; suka berkelahi, memukul, menyerang,
merusak milik sendiri atau orang lain, melawan, sulit konsentrasi,
tidak   mau   bekerjasama,   sok   aksi,   ingin   menguasai   orang lain.
mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak dapat dipercaya, suka
mencuri, mengejek, dan sebagainya.
2)   Mengalami kecemasan; kawatir, cemas, ketakutan, merasa tertekan,
tidak mau bergaul, menarik diri, kurang percaya diri, bimbang, sering
menangis, malu, dan sebagainya.
3)   Kurang    dewasa,     suka    berfantasi,    berangan-angan,    mudah
dipengaruhi,   kaku,   pasif,   stika   mengantuk,   mudah   bosan,   dan
sebagainya
4)    Agresif; suka mencuri dengan kelompoknya,
loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos sekolah, sering pulang
larut malam, dan terbiasa minggat dari rumah.
Karakteristik Sosial /emosi
1)   Sering melanggar norma masyarakat
2)   Sering mengganggu dan bersifat agresif
3)   Secara emosional sering merasa rendah diri mengalami kecemasan
Karakteristik akademik
1)   Hasil belajarnya seringkali jauh di bawah rata-rata
2)   Sering tidak naik kelas
3)   Sering membolos sekolah
4)   Seringkali melanggar peraturan sekolah dan lalulintas

B.  Karakteristik Anak Berkelainan Akademik
     Anak-anak berkelainan akademik terdiri dari anak berbakat dan anak berkesulitan belajar. Adapun karaketistik kelainan akademik meliputi :
1.    Karakteristik Anak Berbakat
     Anak berbakat dalam konteks ini adalah anak-anak yang mengalami kelainan intelektual di atas rata-rata. Berkenaan dengan kemampuan intelektual ini Cony Semiawan (1997:24) mengemukakan ,bahwa diperkirakan satu persen dari populasi total penduduk Indonesia yang rentangan IQ sekitar 137 keatas, merupakan manusia berbakat tinggi (highly gifted) ,sedangkan mereka yang rentagannya berkisar 120-137 yaitu yaitu yang mencakup rentangan 10 persen di bawah yang satu persen itu disebut moderately gifted . Mereka semua memiliki talen akademik (academic talented) atau keberbakatan intelektual .
     Beberapa kalsifikasi yang menonjol dari anak-anak berbakat umumnya hanya dilihat dari tigkat inteligensinya ,berdasarkan standar Stanford Binet , yang meliputi :
1.   Kategori  rata-rata tinggi ,dengan tingkat kapasitas intelktual (IQ) : 110-119
2.   Kategori superior , dengan tingkat kapasitas intelektual (IQ) : 120-139
3.   Kategori sangat superior ,dengan tingkat intelektual (IQ) : 140-169
     Anak berbakat merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya anak berkelainan mental tinggi yaitu di atas rata-rata anak normal. Adapun karakteristik atau ciri yang menenjol pada anak berbakat meliputi:
1)   Karakteristik Intelektual, cepat dalarn belajar, rasa ingin tahunya tinggi, daya konsentrasinya cukup lama, memiliki daya kompetetif tinggi.
2)   Karakteristik Sosial-emosional, mudah bergaul atau menyesuaikan diri
dengan lingkungan yang baru, memiliki sifat kepemimpinan (leadership)
terhadap teman sebayanya, bersifat jujur, dan memiliki tenggangg rasa
serta mampu mengontrol emosi.
3)   Karakteristik Fisik-kesehatan, berpenampilan menarik, memiliki daya
tahan tabuh yang baik terhadap penyakit. dapat memelihara penampilan
fisik yang bersih dan rapi.
2.    Karakteristik Anak Berkesulitan Belajar
      Berkesulitan belajar merupakan salah satu jenis anak berkebutuahan khusus yang ditandai dengan adanya kesulitan untuk mencapai standar kompetensi (prestasi) yang telah ditentukan dengan mengikuti pembelajaran konvensional. Learning disability merupakan salah satu istilah yang mewadahi berbagai jenis kesulitan yang dialami anak terutama yang berkaitan dengan masalah akademis.
      Adapun klasifikasi anak berkesulitan belajar spesifik yang merupakan jenis kelainan unik tidak ada kesamaan antara penderita satu dengan yang lainnya.Untuk mengklasifikasikan anak berkesulitan belajar spesifik dapat dilakukan berdasar pada tingkat usia dan juga jenis kesulitannya, yaitu:
1.   Kesulitan Belajar Perkembangan
Pengelompokkan kesulitan belajar pada anak usia di bawah 5 tahun (balita) adalah kesulitan belajar perkembangan ,hal ini dikarenakan anak balita belum belajar secara akademis ,tetapi belajar dalam proses kematangan prasyarat akademis ,seperti kematangan persepsi visual-audiotory,wicara,daya diferensiasi,kemampuan sensory-motor dsb.
2.   Kesulitan Belajar Akademik
Anak-anak usia sekolah yaitu usia di atas 6 tahun masuk dalam kelompok kesulitan belajar akademik anak-anak ini mengalami kesulitan bidang akademik di sekolah yang sangat spesifik yaitu kesulitan dalam satu jenis/bidang akademik seperti berhitung/matematika (diskalkulia), kesulitan membaca (disleksia), kesulitan menulis (disgraphia), kesulitan bebahasa (dysphasia), kesulitan tidak terampil (dispraksia), dsb .   
      Ada klasifikasi lain yang berdasarkan jenis gangguan atau kesulitan yang dialami anak yaitu:
·      Dispraksia: merupakan gangguan pada keterampilan motorik, anak terlihat kurang terampil dalam melakukan aktivitas motorik. Seperti sering menjatuhkan benda yang di pegang, sering memecahkan gelas kalau minum.
·      Disgraphia: kesulitan dalam menulis ada yang memang karena gangguan pada motoris sehingga tulisannya sulit untuk dibaca orang lain, ada yang sangat lambat aktivitas motoriknya, dan juga adanya hambatan pada ideo motorik sehingga sering salah atau tidak sesuai apa yang dikatakan dengan yang ditulis .
·      Diskalkulia: adalah kesulitan dalam berhitung dan matematika hal ini sering dikarenakan adanya gangguan pada memori dan logika
·      Disleksia: merupakan kesulitan membaca baik membaca permulaan maupun pemahaman.
·      Disphasia: kesulitan berbahasa dimana anak sering melakukan kesalahan dalam berkomunikasi baik menggunakan tulisan maupun lisan.
·      Body awareness: Anak tidak memiliki akan kesadaran tubuh sering salah prediksi pada aktivitas gerak mobilitas seperti sering menabrak bila berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar