BAB XI
FASILITAS PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A.
Pengertian Pendidikan Luar Biasa
Pendidikan luar biasa adalah merupakan
pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti
proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional, mental sosial, tetapi
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Selain itu pendidikan luar
biasa juga berarti pembelajaran yang dirancang khususnya untuk memenuhi
kebutuhan yang unik dari anak kelainan fisik. Pendidikan luar biasa akan sesuai
apabila kebutuhan siswa tidak dapat diakomodasikan dalam program pendidikan
umum. Secara singkat pendidikan luar biasa adalah program pembelajaran yang
disiapkan untuk memenuhi kebutuhan unik dari individu siswa.
B.
Macam – macam Fasilitas Pendidikan
Anak Berkebutuhan Khusus
Fasilitas pendidikan merupakan sarana penunjang
dan pelengkap dalam mencapai tujuan pendidikan. Bahkan fasilitas pendidikan
merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan menentukan dalam mencapai
efektifitas belajar. Dengan fasilitas penunjang belajar yang memadai diharapkan
anak berkebutuhan khusus akan lebih mudah memahami materi pelajaran yang
diberikan oleh guru.
1.
Fasilitas Pendidikan untuk Anak
Tunanetra
Fasilitas penunjang pendidikan untuk anak
tunanetra secara umum sama dengan anak normal, hanya memerlukan penyesuaian
untuk informasi yang memungkinkan tidak dapat dilihat, harus disampaikan dengan
media perabaan atau pendengaran. Fasilitas fisik yang berkaitan dengan gedung,
seyogyanya sedikit mungkin parit dan variasi tinggi rendah lantainya, dinding
dihindari yang mempunyai sudut lancip dan keras. Perabot sekolah sedapat
mungkin dengan sudut yang tumpul.
Fasilitas penunjang pendidikan yang
diperlukan untuk anak tunanetra menurut Annastasia Widjajanti dan Imanuel
Hitipeuw (1995) adalah braille dan peralatan orientasi mobilitas, serta media
pelajaran yang memungkinkan anak untuk memanfaatan fungsi perabaan dengan
optimal. Fasilitas pendidikan bagi anak tunanetra antara lain adalah:
a. Huruf Braille
Huruf Braille merupakan fasilitas utama
penyelenggaraan pendidikan bagi anak tunanetra. Huruf Braille ditemukan pertama
kali oleh Louis Braille. Ia menyusun tulisan yang terdiri dari enam titik
dijajarkan vertikal tiga tiga. Dengan menempatkan titik tersebut dalam berbagai
posisi maka terbentuklah seluruh abjad. Dengan menggunakan tulisan tersebut
akan mempermudah para tuna netra membaca dan menulis.
Untuk membaca, titik timbul positif yang
dibaca. Cara membaca seperti pada umumnya, yaitu dari kiri ke kanan. Sedangkan
untuk menulis, prinsip kerjanya berbeda dengan membaca. Cara menulis huruf braille
tidak seperti umunya yaitu mulai dari kanan ke kiri, biasanya sering disebut
dengan menulis secara negatif. Jadi menulis braille secara negatif akan
menghasilkan tulisan secara timbul positif, yang dibaca adalah tulisan
timbulnya.
Ada tiga cara untuk menulis braille, yaitu
dengan (1) reglet dan pen atau stilus, (2) mesik tik braille, dan (3) komputer
yang dilengkapi dengan printer braille. Media yang digunakan berupa kertas
tebal yang tahan lama (manila, atau yang lain). Kertas standar untuk braille
adalah kertas braillon.
Untuk mendukung pembelajaran anak
tunanetra, buku-buku pelajaran seyogyanya dialihtuliskan ke huruf braille dan
disimpan dengan rapi secara berdiri tidak ditumpuk.
b. Tongkat putih
Tongkat putih merupakan fasilitas pendukung
anak tunanetra untuk orientasi dan mobilitas. Dengan tongkat putih anak
tunanetra berjalan untuk mengenali lingkungannya. Berbagai media alat bantu
mobilitas dapat berupa tongkat putih, anjing penuntun, kacamata elektronik,
tongkat elektronik.
Program latihan orientasi dan mobilitas
meliputi: jalan dengan pendamping orang awas, jalan mandiri, dan latihan bantu
diri (latihan di kamar mandi dan wc, latihan di kamar makan, latihan di kamar
tidur, latihan di dapur, latihan di kamar tamu) dan latihan orientasi di
sekolah.
c. Laser cane (tongkat laser)
Tongkat laser adalah tongkat penuntun
berjalan yang menggunakan sinar infra merah untuk mendeteksi rintangan yang ada
pada jalan yang akan dilalui dengan memberi tanda lisan (suara).
d. Sonic Guide (penuntun bersuara)
e. Optacon dan Optacon II
f. Kurzweil Reading Machine
g. VersaBraille dan VersaBraille II
2.
Fasilitas Pendidikan untuk Anak
Tunarungu
Fasilitas penunjang untuk pendidikan anak
tunarungu secara umum relatif sama dengan anak normal, seperti papan tulis,
buku, buku pelajaran, alat tulis, sarana bermain dan olahraga. Namun karena
anak tunarungu mempunyai hambatan dalam mendengar dan bicara, maka mereka
memerlukan alat bantu khusus. Alat bantu khusus tersebut antara lain menurut
Permanarian Somad dan Tati Hernawati, 1996 adalah audiometer, hearing aids, telephone-typewriter, mikro komputer, audiovisual, tape recorder, spatel, cermin.
a. Audiometer
Audiometer adalah alat elektronik
untuk mengukur taraf kehilangan pendengaran seseorang. Melalui audiometer, kita
dapat mengetahui kondisi pendengaran anak tunarungu antara lain:
1) Apakah sisa pendengarannya
difungsionalkan melalui konduksi tulang atau konduksi udara.
2) Berapa desibel anak tersebut
kehilangan pendengarannya
3) Telinga mana yang mengalami
kehilangan pendengaran , apakah telinga kiri, telinga kanan, atau kedua-duanya
4) Pada frekuensi berapa anak masih
dapat menerima suara.
5) Ada dua jenis audiometer, yaitu
audiometer oktaf dan audiometer kontinyu. Audiometer oktaf untuk mengukur
frekuensi pendengaran: 125 – 250 – 500 – 1000 – 2000 – 4000 – 8000 Hz.
Audiometer kontinyu mengukur pendengaran antara 125 - 12000 Hz.
b. Hearing Aids
Hearing
aids atau
alat bantu dengar mempunyai tiga unsur utama, yaitu: microphone, amplifier, dan reciever. Sedangkan prinsip kerjanya
adalah sebagai berikut: suara (energi akustik) diterima microphone, kemudian diubah menjadi energi listrik dan dikeraskan
melalui amplifier, kemudian
diteruskan ke reciever (telepon) yang
mengubah kembali energi listrik menjadi suara seperti alat pendengaran pada telepon
dan diarahkan ke gendang telinga (membrana
tympany).
Alat bantu dengan ada bermacam-macam, yaitu
yang diselipkan di belakang telinga, di dalam telinga, dipakai pada saku kemeja
(pocket), atau yang dipasang pada
bingkai kaca mata. Dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing aids) anak tunarungu dapat berlatih mendengakan, baik
secara individual maupun secara kelompok.
Alat bantu tersebut lebih tepat digunakan
bagi anak tunarungu yang mempunyai kelainan pendengaran konduktif. Begitu pula
alat bantu dengan akan lebih efektif jika digunakan sesuai dengan program
pendidikan yang sistematis yang diajarkan oleh guru-guru yang profesional yang
mampu memadukan ilmu pengetahuan anak berkebutuhan khusus dengan pengetahuan
audiologi, dan patologi bahasa.
Anak tunarungu yang menggunakan alat bantu
dengar diharapkan mampu memilih suara-suara mana yang diperlukan, dan dengan
bantuan mimik dan gerak bibir dari guru (speech
therapist), maka anak tunarungu dapat berlatih menangkap arti dari apa yang
diucapkan oleh guru atau orang lain.
c. Telephone-typewriter
Telephone-typewriter
atau mesin
tulis telepon merupakan alat bantu bagi anak tunarungu yang memungkinkan mereka
mengubah pesan-pesan yang diketik menjadi tanda-tanda elektronik yang
diterjemahkan secara tertulis (huruf tercetak).
Mesin tulis telepon terdiri dari telepon
yang dilengkapi dengan alat pendengar, lampu kedap-kedip sebagai tanda
panggilan, mesin tulis, komputer, dan amplifier. Mesin tulis ini memungkinkan
perubahan pesan suara yang masuk ke dalam komputer dan mengubah tanda-tanda
elektronik dan bunyi pada frekuensi yang berlainan yang kemudian disampaikan
melalui telepon dan diubah kembali menjadi huruf tercetak yang dapat dimengerti
oleh anak tunarungu.
d. Mikrokomputer
Mikrokomputer merupakan alat bantu khusus
yang dapat memberikan informasi secara visual. Alat bantu ini sangat membantu
bagi anak tunarungu yang mengalami kelainan pendengaran berat. Keefektifan
penggunaan mikrokomputer tergantung pada softwere
dan materinya harus dapat dimengerti oleh anak tunarungu. Disamping itu
anak tunarungu harus bisa membaca atau paling tidak mampu mengintepretasikan
simbol-simbol yang digunakan. Manfaat penggunaan mikrokomputer bagi anak
tunarungu antara lain:
1) Anak tunarungu dapat belajar
mandiri, bebas tetapi bertanggung jawab
2) Anak tunarungu dapat belajar membuat
program, memprogram materi pelajaran, dan mendemonstrasikannya.
3) Anak tunarungu dapat mengembangkan
kreativitas berpikir dengan menggunakan mikrokomputer
4) Anak tunarungu dapat berkomunikasi
interaktif dengan informasi yang ada dalam program mikrokomputer.
e. Audiovisual
Alat bantu audiovisual dapat berupa film, video-tapes, TV. Penggunaan audiovisual
tersebut sangat bermanfaat bagi anak tunarungu, karena mereka dapat
memperhatikan sesuatu yang ditampilkan sekalipun dalam kemampuan mendengar yang
terbatas. Sebagai contoh, penayangan film-film pendidikan, film ilmiah populer,
film kartun, dan siaran berita TV dengan bahasa isyarat.
f. Tape Recorder
Tape
recorder sangat
berguna untuk mengontrol hasil ucapan yang telah direkam, sehingga kita dapat
mengikuti perkembangan bahasa lisan anak tunarungu dari hari ke hari dan dari
tahun ke tahun. Selain itu, tape recorder sangat membantu anak tunarungu ringan
dalam menyadarkan akan kelainan bicaranya, sehingga guru artikulasi lebih mudah
membimbing mereka dalam memperbaiki kemampuan bicara mereka.
Tape
recorder dapat
pula digunakan untuk mengajar tunarungu yang belum bersekolah dalam mengenal
gelak-tawa, suara-suara hewan, perbedaan antara suara tangisan dengan suara
omelan, dan sebagainya.
g. Spatel
Spatel adalah alat bantu untuk membetulkan
posisi organ bicara, terutama lidah. Spatel digunakan untuk menekan lidah,
sehingga kita dapat membetulkan posisi lidah anak tunarungu. Dengan posisi
lidah yang benar mereka dapat bicara dengan benar.
h. Cermin
Cermin
dapat digunakan sebagai alat bantu anak tunarungu dalam belajar mengucapkan
sesuatu dengan artikulas yang benar. Di samping itu, anak tunarungu dapat
mengamakan ucapannya melalui cermin dengan apa yang diucapkan oleh guru atau
Artikulator (speech therapist).
Dengan menggunakan cermin, Artikulator dapat mengontrol gerakan-gerakan yang
didak tepat dari anak tunarungu, sehingga mereka menyadari dalam mengucapkan
konsonan, vokal, kata-kata, kalimat secara benar.
3.
Fasilitas Pendidikan untuk Anak
Tunagrahita
Fasilitas pendidikan untuk anak
tunagrahita relatif sama dengan fasilitas pendidikan untuk anak umum di sekolah
dasar dan fasilitas pendidikan di taman kanak-kanak. Fasilitas pendidikan lebih
diarahkan untuk latihan sensomotorik dan pembentukan motorik halus. Walaupun
demikian fasilitas yang berkaitan dengan pembinaan motorik kasar juga perlu
disediakan secara memadai. Secara garis besar fasilitas pendidikan yang harus
disesuaikan dengan karakteristik anak tunagrahita adalah:
a. Fasilitas pendidikan yang berkaitan
latihan sensorimotor
Fasilitas pendidikan dan penunjang
pendidikan bagi anak tunagrahita yang berkaitan dengan latihan sensomotorik di
antaranya:
1) berkaitan dengan visual: berbagai
bentuk benda, manik-manik, warna, dsb.
2) berkaitan dengan perabaan dan
motorik tangan: manik-manik, benang, crayon, wash, lotion, kertas amril, dsb.
3) berkaitan dengan pembau: kamper,
minyak kayu putih, dsb.
4) berkaitan dengan koordinasi: menara
gelang, puzzle, meronce, dsb.
b. Fasilitas pendidikan yang berkaitan
dengan aktivitas kehidupan keseharian
Fasilitas yang berkaitan dengan
kehidupan keseharian (Activity Daily Leaving) berupa permainan untuk mendukung
aktivitas kehidupan sehari-hari atau peralatan untuk latihan kehidupan sehari-hari,
di antaranya:
1) latihan kebersihan dan gosok gigi
2) latihan berpakaian, bersepatu
3) permainan dengan boneka dan alat
lainnya, dsb.
c. Fasilitas pendidikan yang berkaitan
dengan latihan motorik kasar
Fasilitas yang berkaitan dengan
latihan motorik kasar di antaranya dapat berupa:
1) latihan bola kecil
2) latihan bola besar
3) permainan keseimbangan, dsb.
4.
Fasilitas Pendidikan untuk Anak
Tunadaksa
Fasilitas pendidikan untuk anak tunadaksa
berkaitan dengan prasarana dan sarana langsung yang diperlukan dalam layanan
pendidikan anak tunadaksa. Prasarana yang dirancang untuk anak tunadaksa
hendaknya memenuhi tiga kemudahan (Musjafak Assjari, 1995), yaitu mudah keluar
masuk, mudah bergerak dalam ruangan, dan mudah mengadakan penyesuaian. Sesuai dengan
ketentuan tersebut, bangunan seyogyanya menghindari model tangga, bila terpaksa
harus disediakan lief, lantai tidak banyak reliefnya, tidak banyak lubang,
lebar pintu harus sesuai, kamar mandi dan WC memungkinkan kursi roda dan treepot bisa masuk, ada parallel bars, dinding kelas di lengkapi
dengan parallel bars, meja dan kursi
anak disesuaikan dengan kelainan anak. Fasilitas pendukung pendidikan yang
berkaitan dengan diri anak adalah:
a.
Brace
Brace merupakan alat bantu gerak yang digunakan untuk memperkuat
otot dan tulang. Brace biasanya
digunakan di kaki, punggung, atau di leher. Fungsi brace berguna untuk menyangga beban yang tertumpu pada otot atau
tulang. Brace terbuat dari kulit yang
kaku atau plastik yang tebal dilapisi kain atau sepon atau karet pada tepi dan
pinggirannya agar tidak terjadi decubitus
(lecet) pada jaringan yang kontak langsung.
b.
Crutch (kruk)
Kruk adalah alat penyangga tubuh
yang ditumpukan pada tangan atau ketiak untuk menyangga beban tubuh. Kruk
terbuat dari kayu, pipa besi, pipa aluminium, atau pipa stainless steel yang berbentuk bulat setinggi ukuran tubuh
pemakainya. Pada bagian atas tempat yang kontak dengan ketiak atau tangan
diberi spon atau karet agar lunak dan tidak menyebabkan lecet bila dipakai. Ada
berbagai macam bentuk kruk, yaitu (1) standard
double bar upright under arm chrutch, (2) extension crutch, (3) aluminium
double bar upright extension crutch, (4) lofstrand crutch, (5) tricep
crutch, (6) standard axillary crutch.
c.
Splint
Splint berasal dari bahasa Inggris yang berarti spalk ( bahasa Belanda). Alat ini
bertujuan untuk meletakkan anggota tubuh pada posisi yang benar agar anggota
tubuh yang sakit tidak salah bentuk Ada dua macam splint, yaitu splint untuk anggota tubuh
bagian atas (tangan) dan splint untuk anggota tubuh bagian bawah (kaki). Splint dapat dibuat dari bahan gips,
kulit sol, karton, kayu, celastic, dan orthoplast. Bahan-bahan tersebut
dibentuk menurut posisi anggota gerak tubuh yang sakit.
d.
Wheel chair (kursi roda)
Menurut bentuknya, kursi roda dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu kursi roda yang roda besarnya di depan, dan kursi
roda yang roda besarnya di belakang. Kursi roda yang roda besarnya di depan
dapat berputar di tempat yang sempit. Kursi roda yang roda besarnya di
belakang, dapat masuk kolong tempat tidur, sehingga memudahkan untuk berpindah
tempat. Selain fasilitas pendukung tersebut di atas, fasilitas lain yang
mendukung pendidikan untuk anak tunadaksa adalah ruangan terapi dan peralatan
terapi. Terapi yang berkaitan langsung dengan anak tunadaksa adalah
fisioterapi, terapi bermain, dan terapi okupasi.
5.
Fasilitas Pendidikan untuk Anak
Tunalaras
Fasilitas pendidikan untuk anak
tunalaras relatif sama dengan fasilitas pendidikan untuk anak normal pada
umumnya. Fasilitas ruangan kelas tidak menggunakan benda-benda kecil yang
terbuat dari bahan yang keras, sehingga mempermudah mereka untuk mengambil dan
melemparnya. Fasilitas lain lebih berkaitan dengan ruangan terapi dan sarana
terapi. Terapi tersebut meliputi:
a. Ruangan fisioterapi dan peralatannya
Peralatan
fisioterapi lebih diarahkan pada upaya peregangan otot dan sendi, dan
pembentukan otot. Misalnya: barbel, box tinju, wash
b. Ruangan terapi bermain dan
peralatannya
Peralatan
terapi bermain lebih diarahkan pada model terapi sublimasi dan latihan
pengendalian diri. Misalnya puzzle, boneka
c. Ruangan terapi okupasi dan
peralatannya
Peralatan terapi okupasi lebih diarahkan pada pembentukan
keterampilan kerja dan pengisian pengisian waktu luang sesuai dengan kondisi
anak.
7.
Fasilitas
Pendidikan untuk Anak Berbakat Intelektual
Menurut Sidi (2004),
model layanan pendidikan lain perlu dikembangkan oleh pemerintah guna
memfasilitasi berbagai macam bidang keberbakatan, seperti:
a. Akselerasi
Bidang Studi:
Akselerasi untuk satu mata pelajaran yang menonjol dan sangat dikuasai
siswa.
b. Mentorship: Melayani
berapa pun jumlah siswa yang mampu mengikuti akselerasi, meskipun hanya satu
siswa, harus tetap dilayani dengan metode mentorship atau self paced
instruction.
c. Sistem
Kredit: Menggunakan pelayanan akselerasi dengan sistem kredit.
d. Pengayaan
Materi pada Mata Pelajaran Tertentu:
(full out program) untuk mata pelajaran atau pada hari tertentu saja
sehingga anak bisa tetap bersama dalam kelas dengan anak-anak lainnya.
e. Kelas Super
Saturday:
Pelayanan belajar di mana pengayaan materi dilakukan setiap hari sabtu
dalam berbagai bidang di luar mata pelajaran sekolah, seperti astronomi,
psikologi, kelautan dsb. Kerja sama dengan pihak dari berbagai disiplin dapat
membantu memfasilitasi berbagai jenis keberbakatan.
f. Pendirian
Pusat Keberbakatan:
Untuk mewadahi dan memberikan pelayanan terhadap anak berbakat kesenian,
kebudayaan, olah raga dan lain-lain.
g. Sertifikasi
bagi Guru Pengajar Gifted: Sertifikasi
ini penting untuk menjaga kualitas layanan pendidikan anak berbakat dan guru
harus dipacu untuk terus belajar, bahkan sampai
gelar strata 3 (Doktor).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar