BAB VII
ANAK BERKELAINAN MENTAL EMOSIONAL DAN ANAK
BERKELAINAN AKADEMIK
A. Anak Berkelainan Mental
Emosional
Pada bagian
ini akan mengantarkan saudara untuk memahami klasifikasi anak berkebutuhan
khusus yang mengalami kelainan mental-emosional yaitu anak tunagrahita dan
tunalaras.
1.
Klasifikasi anak tunagrahita
Untuk memahami klasifikasi anak
tunagrahita maka perlu disesuaikan dengan klasifikasinya karena setiap kelompok
tunagrahita memiliki klasifikasi yang berbeda-beda. Sesuai dengan bidang
bahasan pada materi ini akan dibahas klasifikasi akademik tunagrahita sebagai
berikut:
a.
Berdasarkan kapasitas
intelektual (sekor IQ)
·
Tunagrahita ringan IQ 50 – 70
·
Tunagrahita sedang IQ 35 – 50
·
Tunagrahita berat IQ 20 – 35
·
Tunagrahita sangat berat
memiliki IQ di bawah 20
b.
Berdasarkan kemampuan akademik
·
Tunagrahita mampudidik
·
Tunagrahita mampulatih
·
Tunagrahita perlurawat
c.
Berdasarkan tipe klini pada
fisik
· Down’s Syndrone (Mongolism)
· Macro Cephalic (Hidro Cephalic)
· Micro Cephalic
Pengklasifikasian anak tunagrahita perlu dilakukan untuk
memudahkan guru dalam menyusun program layanan/pendidikan dan melaksanakannya
secara tepat. Perlu diperhatikan bahwa perbedaan individu (individual
deferences) pada anak tunagrahita bervariasi sangat besar, demikian juga dalam
pengklasifikasi terdapat cara yang sangat bervariasi tergantung dasar pandang
dalam pengelompokannya. Klasifikasi itu sebagai berikut :
1) Klasifikasi yang berpandangan medis
Dalam bidang ini memandang variasi anak tunagrahita dari keadaan tipe
klinis. Tipe klinis pada tanda anatomik dan fisiologik yang mengalami patologik
atau penyimpangan. Kelompok tipe klinis di antaranya:
a. Down Syndrom (dahulu disebut Mongoloid)
Pada tipe
ini terlihat raut rupanya menyerupai orang Mongol dengan ciri: mata sipit dan
miring, lidah tebal dan terbelah-belah serta biasanya menjulur keluar, telinga
kecil, tangan kering, semakin dewasa kulitnya semakin kasar, pipi bulat, bibir
tebal dan besar, tangan bulat dan lemah, kecil, tulang tengkorak dari muka
hingga belakang tampak pendek.
b. Kretin
Pada tipe
kretin nampak seperti orang cebol dengan ciri: badan pendek, kaki tangan
pendek, kulit kering, tebal, dan keriput, rambut kering, kuku pendek dan tebal.
c. Hydrocephalus
Gejala yang
nampak adalah semakin membesarnya Cranium (tengkorak kepala) yang disebabkan
oleh semakin bertambahnya atau bertimbunnya cairan Cerebro-spinal pada
kepala.Cairan ini memberi tekanan pada otak besar (cerebrum) yang menyebabkan
kemunduran fungsi otak.
d. Microcephalus, Macrocephalus, Brachicephalus dan
Schaphocephalus
Keempat
istilah tersebut menunjukkan kelainan bentuk dan ukuran kepala, yang
masing-masing dijelaskan sebagai berikut:
·
Microcephalus : bentuk ukuran
kepala yang kecil
·
Macrocephalus : bentuk ukuran
kepala lebih besar dari ukuran normal
·
Brachicephalus : bentuk kepala
yang melebar
·
Schaphocephalus: memiliki
ukuran kepala yang panjang sehingga menyerupai menara.
e.
Cerebral
Palsy (kelompok kelumpuhan pada otak)
Kelumpuhan pada otak mengganggu fungsi kecerdasan, di samping kemungkinan
mengganggu pusat koordinasi gerak, sehingga kelainan cerebral palsy terdiri
tunagrahita dan gangguan koordinasi gerak.Gangguan koordinasi gerak menjadi
kajian bidang penanganan tunadaksa, sedangkan gangguan kecerdasan menjadi
kajian bidang penanganan tunagrahita.
f.
Rusak
otak (Brain Damage)
Kerusakan otak berpengaruh terhadap berbagai kemampuan yang dikendalikan
oleh pusat susunan saraf yang selanjutnya dapat terjadi gangguan kecerdasan,
gangguan pengamatan, gangguan tingkah laku, gangguan perhatian, gangguan
motorik.
2) Klasifikasi yang berpandangan pendidikan
Memandang variasi anak tunagrahita dalam kemampuannya mengikuti pendidikan.
Kalangan American Education (Moh. Amin, 1995:21) mengelompokkan menjadi
Educable mentally retarded, Trainable mentally retarded dan Totally / costudial
dependent yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : mampu didik, mampu latih,
dan perlu rawat. Pengelompokan tersebut sebagai berikut:
a.
Mampu didik, anak ini
setingkat mild, Borderline, Marginally dependent, moron, dan debil. IQ mereka
berkisar 50/55-70/75.
b.
Mampu latih, setingkat dengan
Morderate, semi dependent, imbesil, dan memiliki tingkat kecerdasan IQ berkisar
20/25-50/55.
c.
Perlu rawat, mereka termasuk
Totally dependent or profoundly mentally retarded, severe, idiot, dan tingkat
kecerdasannya 0/5-20/25
3) Klasifikasi yang berpandangan sosiologis
Memandang
variasi tunagrahita dalam kemampuannya mandiri di masyarakat, atau peran yang
dapat dilakukan masyarakat. Menurut AAMD (Amin, 1995:22-24) klasifikasi itu
sebagai berikut :
a. Tunagrahita ringan; tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar 50-70, dalam
penyesuaian sosial maupun bergaul, mampu menyesuaikan diri pada lingkungan
sosial yang lebih luas dan mampu melakukan pekerjaan setingkat semi terampil.
b. Tunagrahita sedang; tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar antara 30-50;
mampu melakukan keterampilan mengurus diri sendiri (self-helf); mampu
mengadakan adaptasi sosial di lingkungan terdekat; dan mampu mengerjakan
pekerjaan rutin yang perlu pengawasan atau bekerja di tempat kerja terlindung
(sheltered work-shop).
c. Tunagrahita berat dan sangat berat, mereka sepanjang kehidupannya selalu
tergantung bantuan dan perawatan orang lain. Ada yang masih mampu dilatih mengurus
sendiri dan berkomunikasi secara sederhana dalam batas tertentu, mereka
memiliki tingkat kecerdasan (IQ) kurang dari 30.
4)
Klasifikasi yang dikemukakan
oleh Leo Kanner (Amin, 1995:22-24), dan ditinjau dari sudut tingkat pandangan
masyarakat sebagai berikut:
a.
Tunagrahita absolut, termasuk
kelompok tunagrahita yang jelas nampak ketunagrahitannya baik berada di
pedesaan maupun perkotaan, di masyarakat petani maupun masyarakat industri, di
lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan di tempat pekerjaan. Golongan ini
penyandang tunagrahita kategori sedang.
b.
Tunagrahita relatif, termasuk
kelompok tunagrahita yang dalam masyarakat tertentu dianggap tunagrahita,
tetapi di tempat masyarakat lain tidak dipandang tunagrahita. Anak tunagrahita
dianggap demikian ialah anak tunagrahita ringan karena masyarakat perkotaan
yang maju dianggap tunagrahita dan di masyarakat pedesaan yang masih
terbelakang dipandang bukan tunagrahita.
c.
Tunagrahita semu (pseudo
mentally retarded) yaitu anak tunagrahita yang menunjukan penampilan sebagai
penyandang tunagrahita tetapi sesungguhnya ia mempunyai kapasitas kemampuan
yang normal. Misalnya seorang anak dikirim ke sekolah khusus karena menurut
hasil tes kecerdasannya rendah, tetapi setelah mendapat pengajaran remedial dan
bimbingan khusus menjadikan kemampuan belajar dan adaptasi sosialnya normal.
5)
Klasisikasi menurut kecerdasan
(IQ), dikemukakan oleh Grosman (Hallahan & Kauffman, 1988:48) sebagai
berikut:
|
TERM
|
IQ RANGE FOR LEVEL
|
|
Mild Mental Retardation
Mederate Mental Retardation
Severe Mental Retardation
Profound Mental Retardation
|
55-70 to
Aprox, 70
35-40 to
50-55
20-25 to
35-40
bellow 20
or 25
|
Klasifikasi tunagrahita dari
berbagai pandangan tersebut jika dipadukan akan membentuk tabel sebagai
berikut:
|
Kemampuan dalam pendidikan
|
Sosiologis
|
Tingkat kecacatan
|
Tingkat
kecerdasan (IQ)
|
|
Mampu
didik
|
Ringan,mild, marginally, dependent, moron.
|
Debil
|
55-70 to
Aprox 70
|
|
Mampu
latih
|
Sedang, moderate, semi
dependent.
|
Imbesil
|
35-40 to
50-55
|
|
Perlu
rawat
|
Berat, severe, totally dependent, profound.
|
Idiot
|
20-25 to
35-40 bellow 20 or 25
|
Strategi pembelajaran dalam
pendidikan anak tunagrahita pada prinsipnya tidak jauh berbeda penerapannya
dengan pendidikan pada umumnya.Pada anak tunagrahita ringan dan sedang mungkin
lebih efektif menggunakan strategi pembelajaran yang menekankan latihan yang
tidak terlalu banyak menuntut kemampuan berfikir yang kompleks.
a.
Strategi Pembelajaran
Individual dan Individualis Pengajaran.
Pembelajaran individual atau
individualisasi pengajaran itu berbeda maknanya dari pengajaran
individual.Pengajaran individual adalah pengajaran yang diberikan kepada
murid-murid seorang demi seorang atau secara terpisah.Sedangkan individualisasi
pengajaran adalah pengajaran yang diberikan oleh guru kepada asing-masing anak,
mskipun mereka belajar bersama dan berada bersama-sama didalam satu kelas atau
kelompok.Untuk mencapai individualisasi pengajaran yang baik harus disesuaikan
dengan minat belajar mengajar murid, juga mesti disesuaikan dengan pilihan,
kemampuan belajar dan hasil-hasil yang telh dicapai oleh seorang murid.
Komponen yang penting bagi
individualisasi pengajaran adalah pengelompokkan murid-murid menjadi beberapa
kelompok belajar. Pendidikan anak tunagrahita pada umumnya memerlukan sistem
pengajaran individual disamping pengajaran klasik,yang penting bukan individual
atau klasikalnya, melainkan individualisasi pengajaran; artinya dalam
pelaksanaannya boleh individual, kelompok dan boleh klasikal.
b.
Program
Pendidikan Individual (PPI atau IEP)
Program pendidikan individual
(PPI) ini merupakan terjemahan dari The Individualized Education Program
(IEP).Sesuai dengan namanya, PPI atau IEP adlah suatu program pendidikan yang
disusun untuk setiap anak luar biasa. Cakupan PPI jauh lebih luas dari program
individualisasi pengajaran, karena PPI tidak hanya mencakup kurikulum bagi
siswa, tetapi juga penempatan, lembaga-lembaga yang terkait dalam pendidikan
murid tersebut, serta berbagai aspek lain yang terkait.
Kegunaan PPI adalah untuk
menjamin bahwa tiap murid luar biasa di SLB maupun disekolah umum memiliki
suatu program yang di individulisasikan untuk mempertemukan kebutuhan-kebutuhan
khas yang dimiliki murid dan mengkomunisasikan program tersebut kepada
orang-orang yang berkepentigan dalam bentuk suatu program yang sistematis.Program
ini juga dapat membantu para guru untuk mengadopsikan program umum dan atau
program khusus bagi anak luar biasa yang bertolak atas kekuatan, kelemahan, dan
minat anak.
2.
Klasifikasi anak Tunalaras
Adalah anak-anak yang mengalami gangguan perilaku, yang ditunjukkan dalam
aktivitas kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun dalam lingkungan
sosialnya. Pada hakekatnya, anak-anak tunalaras memiliki kemampuan intelektual
yang normal, atau tidak berada di bawah rata-rata.Kelainan lebih banyak banyak
terjadi pada perilaku sosialnya. Beberapa klasifikasi yang menonjol dari
anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan perilaku sosial ini
adalah:
a.
Berdasarkan perilakunya
1)
Beresiko tinggi; hiperaktif
suka berkelahi, memukul, menyerang, merusak milik sendiri atau orang lain,
melawan, sulit konsentrasi, tidak mau bekerjasama, sok aksi, ingin menguasai
oranglain, mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak dapat dipercaya, suka
mencuri, mengejek, dan sebagainya.
2)
Beresiko rendah; autism,
kawatir, cemas, ketakutan, merasa tertekan, tidak mau bergaul, menarik diri,
kurang percaya diri, bimbang, sering menangis, malu, dan sebagainya.
3)
Kurang dewasa; suka
berfantasi, berangan-anagan, mudah dipengaruhi, kaku, pasif, suka mengantuk,
mudah bosan, dan sebagainya
4)
Agresif; memiliki gang jahat,
suka mencuri dengan kelompoknya, loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos
sekolah, sering pulang larut malam, dan terbiasa minggat dari rumah.
b.
Berdasarkan Kepribadian
1)
Kekacauan perilaku
2)
Menarik diri (withdrawll)
3)
Ketidakmatangan (immaturity)
4)
Agresi sosial
Khusus untuk kelainan perilakunya,
pendekatan pendidikan bagi anak tunalaras menggunakan pendekatan bimbingan dan
konseling serta terapi. Pendekatan terapi yang sering digunakan untuk layanan
pendidikan anak tunalaras menurut Hardman, M.L. dkk (1990) adalah:
a) Insight-oriented
thterapies
b) Play therapy
c) Group
therapy
d) Behavior
therapy
e) Marital and
Family therapy
f) Drug therapy
Penggunaan pendekatan terapi sangat
bergantung pada jenis dan tingkat problem perilaku yang dimiliki oleh anak
tunalaras. Selain pendekatan terapi, dalam pembelajaran khusus untuk anak
tunalaras adalah bina pribadi-sosial anak. Mata pelajaran ini diarahkan untuk
membina perilaku positif anak tunalaras dalam kaitannya dengan perilaku dirinya
dan perilaku dalam berhubungan dengan orang lain.
B. Anak Berkelainan Akademik
1. Anak
Berbakat
Bakat diartikan sebagai kemampuan yang melekat atau
“inherent” dalam diri seseorang, jadi dibawa sejak lahir dan keterkaitan dengan
struktur otak. Secara genetis struktur otak memang telah terbentuk sejak lahir,
tetapi bagaimana berfungsinya otak itu sangat ditentukan oleh caranya
lingkungan berinteraksi dengan anak manusia itu. Definisi anak berbakat yang
disepakati pada Seminar Pendidikan Luar Biasa di Jakarta pada tanggal 15 sampai
17 September 1980 (Utami Mundar , 1997:2) adalah sebagai berikut:
“Anak berbakat ialah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mencapai prestasi tinggi karena memiliki kemampuan-kemampuan unggul. Sedangkan dalam UUSPN No. 2 Tahun 1989, yang disebut anak berbakat adalah “ warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa.” Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan kemampuan luar biasa tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual.
“Anak berbakat ialah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mencapai prestasi tinggi karena memiliki kemampuan-kemampuan unggul. Sedangkan dalam UUSPN No. 2 Tahun 1989, yang disebut anak berbakat adalah “ warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa.” Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan kemampuan luar biasa tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual.
Anak berbakat dalam konteks ini
adalah anak-anak yang mengalami kelainan intelektual di atas rata-rata.
Berkenaan dengan kemampuan intelektual ini Cony Semiawan (1997:24)
mengemukakan, bahwa diperkirakan satu persen dari populasi total penduduk
Indonesia yang rentangan IQ sekitar 137 ke atas, merupakan manusia berbakat
tinggi (highly gifted), sedangkan mereka yang rentangannya berkisar
120-137 yaitu yang mencakup rentangan 10 persen di bawah yang satu persen itu
disebut moderately gifted. Mereka semua memiliki talen akademik (academic
talented) atau keberbakatan intelektual.
Beberapa klasifikasi yang
menonjol dari anak-anak berbakat umumnya hanya dilihat dari tingkat
inteligensinya, berdasarkan standar Stanford Binet, yaitu meliputi :
a.
kategori rata-rata tinggi ,
dengan tingkat kapasitas intentelektual (IQ): 110-119
b.
kategori superior, dengan
tingkat kapasitas intelektual (IQ) :120-139, dan
c.
kategori sangat superior,
dengan tingkat intelektual (IQ) :140-169
Beberapa
karakteristik yang menonjol dari anak-anak berbakat sebagaimana diungkapkan
Kitato dan Kirby, dalam Mulyono (1994), dalam ini adalah sebagai berikut.
a. Karakteristik Intelektual
1) Proses belajarnya sangat cepat
2) Tekun dan rasa ingin tahu yang besar
3) Rajin membaca
4) Memiliki perhatian yang lama dalam suatu bidang
khusus
5) Memiliki pemahaman yang sangat maju terhadap suatu
konsep
6) Memiliki sifat kompetitif yang tinggi dalam suatu
bidang akademik
b.
Karakteristik Sosial-emosional
1) Mudah diterima teman-teman sebaya dan orang dewasa
2) Mampu mempertahankan hubungan abadi dengan teman
sebaya dan orang dewasa
3) Melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial, dan
memberikan sumbangan pemikiran positif dan konstruktif
4) Kecendrungan sebagai juru pemisah dalam suatu
pertengkaran dan pengambil kebijakan oleh teman sebayanya
5) Memiliki kepercayaan tentang persamaan derajat
semua orang, dan jujur
6) Perilakunya tidak defensif, dan memiliki tenggang
rasa
7) Bebas dari tekanan emosi, dan mampu mengontrol
emosinya sesuai situasi, dan merangsang perilaku produktif bagi orang lain
8) Memiliki kapasitas yang luar biasa dalam
menanggulangi masalah sosial dengan cerdas dan humor
c.
Karakteristik Fisik-kesehatan
1) Berpenampilan rapi dan menarik
2) Kesehatannya berada lebih baik di atas rata-rata
3) Tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas
(task commitent)
Kebutuhan
untuk anak-anak berbakat antara lain:
§
Kebutuhan pendidikan dari segi anak
berbakat itu sendiri
Oleh karena potensi yang dimiliki anak berbakat
sedemikian hebatnya jika dibandingkan dengan anak biasa maka untuk mengembangkan
potensinya mereka membutuhkan beberapa hal.
§
Kebutuhan pendidikan yang berkaitan
dengan kepentingan masyarakat
Kehadiran anak brbakat dengan potensinya yang bermakna
sangantlh merugikan apabila potensi yang dimiliki anak tersebut tidak
diakomodasi dan didorong untuk berkembang sehingga dapat berguna dalam
pengembangan bangsa dan negara.
Program yang
dapat digunkan atau dikembangkan untuk anak-anak berbakat adalah :
a.
Melalui percepatan atau akselerasi
siswa
Akselarasi tidah hanya diartikian sebagai
cara untuk mempercepat penyelesaian studi agar lulus lebih awal, tetapi lebih
menekankan kepada kebutuhan belajar siswa berbakat agar meningkatkan
produktivitas, efisiensi dan evektivitas belajar mereka, percepatan yang
terjadi dalam belajar tanpa intervensi pendidikan dan mengurangi kebosanan atau
kejenuhan dalam belajar. Model
akselarasi dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk, meliputi:
1) Loncat
kelas
2) Percepatan
melalui pelayanan individual
3) Mengikuti
pembelajaran di kelas yang lebih tinggi
b.
Melalui pengayaan
Melayani siswa yang memiliki kemampuan
unggul, dapat dilakukan dengan program pengayaan yaitu memberikan tugas-tugas
tambahan yang relevan dengan bidang studi yang diterimanya. Model pengayaan ini
dapat memenuhi harapan atau kebutuhan siswa dalam mengembangkan kemampuan
intelektualnya, dengan tidak memisahkan mereka dari teman-teman sekelasnya.
c. Model
Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan
Siswa yang diidentifikasi berbakat dari
semua tingkat kelas yang sama disuatu sekolah dikelompokan ke dalam satu kelas.
Kelompok tersebut terdapat lima atau delapan anak. Jika lebih dari delapan anak
sebaiknya mereka dikelompokan menjadi dua kelompok. Setiap kelompok dibimbing
oleh guru yang memiliki kemampuan atau keterampilan khusus untuk mengajar atau
membimbing para siswa yang berkemampuan luar biasa.
2. Anak kesulitan belajar
Secara
harfiah kesulitan belajar merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “Learning
Disability” yang berarti ketidakmampuan belajar. Kata disability diterjemahkan
”kesulitan” untuk memberikan kesan optimis bahwa anak sebenarnya masih mampu
untuk belajar. Istilah lain learning disabilities adalah learning difficulties
dan learning differences. Ketiga istilah tersebut memiliki nuansa pengertian
yang berbeda. Di satu pihak, penggunaan istilah learning differences lebih
bernada positif, namun di pihak lain istilah learning disabilities lebih
menggambarkan kondisi faktualnya. Untuk menghindari bias dan perbedaan rujukan,
maka digunakan istilah Kesulitan Belajar. Berikut ini beberapa klasifikasi Kesulitan Belajar
a. Kesulitan Belajar Perkembangan
(Praakademik)
Kesulitan yang bersifat perkembangan
meliputi:
1) Gangguan
Perkembangan Motorik (Gerak)
Gangguan
pada kemampuan melakukan gerak dan koordinasi alat gerak. Bentuk-bentuk
gangguan perkembangan motorik meliputi; motorik kasar (gerakan melimpah,
gerakan canggung), motorik halus (gerakan jari jemari), penghayatan tubuh,
pemahaman keruangan dan lateralisasi (arah).
2) Gangguan
Perkembangan Sensorik (Penginderaan)
Gangguan
pada kemampuan menangkap rangsang dari luar melalui alat-alat indera. Gangguan
tersebut mencakup pada proses:
a) Penglihatan,
b) Pendengaran,
c) Perabaan,
d) Penciuman
e) Pengecap
3) Gangguan
Perkembangan Perseptual (Pemahaman atau apa yangdiinderai)
Gangguan
pada kemampuan mengolah dan memahami rangsang dari proses penginderaan sehingga menjadi informasi yang
bermakna. Bentuk-bentuk gangguan tersebut meliputi:
a) Gangguan
dalam Persepsi Auditoris, berupa kesulitan memahami objek yang didengarkan.
b) Gangguan
dalam Persepsi Visual, berupa kesulitan memahami objek yang dilihat.
c) Gangguan
dalam Persepsi Visual Motorik, berupa kesulitan memahami objek yang bergerak
atau digerakkan.
d) Gangguan
Memori, berupa ingatan jangka panjang dan pendek.
e) Gangguan
dalam Pemahaman Konsep.
f) Gangguan
Spasial, berupa pemahaman konsep ruang.
4) Gangguan
Perkembangan Perilaku
Gangguan
pada kemampuan menata dan mengendalikan diri yang bersifat internal dari dalam
diri anak. Gangguan tersebut meliputi:
a) ADD
(Attention Deficit Disorder) atau gangguan perhatian
b) ADHD
(Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau gangguan perhatian yang
disertai hiperaktivitas
b. Kesulitan Belajar Akademik
Kesulitan Belajar akademik terdiri
atas:
1) Disleksia
atau Kesulitan Membaca
Disleksia
atau kesulitan membaca adalah kesulitan untuk memaknai simbol, huruf, dan angka
melalui persepsi visual dan auditoris. Hal ini akan berdampak pada kemampuan
membaca pemahaman.
Adapun
bentuk-bentuk kesulitan membaca di antaranya berupa:
a) Penambahan
(Addition)
b) Penghilangan
(Omission)
c) Pembalikan
kiri-kanan (Inversion)
d) Pembalikan
atas-bawah (ReversalI)
e) Penggantian
(Substitusi)
2) Disgrafia
atau Kesulitan Menulis
Disgrafia
adalah kesulitan yang melibatkan proses menggambar simbol simbol bunyi menjadi
simbol huruf atau angka. Kesulitan menulis tersebut terjadi pada beberapa tahap
aktivitas menulis, yaitu:
a) Mengeja
b) Menulis
Permulaan (Menulis cetak dan Menulis sambung)
c) Menulis
Lanjutan/Ekspresif/Komposisi
d) Diskalkulia
atau Kesulitan Berhitung
Perencanaan Dan Model Pembelajaran Bagi Peserta Didik
Berkesulitan Belajar
a. Perencanan
Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar
1) Melakukan
Asesmen
a) Asesmen
Akademik
Mengumpulkan
informasi tentang kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
b) Asesmen
Non-akademik
Mengumpulkan
informasi tentang perilaku anak
b. Menetapkan
Setting Pembelajaran
1) Kelas
Reguler
Peserta didik berkesulitan belajar berada
di kelas reguler tanpa dipisah dengan peserta didik yang lain. Apabila peserta
didik berkesulitan belajar yang berada di kelas reguler mendapat layanan sesuai
dengan kebutuhannya maka disebut kelas Inklusif. Layanan yang diberikan dapat
menggunakan setting individual seperti yang dijelaskan di bawah (bagian c).
Sedangkan bila peserta didik berkesulitan belajar tidak mendapat layanan maka
disebut kelas integrasi.
2) Kelompok
Beberapa peserta didik berkesulitan
belajar digabung dalam satu ruang khusus dan diberikan layanan pembelajaran
tersendiri.
3) Individual
Setting pembelajaran ini dirancang dan
dilaksanakan pada peserta didik secara individual. Dalam pelaksanaannya, guru
melayani peserta didik berkesulitan belajar secara terpisah atau dapat melayani
peserta didik berkesulitan belajar bersama peserta didik yang lain di dalam
kelas (klasikal).Setting pembelajaran di atas dapat dilakukan di sekolah model
inklusif ataupun sekolah reguler pada umumnya.
c. Mempertimbangkan
Pendekatan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran untuk peserta
didik berkesulitan belajar perlu mempertimbangkan beberapa pendekatan.
Masing-masing pendekatan pembelajaran memiliki asumsi yang berbeda-beda.
Berikut ini beberapa pendekatan pembelajaran.
1) Pendekatan
Perkembangan:
a) Kemampuan
peserta didik berkembang sesuai dengan usia.
b) Kemampuan
atau hambatan dipengaruhi oleh tahap perkembangan sebelumnya.
2) Pendekatan
Perilaku:
a) Kemampuan
atau hambatan peserta didik muncul dalam bentuk perilaku
b) Kemampuan
atau hambatan yang muncul merupakan masalah saat ini
3) Pendekatan
Kognitif:
a) Peserta
didik harus mempelajari makna belajar
b) Belajar
merupakan proses penataan pikiran
c) Pemahaman
merupakan tujuan dari proses dan hasil belajar
4) Pendekatan
Humanistik
Pendekatan
humanistik merupakan pandangan yang berusaha memahami manusia sebagai makhluk
yang bermartabat. Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam pendekatan
humanistik adalah kebutuhan individu, potensi diri, pengembangan harga diri.
d. Menyiapkan
Rancangan Pembelajaran Individual
Tahapan-tahapan dalam pembelajaran sesuai
dengan setting pembelajaran (setting inklusif/kelompok dan setting individual).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar