Minggu, 18 Desember 2016

Kelompok 7



BAB VII
ANAK BERKELAINAN MENTAL EMOSIONAL DAN ANAK BERKELAINAN AKADEMIK

A. Anak Berkelainan Mental Emosional
      Pada bagian ini akan mengantarkan saudara untuk memahami klasifikasi anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan mental-emosional yaitu anak tunagrahita dan tunalaras.
1.   Klasifikasi anak tunagrahita
     Untuk memahami klasifikasi anak tunagrahita maka perlu disesuaikan dengan klasifikasinya karena setiap kelompok tunagrahita memiliki klasifikasi yang berbeda-beda. Sesuai dengan bidang bahasan pada materi ini akan dibahas klasifikasi akademik tunagrahita sebagai berikut:
a.    Berdasarkan kapasitas intelektual (sekor IQ)
·      Tunagrahita ringan IQ 50 – 70
·      Tunagrahita sedang IQ 35 – 50
·      Tunagrahita berat IQ 20 – 35
·      Tunagrahita sangat berat memiliki IQ di bawah 20
b.   Berdasarkan kemampuan akademik
·      Tunagrahita mampudidik
·      Tunagrahita mampulatih
·      Tunagrahita perlurawat
c.    Berdasarkan tipe klini pada fisik
·      Down’s Syndrone (Mongolism)
·      Macro Cephalic (Hidro Cephalic)
·      Micro Cephalic
     Pengklasifikasian anak tunagrahita perlu dilakukan untuk memudahkan guru dalam menyusun program layanan/pendidikan dan melaksanakannya secara tepat. Perlu diperhatikan bahwa perbedaan individu (individual deferences) pada anak tunagrahita bervariasi sangat besar, demikian juga dalam pengklasifikasi terdapat cara yang sangat bervariasi tergantung dasar pandang dalam pengelompokannya. Klasifikasi itu sebagai berikut :
1)   Klasifikasi yang berpandangan medis
Dalam bidang ini memandang variasi anak tunagrahita dari keadaan tipe klinis. Tipe klinis pada tanda anatomik dan fisiologik yang mengalami patologik atau penyimpangan. Kelompok tipe klinis di antaranya:
a.    Down Syndrom (dahulu disebut Mongoloid)
Pada tipe ini terlihat raut rupanya menyerupai orang Mongol dengan ciri: mata sipit dan miring, lidah tebal dan terbelah-belah serta biasanya menjulur keluar, telinga kecil, tangan kering, semakin dewasa kulitnya semakin kasar, pipi bulat, bibir tebal dan besar, tangan bulat dan lemah, kecil, tulang tengkorak dari muka hingga belakang tampak pendek.
b.   Kretin
Pada tipe kretin nampak seperti orang cebol dengan ciri: badan pendek, kaki tangan pendek, kulit kering, tebal, dan keriput, rambut kering, kuku pendek dan tebal.
c.    Hydrocephalus
Gejala yang nampak adalah semakin membesarnya Cranium (tengkorak kepala) yang disebabkan oleh semakin bertambahnya atau bertimbunnya cairan Cerebro-spinal pada kepala.Cairan ini memberi tekanan pada otak besar (cerebrum) yang menyebabkan kemunduran fungsi otak.
d.   Microcephalus, Macrocephalus, Brachicephalus dan Schaphocephalus
Keempat istilah tersebut menunjukkan kelainan bentuk dan ukuran kepala, yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut:
·      Microcephalus : bentuk ukuran kepala yang kecil
·      Macrocephalus : bentuk ukuran kepala lebih besar dari ukuran normal
·      Brachicephalus : bentuk kepala yang melebar
·      Schaphocephalus: memiliki ukuran kepala yang panjang sehingga menyerupai menara.
e.    Cerebral Palsy (kelompok kelumpuhan pada otak)
Kelumpuhan pada otak mengganggu fungsi kecerdasan, di samping kemungkinan mengganggu pusat koordinasi gerak, sehingga kelainan cerebral palsy terdiri tunagrahita dan gangguan koordinasi gerak.Gangguan koordinasi gerak menjadi kajian bidang penanganan tunadaksa, sedangkan gangguan kecerdasan menjadi kajian bidang penanganan tunagrahita.
f.    Rusak otak (Brain Damage)
Kerusakan otak berpengaruh terhadap berbagai kemampuan yang dikendalikan oleh pusat susunan saraf yang selanjutnya dapat terjadi gangguan kecerdasan, gangguan pengamatan, gangguan tingkah laku, gangguan perhatian, gangguan motorik.
2)   Klasifikasi yang berpandangan pendidikan
Memandang variasi anak tunagrahita dalam kemampuannya mengikuti pendidikan. Kalangan American Education (Moh. Amin, 1995:21) mengelompokkan menjadi Educable mentally retarded, Trainable mentally retarded dan Totally / costudial dependent yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia : mampu didik, mampu latih, dan perlu rawat. Pengelompokan tersebut sebagai berikut:
a.    Mampu didik, anak ini setingkat mild, Borderline, Marginally dependent, moron, dan debil. IQ mereka berkisar 50/55-70/75.
b.   Mampu latih, setingkat dengan Morderate, semi dependent, imbesil, dan memiliki tingkat kecerdasan IQ berkisar 20/25-50/55.
c.    Perlu rawat, mereka termasuk Totally dependent or profoundly mentally retarded, severe, idiot, dan tingkat kecerdasannya 0/5-20/25
3)   Klasifikasi yang berpandangan sosiologis
Memandang variasi tunagrahita dalam kemampuannya mandiri di masyarakat, atau peran yang dapat dilakukan masyarakat. Menurut AAMD (Amin, 1995:22-24) klasifikasi itu sebagai berikut :
a.    Tunagrahita ringan; tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar 50-70, dalam penyesuaian sosial maupun bergaul, mampu menyesuaikan diri pada lingkungan sosial yang lebih luas dan mampu melakukan pekerjaan setingkat semi terampil.
b.   Tunagrahita sedang; tingkat kecerdasan (IQ) mereka berkisar antara 30-50; mampu melakukan keterampilan mengurus diri sendiri (self-helf); mampu mengadakan adaptasi sosial di lingkungan terdekat; dan mampu mengerjakan pekerjaan rutin yang perlu pengawasan atau bekerja di tempat kerja terlindung (sheltered work-shop).
c.    Tunagrahita berat dan sangat berat, mereka sepanjang kehidupannya selalu tergantung bantuan dan perawatan orang lain. Ada yang masih mampu dilatih mengurus sendiri dan berkomunikasi secara sederhana dalam batas tertentu, mereka memiliki tingkat kecerdasan (IQ) kurang dari 30.
4)   Klasifikasi yang dikemukakan oleh Leo Kanner (Amin, 1995:22-24), dan ditinjau dari sudut tingkat pandangan masyarakat sebagai berikut:
a.    Tunagrahita absolut, termasuk kelompok tunagrahita yang jelas nampak ketunagrahitannya baik berada di pedesaan maupun perkotaan, di masyarakat petani maupun masyarakat industri, di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan di tempat pekerjaan. Golongan ini penyandang tunagrahita kategori sedang.
b.   Tunagrahita relatif, termasuk kelompok tunagrahita yang dalam masyarakat tertentu dianggap tunagrahita, tetapi di tempat masyarakat lain tidak dipandang tunagrahita. Anak tunagrahita dianggap demikian ialah anak tunagrahita ringan karena masyarakat perkotaan yang maju dianggap tunagrahita dan di masyarakat pedesaan yang masih terbelakang dipandang bukan tunagrahita.
c.    Tunagrahita semu (pseudo mentally retarded) yaitu anak tunagrahita yang menunjukan penampilan sebagai penyandang tunagrahita tetapi sesungguhnya ia mempunyai kapasitas kemampuan yang normal. Misalnya seorang anak dikirim ke sekolah khusus karena menurut hasil tes kecerdasannya rendah, tetapi setelah mendapat pengajaran remedial dan bimbingan khusus menjadikan kemampuan belajar dan adaptasi sosialnya normal.
5)   Klasisikasi menurut kecerdasan (IQ), dikemukakan oleh Grosman (Hallahan & Kauffman, 1988:48) sebagai berikut:
TERM
IQ RANGE FOR LEVEL
Mild Mental Retardation
Mederate Mental Retardation
Severe Mental Retardation
Profound Mental Retardation
55-70 to Aprox, 70
35-40 to 50-55
20-25 to 35-40
bellow 20 or 25
      Klasifikasi tunagrahita dari berbagai pandangan tersebut jika dipadukan akan membentuk tabel sebagai berikut:
Kemampuan dalam pendidikan
Sosiologis
Tingkat kecacatan
Tingkat kecerdasan (IQ)
Mampu didik
Ringan,mild, marginally, dependent, moron.
Debil
55-70 to Aprox 70
Mampu latih
Sedang, moderate, semi dependent.
Imbesil
35-40 to 50-55
Perlu rawat
Berat, severe, totally dependent, profound.
Idiot
20-25 to 35-40 bellow 20 or 25
      Strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunagrahita pada prinsipnya tidak jauh berbeda penerapannya dengan pendidikan pada umumnya.Pada anak tunagrahita ringan dan sedang mungkin lebih efektif menggunakan strategi pembelajaran yang menekankan latihan yang tidak terlalu banyak menuntut kemampuan berfikir yang kompleks.
a.    Strategi Pembelajaran Individual dan Individualis Pengajaran.
     Pembelajaran individual atau individualisasi pengajaran itu berbeda maknanya dari pengajaran individual.Pengajaran individual adalah pengajaran yang diberikan kepada murid-murid seorang demi seorang atau secara terpisah.Sedangkan individualisasi pengajaran adalah pengajaran yang diberikan oleh guru kepada asing-masing anak, mskipun mereka belajar bersama dan berada bersama-sama didalam satu kelas atau kelompok.Untuk mencapai individualisasi pengajaran yang baik harus disesuaikan dengan minat belajar mengajar murid, juga mesti disesuaikan dengan pilihan, kemampuan belajar dan hasil-hasil yang telh dicapai oleh seorang murid.
     Komponen yang penting bagi individualisasi pengajaran adalah pengelompokkan murid-murid menjadi beberapa kelompok belajar. Pendidikan anak tunagrahita pada umumnya memerlukan sistem pengajaran individual disamping pengajaran klasik,yang penting bukan individual atau klasikalnya, melainkan individualisasi pengajaran; artinya dalam pelaksanaannya boleh individual, kelompok dan boleh klasikal.
b.   Program Pendidikan Individual (PPI atau IEP)
     Program pendidikan individual (PPI) ini merupakan terjemahan dari The Individualized Education Program (IEP).Sesuai dengan namanya, PPI atau IEP adlah suatu program pendidikan yang disusun untuk setiap anak luar biasa. Cakupan PPI jauh lebih luas dari program individualisasi pengajaran, karena PPI tidak hanya mencakup kurikulum bagi siswa, tetapi juga penempatan, lembaga-lembaga yang terkait dalam pendidikan murid tersebut, serta berbagai aspek lain yang terkait.
     Kegunaan PPI adalah untuk menjamin bahwa tiap murid luar biasa di SLB maupun disekolah umum memiliki suatu program yang di individulisasikan untuk mempertemukan kebutuhan-kebutuhan khas yang dimiliki murid dan mengkomunisasikan program tersebut kepada orang-orang yang berkepentigan dalam bentuk suatu program yang sistematis.Program ini juga dapat membantu para guru untuk mengadopsikan program umum dan atau program khusus bagi anak luar biasa yang bertolak atas kekuatan, kelemahan, dan minat anak.
2.   Klasifikasi anak Tunalaras
     Adalah anak-anak yang mengalami gangguan perilaku, yang ditunjukkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun dalam lingkungan sosialnya. Pada hakekatnya, anak-anak tunalaras memiliki kemampuan intelektual yang normal, atau tidak berada di bawah rata-rata.Kelainan lebih banyak banyak terjadi pada perilaku sosialnya. Beberapa klasifikasi yang menonjol dari anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan perilaku sosial ini adalah:
a.    Berdasarkan perilakunya
1)      Beresiko tinggi; hiperaktif suka berkelahi, memukul, menyerang, merusak milik sendiri atau orang lain, melawan, sulit konsentrasi, tidak mau bekerjasama, sok aksi, ingin menguasai oranglain, mengancam, berbohong, tidak bisa diam, tidak dapat dipercaya, suka mencuri, mengejek, dan sebagainya.
2)      Beresiko rendah; autism, kawatir, cemas, ketakutan, merasa tertekan, tidak mau bergaul, menarik diri, kurang percaya diri, bimbang, sering menangis, malu, dan sebagainya.
3)      Kurang dewasa; suka berfantasi, berangan-anagan, mudah dipengaruhi, kaku, pasif, suka mengantuk, mudah bosan, dan sebagainya
4)      Agresif; memiliki gang jahat, suka mencuri dengan kelompoknya, loyal terhadap teman jahatnya, sering bolos sekolah, sering pulang larut malam, dan terbiasa minggat dari rumah.
b.   Berdasarkan Kepribadian
1)     Kekacauan perilaku
2)     Menarik diri (withdrawll)
3)     Ketidakmatangan (immaturity)
4)     Agresi sosial
      Khusus untuk kelainan perilakunya, pendekatan pendidikan bagi anak tunalaras menggunakan pendekatan bimbingan dan konseling serta terapi. Pendekatan terapi yang sering digunakan untuk layanan pendidikan anak tunalaras menurut Hardman, M.L. dkk (1990) adalah:
a)   Insight-oriented thterapies
b)   Play therapy
c)   Group therapy
d)  Behavior therapy
e)   Marital and Family therapy
f)    Drug therapy
      Penggunaan pendekatan terapi sangat bergantung pada jenis dan tingkat problem perilaku yang dimiliki oleh anak tunalaras. Selain pendekatan terapi, dalam pembelajaran khusus untuk anak tunalaras adalah bina pribadi-sosial anak. Mata pelajaran ini diarahkan untuk membina perilaku positif anak tunalaras dalam kaitannya dengan perilaku dirinya dan perilaku dalam berhubungan dengan orang lain.

B. Anak Berkelainan Akademik
1. Anak Berbakat
     Bakat diartikan sebagai kemampuan yang melekat atau “inherent” dalam diri seseorang, jadi dibawa sejak lahir dan keterkaitan dengan struktur otak. Secara genetis struktur otak memang telah terbentuk sejak lahir, tetapi bagaimana berfungsinya otak itu sangat ditentukan oleh caranya lingkungan berinteraksi dengan anak manusia itu. Definisi anak berbakat yang disepakati pada Seminar Pendidikan Luar Biasa di Jakarta pada tanggal 15 sampai 17 September 1980 (Utami Mundar , 1997:2) adalah sebagai berikut:
“Anak berbakat ialah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasi sebagai anak yang mencapai prestasi tinggi karena memiliki kemampuan-kemampuan unggul.
Sedangkan dalam UUSPN No. 2 Tahun 1989, yang disebut anak berbakat adalah “ warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa.” Kecerdasan berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan kemampuan luar biasa tidak hanya terbatas pada kemampuan intelektual.
     Anak berbakat dalam konteks ini adalah anak-anak yang mengalami kelainan intelektual di atas rata-rata. Berkenaan dengan kemampuan intelektual ini Cony Semiawan (1997:24) mengemukakan, bahwa diperkirakan satu persen dari populasi total penduduk Indonesia yang rentangan IQ sekitar 137 ke atas, merupakan manusia berbakat tinggi (highly gifted), sedangkan mereka yang rentangannya berkisar 120-137 yaitu yang mencakup rentangan 10 persen di bawah yang satu persen itu disebut moderately gifted. Mereka semua memiliki talen akademik (academic talented) atau keberbakatan intelektual.
     Beberapa klasifikasi yang menonjol dari anak-anak berbakat umumnya hanya dilihat dari tingkat inteligensinya, berdasarkan standar Stanford Binet, yaitu meliputi :
a.    kategori rata-rata tinggi , dengan tingkat kapasitas intentelektual (IQ): 110-119
b.   kategori superior, dengan tingkat kapasitas intelektual (IQ) :120-139, dan
c.    kategori sangat superior, dengan tingkat intelektual (IQ) :140-169
      Beberapa karakteristik yang menonjol dari anak-anak berbakat sebagaimana diungkapkan Kitato dan Kirby, dalam Mulyono (1994), dalam ini adalah sebagai berikut.
a. Karakteristik Intelektual
1)      Proses belajarnya sangat cepat
2)      Tekun dan rasa ingin tahu yang besar
3)      Rajin membaca
4)      Memiliki perhatian yang lama dalam suatu bidang khusus
5)      Memiliki pemahaman yang sangat maju terhadap suatu konsep
6)      Memiliki sifat kompetitif yang tinggi dalam suatu bidang akademik
b. Karakteristik Sosial-emosional
1)      Mudah diterima teman-teman sebaya dan orang dewasa
2)      Mampu mempertahankan hubungan abadi dengan teman sebaya dan orang dewasa
3)      Melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial, dan memberikan sumbangan pemikiran positif dan konstruktif
4)      Kecendrungan sebagai juru pemisah dalam suatu pertengkaran dan pengambil kebijakan oleh teman sebayanya
5)      Memiliki kepercayaan tentang persamaan derajat semua orang, dan jujur
6)      Perilakunya tidak defensif, dan memiliki tenggang rasa
7)      Bebas dari tekanan emosi, dan mampu mengontrol emosinya sesuai situasi, dan merangsang perilaku produktif bagi orang lain
8)      Memiliki kapasitas yang luar biasa dalam menanggulangi masalah sosial dengan cerdas dan humor
c. Karakteristik Fisik-kesehatan
1)      Berpenampilan rapi dan menarik
2)      Kesehatannya berada lebih baik di atas rata-rata
3)      Tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas (task commitent)
Kebutuhan untuk anak-anak berbakat antara lain:
§  Kebutuhan pendidikan dari segi anak berbakat itu sendiri
Oleh karena potensi yang dimiliki anak berbakat sedemikian hebatnya jika dibandingkan dengan anak biasa maka untuk mengembangkan potensinya mereka membutuhkan beberapa hal.
§  Kebutuhan pendidikan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat
Kehadiran anak brbakat dengan potensinya yang bermakna sangantlh merugikan apabila potensi yang dimiliki anak tersebut tidak diakomodasi dan didorong untuk berkembang sehingga dapat berguna dalam pengembangan bangsa dan negara.
Program yang dapat digunkan atau dikembangkan untuk anak-anak berbakat adalah :
a.    Melalui percepatan atau akselerasi siswa
Akselarasi tidah hanya diartikian sebagai cara untuk mempercepat penyelesaian studi agar lulus lebih awal, tetapi lebih menekankan kepada kebutuhan belajar siswa berbakat agar meningkatkan produktivitas, efisiensi dan evektivitas belajar mereka, percepatan yang terjadi dalam belajar tanpa intervensi pendidikan dan mengurangi kebosanan atau kejenuhan dalam belajar. Model akselarasi dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk, meliputi:
1)   Loncat kelas
2)   Percepatan melalui pelayanan individual
3)   Mengikuti pembelajaran di kelas yang lebih tinggi
b.   Melalui pengayaan
Melayani siswa yang memiliki kemampuan unggul, dapat dilakukan dengan program pengayaan yaitu memberikan tugas-tugas tambahan yang relevan dengan bidang studi yang diterimanya. Model pengayaan ini dapat memenuhi harapan atau kebutuhan siswa dalam mengembangkan kemampuan intelektualnya, dengan tidak memisahkan mereka dari teman-teman sekelasnya.
c.    Model Pengelompokan Berdasarkan Kemampuan
Siswa yang diidentifikasi berbakat dari semua tingkat kelas yang sama disuatu sekolah dikelompokan ke dalam satu kelas. Kelompok tersebut terdapat lima atau delapan anak. Jika lebih dari delapan anak sebaiknya mereka dikelompokan menjadi dua kelompok. Setiap kelompok dibimbing oleh guru yang memiliki kemampuan atau keterampilan khusus untuk mengajar atau membimbing para siswa yang berkemampuan luar biasa.
2. Anak kesulitan belajar
      Secara harfiah kesulitan belajar merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “Learning Disability” yang berarti ketidakmampuan belajar. Kata disability diterjemahkan ”kesulitan” untuk memberikan kesan optimis bahwa anak sebenarnya masih mampu untuk belajar. Istilah lain learning disabilities adalah learning difficulties dan learning differences. Ketiga istilah tersebut memiliki nuansa pengertian yang berbeda. Di satu pihak, penggunaan istilah learning differences lebih bernada positif, namun di pihak lain istilah learning disabilities lebih menggambarkan kondisi faktualnya. Untuk menghindari bias dan perbedaan rujukan, maka digunakan istilah Kesulitan Belajar. Berikut ini beberapa klasifikasi Kesulitan Belajar
a. Kesulitan Belajar Perkembangan (Praakademik)
Kesulitan yang bersifat perkembangan meliputi:
1)   Gangguan Perkembangan Motorik (Gerak)
Gangguan pada kemampuan melakukan gerak dan koordinasi alat gerak. Bentuk-bentuk gangguan perkembangan motorik meliputi; motorik kasar (gerakan melimpah, gerakan canggung), motorik halus (gerakan jari jemari), penghayatan tubuh, pemahaman keruangan dan lateralisasi (arah).
2)   Gangguan Perkembangan Sensorik (Penginderaan)
Gangguan pada kemampuan menangkap rangsang dari luar melalui alat-alat indera. Gangguan tersebut mencakup pada proses:
a)      Penglihatan,
b)      Pendengaran,
c)      Perabaan,
d)     Penciuman
e)      Pengecap
3)   Gangguan Perkembangan Perseptual (Pemahaman atau apa yangdiinderai)
Gangguan pada kemampuan mengolah dan memahami rangsang dari proses  penginderaan sehingga menjadi informasi yang bermakna. Bentuk-bentuk gangguan tersebut meliputi:
a)      Gangguan dalam Persepsi Auditoris, berupa kesulitan memahami objek yang didengarkan.
b)      Gangguan dalam Persepsi Visual, berupa kesulitan memahami objek yang dilihat.
c)      Gangguan dalam Persepsi Visual Motorik, berupa kesulitan memahami objek yang bergerak atau digerakkan.
d)     Gangguan Memori, berupa ingatan jangka panjang dan pendek.
e)      Gangguan dalam Pemahaman Konsep.
f)       Gangguan Spasial, berupa pemahaman konsep ruang.
4)   Gangguan Perkembangan Perilaku          
Gangguan pada kemampuan menata dan mengendalikan diri yang bersifat internal dari dalam diri anak. Gangguan tersebut meliputi:
a)      ADD (Attention Deficit Disorder) atau gangguan perhatian
b)      ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau gangguan perhatian yang disertai hiperaktivitas
b. Kesulitan Belajar Akademik
Kesulitan Belajar akademik terdiri atas:
1)   Disleksia atau Kesulitan Membaca
Disleksia atau kesulitan membaca adalah kesulitan untuk memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan auditoris. Hal ini akan berdampak pada kemampuan membaca pemahaman.
Adapun bentuk-bentuk kesulitan membaca di antaranya berupa:
a)      Penambahan (Addition)
b)      Penghilangan (Omission)
c)      Pembalikan kiri-kanan (Inversion)
d)     Pembalikan atas-bawah (ReversalI)
e)      Penggantian (Substitusi)
2)   Disgrafia atau Kesulitan Menulis
Disgrafia adalah kesulitan yang melibatkan proses menggambar simbol simbol bunyi menjadi simbol huruf atau angka. Kesulitan menulis tersebut terjadi pada beberapa tahap aktivitas menulis, yaitu:
a)      Mengeja
b)      Menulis Permulaan (Menulis cetak dan Menulis sambung)
c)      Menulis Lanjutan/Ekspresif/Komposisi
d)     Diskalkulia atau Kesulitan Berhitung
      Perencanaan  Dan Model Pembelajaran Bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar
a.    Perencanan Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar
1)   Melakukan Asesmen
a)   Asesmen Akademik
Mengumpulkan informasi tentang kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
b)   Asesmen Non-akademik
Mengumpulkan informasi tentang perilaku anak
b.   Menetapkan Setting Pembelajaran
1)      Kelas Reguler
Peserta didik berkesulitan belajar berada di kelas reguler tanpa dipisah dengan peserta didik yang lain. Apabila peserta didik berkesulitan belajar yang berada di kelas reguler mendapat layanan sesuai dengan kebutuhannya maka disebut kelas Inklusif. Layanan yang diberikan dapat menggunakan setting individual seperti yang dijelaskan di bawah (bagian c). Sedangkan bila peserta didik berkesulitan belajar tidak mendapat layanan maka disebut kelas integrasi.
2)      Kelompok
Beberapa peserta didik berkesulitan belajar digabung dalam satu ruang khusus dan diberikan layanan pembelajaran tersendiri.
3)      Individual
Setting pembelajaran ini dirancang dan dilaksanakan pada peserta didik secara individual. Dalam pelaksanaannya, guru melayani peserta didik berkesulitan belajar secara terpisah atau dapat melayani peserta didik berkesulitan belajar bersama peserta didik yang lain di dalam kelas (klasikal).Setting pembelajaran di atas dapat dilakukan di sekolah model inklusif ataupun sekolah reguler pada umumnya.
c.    Mempertimbangkan Pendekatan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran untuk peserta didik berkesulitan belajar perlu mempertimbangkan beberapa pendekatan. Masing-masing pendekatan pembelajaran memiliki asumsi yang berbeda-beda. Berikut ini beberapa pendekatan pembelajaran.
1)   Pendekatan Perkembangan:
a)   Kemampuan peserta didik berkembang sesuai dengan usia.
b)   Kemampuan atau hambatan dipengaruhi oleh tahap perkembangan sebelumnya.
2)   Pendekatan Perilaku:
a)   Kemampuan atau hambatan peserta didik muncul dalam bentuk perilaku
b)   Kemampuan atau hambatan yang muncul merupakan masalah saat ini
3)   Pendekatan Kognitif:
a)   Peserta didik harus mempelajari makna belajar
b)   Belajar merupakan proses penataan pikiran
c)   Pemahaman merupakan tujuan dari proses dan hasil belajar
4)   Pendekatan Humanistik
Pendekatan humanistik merupakan pandangan yang berusaha memahami manusia sebagai makhluk yang bermartabat. Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam pendekatan humanistik adalah kebutuhan individu, potensi diri, pengembangan harga diri.
d.   Menyiapkan Rancangan Pembelajaran Individual
Tahapan-tahapan dalam pembelajaran sesuai dengan setting pembelajaran (setting inklusif/kelompok dan setting individual).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar