BAB XV
TINDAK
LANJUT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A.
Pengertian
Identifikasi
Identifikasi
dalam pengertian ini, dimaksudkan adalah usaha untuk mengenali atau menemukan
anak berkebutuhan khusus sesuai dengan ciri-ciri yang ada. Menemukenali
anak-anak berkebutuhan khusus sudah barang tentu membutuhkan perhatian serius.
Ada anak-anak yang dengan mudah dapat dikenali sebagai anak berkebutuhan
khusus, tetapi ada juga yang membutuhkan pendekatan dan peralatan khusus untuk
menentukan, bahwa anak tersebut tergolong anak-berkebutuhan khusus. Anak-anak
yang mengalami kelainan fisik misalnya, dapat dikenali dengan keberadaannya,
sebaliknya untuk anak-anak yang mengalami kelainan dalam segi intelektual
maupun emosional memerlukan instrument dan alasan yang rasional untuk dapat
menentukan keberadaannya.diperlukan dalam melakukan identifikasi anak-anak
berkebutuhan khusus di sekolah oleh guru, dan ini dapat dilakukan guru setiap
saat. Kendati demikian, untuk dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap,
maka usaha identifikasi perlu dilakukan dengan berbagai cara, selain melakukan
pengamatan secara seksama, perlu juga dilakukan wawancara dengan orangtua
ataupun keluarga lainnya. Informasi yang telah diperoleh selanjutnya dapat
digunakan untuk menemukenali dan menentukan anak-anak yang berkebutuhan khusus.
B. Sasaran Identifikasi
Sebelum mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus secara langsung,
biasanya akan dilakukan identifikasi secara umum terhadap seluruh anak usia
pra-sekolah dan usia sekolah dasar di suatu kelas / sekolah kemudian
dikerucutkan. Sedangkan secara khusus (operasional), sasaran identifikasinya
adalah anak dengan kebutuhan khusus adalah:
1.
Anak yang sudah bersekolah di Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/ setingkat;
2.
Anak yang akan masuk ke Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah/setingkat;
3.
Anak yang belum/tidak bersekolah karena
orangtuanya merasa anaknya tergolong anak dengan kebutuhan khusus sedangkan
lokasi SLB jauh dari tempat tinggalnya; sementara itu, semula SD terdekat
belum/tidak mau menerimanya;
4.
Anak yang drop-out Sekolah
Dasar/Madrasah.Setingkat Ibtidaiyah karena faktor akademik.
C. Petugas Identifikasi
Untuk mengidentifikasi seorang anak apakah tergolong anak dengan
kebutuhan khusus atau bukan, dapat dilakukan oleh:
1. Guru kelas;
2. Orang tua anak; dan/atau
3. Tenaga professional
terkait (Orthopedagog / Ahli PLB, Konselor / Bimbingan konseling, Psikolog,
bahkan Dokter)
D. Pelaksanaan Identifikasi
Ada beberapa langkah dalam rangka pelaksanaan identifikasi anak
berkebutuhan khusus. Untuk identifikasi anak usia sekolah yang belum bersekolah
atau drop out sekolah, maka sekolah yang bersangkutan perlu melakukan pendataan
ke masyarakat sekitar kerjasama dengan Kepala Desa/Lurah, RT, RW setempat. Jika
pendataan tersebut ditemukan anak berkelainan, maka proses berikutnya dapat
dilakukan pembicaraan dengan orangtua, komite sekolah maupun perangkat desa
setempat untuk mendapatkan tindak lanjutnya.
Untuk anak-anak yang sudah masuk dan menjadi siswa pada sekolah
tertentu, identifikasi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menghimpun data tentang
anak
Pada tahap ini petugas (guru) menghimpun data
kondisi seluruh siswa di kelas (berdasar gejala yang nampak pada siswa) melalui
instrumen-instrumen daftar ceklist perkembangan anak, baik secara fisik atau
psikis. Bisa juga dengan membaca hasil tes psikologi yang pernah dilakukan anak
sebelumnya.
2. Menganalisis data dan
mengklasifikasi anak
Pada tahap ini tujuannya adalah untuk menemukan
anak-anak yang tergolong anak dengan kebutuhan khusus (yang memerlukan
pelayanan pendidikan khusus). Buatlah daftar nama anak yang diindikasikan
berkelainan sesuai dengan ciri-ciri dan standar nilai yang telah ditetapkan.
Jika ada anak yang memenuhi syarat untuk disebut atau berindikasi kelainan
sesuai dengan ketentuan tersebut, maka dimasukkan ke dalam daftar nama-nama
anak yang berindikasi kelainan. Sedangkan untuk anak-anak yang tidak
menunjukkan gejala atau tanda-tanda berkelainan, tidak perlu dimasukkan ke
dalam daftar khusus tersebut. Kemudian data ini bisa dilanjutkan lagi kepada
ahli PLB / Orthopedagog untuk ditindaklanjuti.
3. Mengadakan pertemuan
konsultasi dengan kepala sekolah
Pada tahap ini, hasil analisis dan klasifikasi
yang telah dibuat guru dilaporkan kepada Kepala Sekolah untuk mendapat
saran-saran pemecahan atau tindak lanjutnya.
4. Menyelenggarakan
pertemuan kasus (case conference)
Pada tahap ini, kegiatan dikoordinasikan oleh
Kepala Sekolah setelah data anak dengan kebutuhan khusus terhimpun dari seluruh
kelas. Kepala Sekolah dapat melibatkan:
a.
Kepala Sekolah sendiri;
b.
Dewan Guru;
c.
Orang tua/wali siswa;
d.
Tenaga professional terkait, jika tersedia dan
dimungkinkan;
e.
Guru Pembimbing Khusus (Guru PLB) jika tersedia
dan memungkinkan.
5. Menyusun laporan hasil
pertemuan kasus
Pada tahap ini, tanggapan dan cara-cara
pemecahan masalah dan penanggulangannya perlu dirumuskan dalam laporan hasil
pertemuan kasus.
E. Alat Identifikasi
Secara sederhana ada beberapa aspek informasi yang perlu
mendapatkan perhatian dalam pelaksanaan identifikasi. Contoh alat identifikasi
sederhana untuk membantu guru dan orang tua dalam rangka menemukenali anak yang
memerlukan layanan pendidikan khusus, antara lain sebagai berikut :
1.
Form 1 : Informasi riwayat perkembangan anak
2.
Form 2 : informasi/ data orangtua anak/wali
siswa
3.
Form 3 : informasi profil kelainan anak (Bila
memungkinkan form ini dibuat oleh Ahli PLB / Orthopedagog)
Dari ketiga informasi tersebut secara singkat
dijelaskan sebagai berikut.
1. Informasi riwayat
perkembangan anak
Informasi riwayat
perkembangan anak adalah informasi mengenai keadaan anak sejak di dalam
kandungan hingga tahun-tahun terakhir sebelum masuk SD/MI/Setingkat. Informasi
ini penting sebab dengan mengetahui latar belakang perkembangan anak, mungkin
kita dapat menemukan sumber penyebab problem belajar.
Informasi mengenai
perkembangan anak sangat penting bagi guru untuk mempertimbangkan kebijakan
program pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Informasi perkembangan
anak biasanya mencakup identitas anak, riwayat masa kehamilan dan kelahiran,
perkembangan masa balita, perkembangan fisik, perkembangan sosial, dan
perkembangan pendidikan.
Riwayat masa kehamilan
dan kelahiran meliputi perkembangan masa kehamilan, penyakit yang diderita ibu,
usia di dalam kandungan, proses kelahiran, tempat kelahiran, penolong
persalinan, gangguan pada saat proses kelahiran, berat badan bayi, panjang
badan bayi, dan tanda-tanda kelainan pada bayi.
Perkembangan masa balita
sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai lama menyusui ibunya, usia akhir
minum susu kaleng, kegiatan imunisasi, penimbangan, kualitas dan kuantitas
makanan pada masa balita, kesulitan makan yang dialami, dan sebagainya.
Perkembangan fisik
diperlukan terutama data mengenai kapan anak mulai dapat merangkak, berdiri,
berjalan, naik sepeda roda tiga, naik sepeda roda dua, berbicara dengan kalimat
lengkap, kesulitan gerakan yang dialami, status gizi balita, dan riwayat
kesehatan.
Perkembangan sosial
terutama berkaitan dengan hubungan dengan saudara, hubungan dengan teman,
hubungan dengan orang tua dan guru, hobi anak, dan minat khusus. Perkembangan
pendidikan meliputi informasi mengenai kapan masuk TK, berapa lama pendidikan
di TK, kapan masuk SD, apa kesulitan selama di TK, apa kesulitan selama di SD,
apakah pernah tinggal kelas, pelayanan khusus yang pernah diberikan, prestasi
belajar tiap caturwulan atau semester, mata pelajaran yang dirasa paling sulit,
dan mata pelajaran yang paling disenangi.
2. Data orang tua/wali
siswa
Selain data mengenai
anak, tidak kalah pentingnya adalah informasi mengenai keadaan orang tua/wali
siswa yang bersangkutan. Dalam beberapa penelitian diketahui bahwa lingkungan
keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan belajar
anak. Lingkungan keluarga dapat meliputi pendidikan orang tua, pekerjaan orang
tua, status sosial ekonomi, sikap dan penerimaan orang tua terhadap anak, serta
pola asuh yang diterapkan keluarga terhadap anak.
Data orang tua/wali
siswa sekurang-kurangnya mencakup informasi mengenai identitas orang tua/wali,
hubungan orang tua-anak, data sosial ekonomi orang tua, serta tanggungan dan
tanggapan orang tua/ keluarga terhadap anak. Identitas orang tua harus lengkap,
tidak hanya identitas ayah melainkan juga identitas ibu, misalnya umur, agama,
status, pendidikan, pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan, dan tempat tinggal.
Hubungan orang tua-anak
menggambarkan sejauh mana intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.
Misalnya apakah kedua orang tua satu rumah atau tidak, demikian juga dengan
anak. Apakah diasuh salah satu orang tua, pembantu, atau keluarga lain. Semua
kondisi tersebut mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar anak.
Mengenai data keadaan
sosial ekonomi diperlukan agar sekolah dapat memperhitungkan kemampuan orang
tua dalam pendidikan anaknya. Data sosial ekonomi dapat mencakup informasi
mengenai jabatan formal maupun non formal ayah dan ibu, serta besarnya
penghasilan rata-rata per bulan.
Sedangkan mengenai
tanggapan orang tua yang perlu diungkapkan antara lain persepsi orang tua
terhadap anak, kesulitan yang dirasakan orang tua terhadap anak yang
bersangkutan, harapan orang tua dan bantuan yang diharapkan orang tua untuk
anak yang bersangkutan.
3. Informasi mengenai
profil kelainan anak
Informasi mengenai
gangguan/kelainan anak sangat penting, sebab dari beberapa penelitian terbukti
bahwa anak-anak yang prestasi belajarnya rendah cenderung memiliki
gangguan/kelainan penyerta. Survei terhadap 696 siswa SD dari empat provinsi di
Indonesia yang rata-rata nilai rapornya kurang dari 6,0 (enam, nol), ditemukan
bahwa 71,8% mengalami disgrafia, 66,8% disleksia, 62,2% diskalkulia, juga 33%
mengalami gangguan emosi dan perilaku, 31% gangguan komunikasi, 7,9% cacat /
kelainan anggota tubuh, 6,6% gangguan gizi dan kesehatan, 6% gangguan
penglihatan, dan 2% gangguan pendengaran (Balitbang, 1996).
Tanda-tanda kelainan
atau gangguan khusus pada siswa (jika ada) perlu diketahui guru. Kadang-kadang
adanya kelainan khusus pada diri anak, secara langsung atau tidak langsung,
dapat menjadi salah satu faktor timbulnya problema belajar. Tentu saja hal ini
sangat bergantung pada berat ringannya kelainan yang dialami serta sikap
penerimaan anak terhadap kondisi tersebut.
F.
Assessment
1.
Pengertian
Asesmen
Sebelum
mencermati pengertian dan aktivitas asesmen, coba perhatikan contoh cerita
berikut ini.
Ilustrasi:
Ada seorang guru kelas
rendah di suatu sekolah dasar yang mendapati seorang siswanya selalu menghindar
untuk berfikir. Siswa tersebut sangat membenci pelajaran matematika, atau
hal-hal lain yang ada hubungannya dengan berhitung atau berfikir. Guru mencoba
mengamati secara rutin, terhadap perkembangan belajar siswa tersebut, terutama
dalam bidang matematika, tapi hasilnya tidak memuaskan. Selanjutnya guru
mencoba untuk melakukan tes diagnosis matematik, yang berupa tes prestasi untuk
menentukan kemampuan matematika secara khusus. Hasilnya, diketahui bahwa siswa
tersebut ternyata mengalami kesulitan dalam matematika penalaran dan pemecahan
masalah, sedang matematika dasar tidak mengalami kesulitan.
Dari
contoh tersebut, sesungguhnya ada hal yang menarik untuk diperhatikan. Pertama,
bahwa di sekolah dasar seringkali ditemukan anak-anak yang berkesulitan belajar
atau berkebutuhan khusus. Kedua, guru di sekolah umumnya sangat jarang
melakukan asesmen terhadap kondisi-kondisi siswanya, dan Ketiga, program khusus
atau remedial terhadap kebutuhan individu masih sangat miskin dilakukan di
sekolah. Contoh tersebut juga memberi gambaran betapa pentingnya dilakukan
asesemen di sekolah, sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk anak-anak
berkebutuhan khusus.
Pengertian
asesmen dalam kerangka pendidikan anak berkebutuhan khusus, dimaksudkan sebagai
usaha untuk memperoleh informasi yang relevan guna membantu seseorang dalam
membuat suatu keputusan. Dalam istilah Bahasa Inggrisassessment berarti
penilaian terhadap suatu keadaan, penilaian dalam konteks ini adalah evaluasi
terhadap kondisi atau keadaan anak-anak berkebutuhan khusus, jadi bukan
merupakan penilaian terhadap hasil suatu aktivitas atau kegiatan pembelajaran
di sekolah.
Walace,
G & Larsen (1978:7) menegaskan pula, bahwa asesemen merupakan proses
pengumpulan informasi pembelajaran yang relevan. Asesmen merupakan aktivitas
yang amat penting dalam proses pembelajaran di sekolah, untuk itu
pelaksanaannya harus benar-benar dilakukan secara obyektif dan komprehentif
terhadap kondisi dan kebutuhan anak.
Sebagai
tindak lanjut dari identifikasi, hasil yang diperoleh dari asesemen pendidikan
akan bermanfaat bagi guru sebagai panduan dalam dua hal pokok, yaitu
merencanakan program dan implementasi program pembelajaran. Untuk itu dalam
upaya perencanaan tujuan dan penentuan sasaran pembelajaran, dan strategi
pembelajaran yang tepat.Data atau informasi yang diperoleh dalam asesmen ini umumnya
berkenaan dengan tahap pembelajaran, kelemahan dan kecakapan, serta hal-hal
yang berkaitan dengan perilaku seorang siswa.
2.
Tujuan
Asesmen
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai terkait
dengan dilaksanakan asesmen di sekolah, khususnya bagi anak-anak berkebutuhan
khusus. Terkait dengan waktunya Moh Amin (1995:125) menjelaskan adanya lima
tujuan dilaksanakannya asesmen bagi anak berkebutuhan khusus, yaitu:
1)
Menyaring kemampuan anak, yaitu untuk mengetahui kemampuan anak pada
setiap aspek, misalnya bagaimana kemampuan bahasa, kognitif, kemampuan gerak,
atau penesuaian dirinya,
2)
Pengklafifikasian, penempatan, dan penentuan program,
3)
Penentuan arah dan tujuan pendidikan, ini terkait dengan perbedaan
klasifikasi berat ringannya kelainan yang disandang seorang anak, yang
berdampak pada perbedaan tujuan pendidikannnya,
4)
Pengembangan program pendidikan individual yang sering dikenal
sebagaiindividualized educational program, yautu suatu program pendidikan yang
dirancang khusus secara individu untuk anak-anak berkebutuhan khusus, dan
5)
Penentuan strategi, lingkungan belajar, dan evalusi pembelajaran.
Dari
uraian tujuan di atas, setidaknya ada beberapa hal penting yang perlu digaris bawahi
dalam asesmen, yaitu :
a. Asesmen dilakukan untuk penseleksian anak-anak
yang berkebutuhan khusus,
b. Asesmen bertujuan pula untuk penempatan siswa,
sesuai dengan kemampuannya,
c. Untuk merencanakan program dan strategi
pembelajaran, dan
d. Untuk mengevaluasi dan memantau perkembangan
belajar siswa.
Secara
khusus, sesungguhnya tujuan asesmen dapat berorientasi pada
keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh seorang anak, baik dalam segi
kemampuan akademik ataupun non akademik.
3.
Langkah
Pelaksanaan
Sebagai suatu aktivitas yang sistematik dan
berkelanjutan, sudah barang tentu asesmen perlu dilakukan sesuai dengan
prosedur yang baik, agar dengan begitu hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan
yang diharapkan. Adanya beberap factor yang terkait dengan pelaksanaan asesmen
juga harus dipertimbangkan secara seksama.
Secara lebih spesifik Mercer & Mercer (1989:38)
menjelaskan adanya beberapa langkah yang dilakukan dalam asesmen anak
berkebutuhan khusus di sekolah, yaitu:
a.
Menentukan cakupan dan tahapan keterampilan yang akan diajarkan. Agar
pelaksanaan asesmen dapat dilakukan secara efektif, maka seyogyanya guru
terlebih dahulu memahami tahapan kompetensi pembelajaran siswa dalam bidang
pembelajaran tertentu. Ini penting dilakukan untuk mengetahui dengan jelas
keterampilan-keterampilan apa yang telah dikuasai siswa. Secara teknik guru
dapat melakukannya melalui analisis tugas dalam kegitan pembelajaran di
sekolah.
b.
Menetapkan perilaku yang akan diases. Asesmen perilaku diawali dari
tahapan yang paling umum menuju tahapan yang khusus. Perilaku umum menunjuk
pada rentang kompetensi siswa dalam penguasaan materi kurikulum, misalnya pada
mata pelajaran bahasa mencakup kompetensi dasar untuk semua aspek bahasa.
Sedang yang khusus, mungkin hanya pada aspek membaca saja.
c.
Memilih aktivitas evaluasi, guru harus mempertimbangkan aktivitas yang
akan dilakukan itu untuk evaluasi dalam rentang kompetensi umum, atau
kompetensi khusus . Evaluasi kompetensi umum, lazimnya dilakukan secara
periodik (semester), sedang untuk kompetensi khusus sebaiknya dilakukan secara
formatif dan berkesinambungan.
d.
Pengorganisasian alat evaluasi. Hal ini perlu dilakukan berkenaan dengan
evaluasi pendahuluan, yang mencakup; identifikasi masalah, pencatatan
bentuk-bentuk kesalahan yang terjadi, dan evaluasi keterampilan-keterampilan
tertentu. Setelah evaluasi awal dilakukan, selanjutnya ditentukan tujuan dan
strategi pembelajaran, serta implementasi dan pemantuan kemajuan belajar siswa.
e.
Pencatatan kinerja siswa. Ada dua hal mengenai kinerja siswa yang harus
dicatat guru, yaitu kinerja siswa pada pelaksanaan tugas sehari-hari, dan
penguasaan keterampilan secara keseluruhan, yang umumnya dicacat pada laporan
kemajuan belajar siswa.
f.
Penentuan tujuan pembelajaran khusus untuk jangka pendek dan jangka
panjang. Di sini guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran khusus bagi anak
dalam jangka pendek secara spesifik, misalnya dalam aspek membaca atau mengeja
dalam pelajaran bahasa, tetapi harus tetap berkontribusi dalam tujuan jangka
panjang.
4.
Teknik
Pelaksanaan Asesmen
Terdapat beberapa teknik atau metode yang dapat
dilakukan dalam upaya pelaksanaan asesmen untuk anak-anak berkebutuhan khusus
di sekolah (dasar). Beberapa diantara yang dapat dijelaskan di sini adalah
melalui observasi, tes formal dan informal, dan wawancara, dengan didukung
beberapa instrumen seperti checklist ataupun skala penilaian.
a.
Observasi, merupakan pengamatan yang dilakukan secara seksama terhadap
aktivitas belajar siswa, seperti cara pelajar, kinerja, perilaku, ataupun
kompetensi yang dicapai.
b.
Tes formal, sesungguhnya merupakan merupakan suatu bentuk tes yang telah
terstandarkan, yang memiliki acuan norma ataupun acuan patokan dengan tolok
ukur yang telah ditetapkan. Tes demikian umumnya dikembangkan secara global,
oleh para ahli dibidangnya. Dalam konteks asesmen pendidikan anak-anak
berkebutuhan khusus, sesungguhnya kurang cocok untuk dilakukan, jika dilihat
dari tujuannya yang sangat spesifik, dan mencakup persoalan-persoalan
pendidikan yang unik, yang dihadapi siswa berkebutuhan khusus secara
individual.
c.
Tes informal. Suatu jenis tes yang sangat bermanfaat dan sangat sesuai
untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkenaan dengan
kompetensi dan kemajuan belajar anak berkebutuhan khusus. Tes informal umumnya
dipersiapkan dan disusun sendiri oleh guru, serta digunakan secara intensif
untuk mengetahui kompetensi-kompetensi khusus pada anak. Dalam kaitannya dengan
asesmen, ada beberapa bentuk yang sering digunakan, yaitu checklist, tes buatan
sendiri, ataupun berupa cloze
d.
Wawancara, atau interview untuk memperoleh informasi dengan sasaran utama
orangtua, keluarga, guru di sekolah ataupun teman sepermainan
G. Tindak Lanjut Kegiatan
Identifikasi
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan identifikasi anak berkelainan
untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai, maka dilakukan tindak
lanjut sebagai berikut:
1. Perencaanaan
pembelajaran dan pengorganisasian siswa
Pada tahap ini kegiatan
yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan bidang-bidang
atau aspek problema belajar yang akan ditangani: Apakah seluruh mata pelajaran,
sebagian mata pelajaran, atau hanya bagian tertentu dari suatu mata pelajaran.
b. Menetapkan pendekatan
pembelajaran yang akan dipilih termasuk rencana pengorganisasian siswa, apakah
bentuknya berupa pelajaran remedial, penambahan latihan-latihan di dalam kelas
atau luar kelas, pendekatan kooperatif, atau kompetitif, dan lain- lain.
c. Menyusun program
pembelajaran individual.
2. Pelaksanaan pembelajaran
Pada tahap ini guru
melaksanakan program pembelajaran serta pengorganisasian siswa berkelainan
dalam kelas reguler sesuai dengan rancangan yang telah disusun dan ditetapkan pada
tahap sebelumnya. Sudah tentu pelaksanaan pembelajaran harus senantiasa
disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan anak, tidak dapat dipaksakan
sesuai dengan target yang akan dicapai oleh guru. Program tersebut bersifat
fleksibel.
3. Pemantauan kemajuan
belajar dan evaluasi
Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam
membantu mengatasi kesulitan belajar anak, perlu dilakukan pemantauan secara
terus menerus terhadap kemajuan dan/atau bahkan kemunduran belajar anak. Jika
anak mengalami kemajuan dalam belajar, pendekatan yang dipilih guru perlu terus
dimantapkan, tetapi jika tidak terdapat kemajuan, perlu diadakan peninjauan
kembali, baik mengenai isi dan pendekatan program, maupun motivasi anak yang
bersangkutan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Dengan demikian
diharapkan pada akhirnya semua problema belajar anak, secara bertahap dapat
diperbaiki sehingga anak terhindar dari kemungkinan tidak naik kelas atau
bahkan putus sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar