BAB
XIII
ASESMEN
LAYANAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR
A.
Pengertian
Asesmen Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Pengertian asesmen dalam kerangka
pendidikan anak berkebutuhan khusus, dimaksudkan sebagai usaha untuk memperoleh
informasi yang relevan guna membantu seseorang dalam membuat suatu keputusan.
Dalam istilah Bahasa Inggris assessment berarti penilaian terhadap suatu
keadaan, penilaian dalam konteks ini adalah evaluasi terhadap kondisi atau
keadaan anak-anak berkebutuhan khusus, jadi bukan merupakan penilaian terhadap
hasil suatu aktivitas atau kegiatan pembelajaran di sekolah. Walace, G &
Larsen menegaskan pula, bahwa asesemen merupakan proses pengumpulan informasi
pembelajaran yang relevan. Asesmen merupakan aktivitas yang amat penting dalam
proses pembelajaran di sekolah, untuk itu pelaksanaannya harus benar-benar
dilakukan secara obyektif dan komprehentif terhadap kondisi dan kebutuhan anak.
Sebenarnya masih banyak sekali definisi atau pengertian asesmen yang dirumuskan
oleh para ahli, yang pada intinya mengarah pada upaya pengumpulan informasi
dalam upaya perencanaan dan implementasi pembelajaran siswa di sekolah.
Sebagai tindak lanjut dari identifikasi,
hasil yang diperoleh dari asesemen pendidikan akan bermanfaat bagi guru sebagai
panduan dalam dua hal pokok, yaitu merencanakan program dan implementasi
program pembelajaran. Untuk itu dalam upaya perencanaan tujuan dan penentuan
sasaran pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang tepat, dalam asesmen
pendidikan anak berkebutuhan khusus sangat diperlukan adanya pengumpulan
informasi yang relevan dan komprehensif. Data atau informasi yang diperoleh
dalam asesmen ini umumnya berkenaan dengan tahap pembelajaran, kelemahan dan
kecakapan, serta hal-hal yang berkaitan dengan perilaku seorang siswa. Coba
kita perhatikan contoh cerita berikut ini.
Ilustrasi:
Ada
seorang guru kelas rendah di suatu sekolah dasar yang mendapati seorang
siswanya selalu menghindar untuk berfikir. Siswa tersebut sangat membenci
pelajaran matematika, atau hal-hal lain yang ada hubungannya dengan berhitung
atau berfikir. Guru mencoba mengamati secara rutin, terhadap perkembangan
belajar siswa tersebut, terutama dalam bidang matematika, tapi hasilnya tidak
memuaskan. Selanjutnya guru mencoba untuk melakukan tes diagnosis matematik,
yang berupa tes prestasi untuk menentukan kemampuan matematika secara khusus.
Hasilnya, diketahui bahwa siswa tersebut ternyata mengalami kesulitan dalam
matematika penalaran dan pemecahan masalah, sedang matematika dasar tidak
mengalami kesulitan.
Dari
contoh tersebut, sesungguhnya ada hal yang menarik untuk diperhatikan. Pertama,
bahwa di sekolah dasar seringkali ditemukan anak-anak yang berkesulitan belajar
atau berkebutuhan khusus. Kedua, guru di sekolah umumnya sangat jarang
melakukan asesmen terhadap kondisi-kondisi siswanya, dan Ketiga, program khusus
atau remedial terhadap kebutuhan individu masih sangat miskin dilakukan di
sekolah. Contoh tersebut juga memberi gambaran betapa pentingnya dilakukan
asesemen di sekolah, sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk anak-anak
berkebutuhan khusus.
B.
Tujuan
Asesmen Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai
terkait dengan dilaksanakan asesmen di sekolah, khususnya bagi anak-anak
berkebutuhan khusus. Terkait dengan waktunya Moh Amin (1995:125) menjelaskan
adanya lima tujuan dilaksanakannya asesmen bagi anak berkebutuhan khusus,
yaitu:
1.
Menyaring kemampuan
anak, yaitu untuk mengetahui kemampuan anak pada setiap aspek, misalnya
bagaimana kemampuan bahasa, kognitif, kemampuan gerak, atau penesuaian dirinya
2.
Pengklafifikasian,
penempatan, dan penentuan program
3.
Penentuan arah dan
tujuan pendidikan, ini terkait dengan perbedaan klasifikasi berat ringannya
kelainan yang disandang seorang anak, yang berdampak pada perbedaan tujuan
pendidikannnya
4.
Pengembangan program
pendidikan individual yang sering dikenal sebagai individualized educational
program, yaitu suatu program pendidikan yang dirancang khusus secara individu
untuk anak-anak berkebutuhan khusus
5.
Penentuan strategi,
lingkungan belajar, dan evalusi pembelajaran.
Selain kelima tujuan di atas, Wallace, G
& Larsen, S mengemukakan adanya dua tujuan dalam pelaksanaan asesmen,
yaitu:
1.
Untuk mengidentifikasi
dan terkadang pemberian label untuk kepentingan administratif masalah belajar
yang dialami anak-anak berkebutuhan khusus,
2.
Untuk memperoleh
informasi tambahan yang dapat membantu dalam merumuskan tujuan pembelajaran,
dan strategi pemberian remedial bagi anak-anak yang diduga berkebutuhan khusus.
Dari uraian tujuan di atas, setidaknya ada
beberapa hal penting yang perlu digaris bawahi dalam asesmen, yaitu:
1.
Asesmen dilakukan untuk
penseleksian anak-anak yang berkebutuhan khusus,
2.
Asesmen bertujuan pula
untuk penempatan siswa, sesuai dengan kemampuannya,
3.
Untuk merencakan
program dan strategi pembelajaran,
4.
Untuk mengevaluasi dan
memantau perkembangan belajar siswa.
Secara khusus, sesungguhnya tujuan
asesmen dapat berorientasi pada keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh
seorang anak, baik dalam segi kemampuan akademik ataupun nonakademik. Keterampilan
akademik terkait dengan kemampuan anak dalam bidang-bidang scholastik atau
matapelajaran yang membutuhkan pemikiran dan penalaran, seperti bahasa dan
matematika. Di sini akan dapat diketahui dan ditentukan dalam hal apa anak
mengalami permasalahan, serta bagaimana langkah-langkah yang dapat dilakukan
untuk menjawab permasalahan tersebut. Sedang keterampilan nonakademik
menyangkut kemampuan atau kesanggupan anak dalam bidang-bidang yang tidak
berorientasi pada pemikiran dan penalaran, misalnya kesenian, orahraga,
vocasional, atau kemampuan motorik.
C.
Langkah
Asesmen Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Sebagai
suatu aktivitas yang sistematik dan berkelanjutan, sudah barangtentu asesmen
perlu dilakukan sesuai dengan prosedur yang baik, agar dengan begitu hasil yang
dicapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Adanya beberap faktor yang
terkait dengan pelaksanaan asesmen juga harus dipertimbangkan secara seksama.
Berikut adalah alur asesmen secara skematik.
Langkah
umum pelaksanaan asesmen pendidikan
![]() |
|||
![]() |
|||
![]() |
Dari
skema tersebut, terlihat bahwa tahapan asesmen dilakukan dengan terlebih dahulu
merumuskan tujuannya dengan memperhatikan tahapan ruang lingkup materinya.
Setelah tujuan ditentukan langkah selanjutnya adalah merumuskan prosedurnya,
yang dapat dilakukan melalui tes formal maupun informal untuk memperoleh
informasi yang diperlukan. Dari hasil informasi yang telah diperoleh,
selanjutnya diolah dan dianalisis guna menentukan tujuan pembelajaran, dan
strateginya dalam pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Setelah
langkah-langkah tersebut dilakukan, maka sebagai tindak lanjutnya adalah
implementasi kegiatan pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Secara
lebih spesifik Mercer & Mercer (1989:38) menjelaskan adanya beberapa
langkah yang dilakukan dalam asesmen anak berkebutuhan khusus di sekolah,
yaitu:
1.
Menentukan cakupan dan
tahapan keterampilan yang akan diajarkan. Agar pelaksanaan asesmen dapat
dilakukan secara efektif, maka seyogyanya guru terlebih dahulu memahami tahapan
kompetensi pembelajaran siswa dalam bidang pembelajaran tertentu. Ini penting
dilakukan untuk mengetahui dengan jelas keterampilan-keterampilan apa yang
telah dikuasai siswa. Secara teknik guru dapat melakukannya melalui analisis tugas
dalam kegitan pembelajaran di sekolah.
2.
Menetapkan perilaku
yang akan diases. Asesmen perilaku diawali dari tahapan yang paling umum menuju
tahapan yang khusus. Perilaku umum menunjuk pada rentang kompetensi siswa dalam
penguasaan materi kurikulum, misalnya pada mata pelajaran bahasa mencakup
kompetensi dasar untuk semua aspek bahasa. Sedang yang khusus, mungkin hanya
pada aspek membaca saja.
3.
Memilih aktivitas
evaluasi, guru harus mempertimbangkan aktivitas yang akan dilakukan itu untuk
evaluasi dalam rentang kompetensi umum, atau kompetensi khusus . Evaluasi
kompetensi umum, lazimnya dilakukan secara periodik (semester), sedang untuk
kompetensi khusus sebaiknya dilakukan secara formatif dan berkesinambungan.
4.
Pengorganisasian alat
evaluasi, Hal ini perlu dilakukan berkenaan dengan evaluasi pendahuluan, yang
mencakup; identifikasi masalah, pencatatan bentuk-bentuk kesalahan yang
terjadi, dan evaluasi keterampilan-keterampilan tertentu. Setelah evaluasi awal
dilakukan, selanjutnya ditentukan tujuan dan strategi pembelajaran, serta
implementasi dan pemantuan kemajuan belajar siswa.
5.
Pencatatan kinerja
siswa, Ada dua hal mengenai kinerja siswa yang harus dicatat guru, yaitu
kinerja siswa pada pelaksanaan tugas sehari-hari, dan penguasaan keterampilan
secara keseluruhan, yang umumnya dicacat pada laporan kemajuan belajar siswa.
6.
Penentuan tujuan
pembelajaran khusus untuk jangka pendek dan jangka panjang, Di sini guru perlu
merumuskan tujuan pembelajaran khusus bagi anak dalam jangka pendek secara
spesifik, misalnya dalam aspek membaca atau mengeja dalam pelajaran bahasa,
tetapi harus tetap berkontribusi dalam tujuan jangka panjang.
Langkah-langkah
pelaksanaan asesmen sebagaimana diuraikan di atas, secara struktur telah
dikembangkan berdasarkan kebutuhan pendidikan anak-anak bekebutuhan pendidikan
khusus, sehingga dapat dijadikan panduan bagi guru dalam melakukan asesmen di
sekolah. Guru tentunya juga diharapkan dapat menyesuaikan sendiri dengan
kebutuhan dan kondisi yang dihadapi di sekolahnya masing-masing.
D. Teknik Pelaksanaan
Asesmen
Terdapat beberapa teknik atau metode yang
dapat dilakukan dalam upaya pelaksanaan asesmen untuk anak-anak berkebutuhan
khusus di sekolah (dasar). Beberapa diantara yang dapat dijelaskan di sini
adalah melalui observasi, tes formal dan informal, dan wawancara, dengan
didukung beberapa instrumen seperti checklist ataupun skala penilaian.
1.
Observasi,
merupakan pengamatan yang dilakukan secara seksama terhadap aktivitas belajar
siswa, seperti cara pelajar, kinerja, perilaku, ataupun kompetensi yang
dicapai.
2.
Tes
formal, sesungguhnya merupakan suatu bentuk tes
yang telah terstandarkan, yang memiliki acuan norma ataupun acuan patokan
dengan tolok ukur yang telah ditetapkan. Tes demikian umumnya dikembangkan
secara global, oleh para ahli dibidangnya. Dalam konteks asesmen pendidikan
anak-anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya kurang cocok untuk dilakukan, jika
dilihat dari tujuannya yang sangat spesifik, dan mencakup persoalan-persoalan
pendidikan yang unik, yang dihadapi siswa berkebutuhan khusus secara
individual.
3.
Tes
informal, Suatu jenis tes yang sangat bermanfaat
dan sangat sesuai untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang
berkenaan dengan kompetensi dan kemajuan belajar anak berkebutuhan khusus. Tes
informal umumnya dipersiapkan dan disusun sendiri oleh guru, serta digunakan
secara intensif untuk mengetahui kompetensi-kompetensi khusus pada anak. Dalam
kaitannya dengan asesmen, ada beberapa bentuk yang sering digunakan, yaitu
checklist, tes buatan sendiri, ataupun berupa cloze.
4.
Wawancara,
atau interview untuk memperoleh informasi dengan sasaran utama orangtua,
keluarga, guru di sekolah ataupun teman sepermainan.
E.
Hambatan
dalam Asesmen Layanan Pendidikan di Sekolah Dasar
Dalam melakukan asesmen layanan pendidikan
di sekolah dasar pada anak berkebutuhan khusus terdapat beberapa hambatan,
dikarenakan melakukan asesmen pada anak berkebutuhan khusus akan berbeda dengan
melakukan asesmen pada anak normal, yaitu:
1.
Dalam melakukan asesmen
guru dituntut untuk bersikap adil karena setiap anak berkebutuhan khusus
meskipun mereka memiliki kelainan yang berbeda tetapi ia memiliki kemampuan
yang berbeda
2.
Fasilitas yang kurang
memadai dalam melakukan asesmen pada anak berkebutuhan khusus misalnya
kurangnya buku braille yang tersedia untuk penilaian anak tuna netra.
3.
Dalam melakukan asesmen
pada anak berkebutuhan khusus membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan
melakukan asesmen pada anak normal, karena guru harus melakukan asesmen secara
bertahap.
4.
Anak berkebutuhan
khusus cenderung sulit diatur dan emosinya masih belum stabil sehingga guru
harus lebih sabar dalam menghadapi anak tersebut dan dalam melakukan asesmen.
5.
Jumlah pendidik yang
masih sedikit khususnya pendidik untuk anak berkebutuhan khusus.
Guru harus memilih model dan metode yang tepat untuk
pembelajaran anak berkebutuhan khusus sehingga guru akan lebih mudah dalam
melakukan asesmen



Tidak ada komentar:
Posting Komentar