Minggu, 18 Desember 2016

Kelompok 13

BAB XIII
ASESMEN LAYANAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR

A. Pengertian Asesmen Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
      Pengertian asesmen dalam kerangka pendidikan anak berkebutuhan khusus, dimaksudkan sebagai usaha untuk memperoleh informasi yang relevan guna membantu seseorang dalam membuat suatu keputusan. Dalam istilah Bahasa Inggris assessment berarti penilaian terhadap suatu keadaan, penilaian dalam konteks ini adalah evaluasi terhadap kondisi atau keadaan anak-anak berkebutuhan khusus, jadi bukan merupakan penilaian terhadap hasil suatu aktivitas atau kegiatan pembelajaran di sekolah. Walace, G & Larsen menegaskan pula, bahwa asesemen merupakan proses pengumpulan informasi pembelajaran yang relevan. Asesmen merupakan aktivitas yang amat penting dalam proses pembelajaran di sekolah, untuk itu pelaksanaannya harus benar-benar dilakukan secara obyektif dan komprehentif terhadap kondisi dan kebutuhan anak. Sebenarnya masih banyak sekali definisi atau pengertian asesmen yang dirumuskan oleh para ahli, yang pada intinya mengarah pada upaya pengumpulan informasi dalam upaya perencanaan dan implementasi pembelajaran siswa di sekolah.
      Sebagai tindak lanjut dari identifikasi, hasil yang diperoleh dari asesemen pendidikan akan bermanfaat bagi guru sebagai panduan dalam dua hal pokok, yaitu merencanakan program dan implementasi program pembelajaran. Untuk itu dalam upaya perencanaan tujuan dan penentuan sasaran pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang tepat, dalam asesmen pendidikan anak berkebutuhan khusus sangat diperlukan adanya pengumpulan informasi yang relevan dan komprehensif. Data atau informasi yang diperoleh dalam asesmen ini umumnya berkenaan dengan tahap pembelajaran, kelemahan dan kecakapan, serta hal-hal yang berkaitan dengan perilaku seorang siswa. Coba kita perhatikan contoh cerita berikut ini.


Ilustrasi:
Ada seorang guru kelas rendah di suatu sekolah dasar yang mendapati seorang siswanya selalu menghindar untuk berfikir. Siswa tersebut sangat membenci pelajaran matematika, atau hal-hal lain yang ada hubungannya dengan berhitung atau berfikir. Guru mencoba mengamati secara rutin, terhadap perkembangan belajar siswa tersebut, terutama dalam bidang matematika, tapi hasilnya tidak memuaskan. Selanjutnya guru mencoba untuk melakukan tes diagnosis matematik, yang berupa tes prestasi untuk menentukan kemampuan matematika secara khusus. Hasilnya, diketahui bahwa siswa tersebut ternyata mengalami kesulitan dalam matematika penalaran dan pemecahan masalah, sedang matematika dasar tidak mengalami kesulitan.
      Dari contoh tersebut, sesungguhnya ada hal yang menarik untuk diperhatikan. Pertama, bahwa di sekolah dasar seringkali ditemukan anak-anak yang berkesulitan belajar atau berkebutuhan khusus. Kedua, guru di sekolah umumnya sangat jarang melakukan asesmen terhadap kondisi-kondisi siswanya, dan Ketiga, program khusus atau remedial terhadap kebutuhan individu masih sangat miskin dilakukan di sekolah. Contoh tersebut juga memberi gambaran betapa pentingnya dilakukan asesemen di sekolah, sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

B.  Tujuan Asesmen Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
      Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai terkait dengan dilaksanakan asesmen di sekolah, khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Terkait dengan waktunya Moh Amin (1995:125) menjelaskan adanya lima tujuan dilaksanakannya asesmen bagi anak berkebutuhan khusus, yaitu:
1.      Menyaring kemampuan anak, yaitu untuk mengetahui kemampuan anak pada setiap aspek, misalnya bagaimana kemampuan bahasa, kognitif, kemampuan gerak, atau penesuaian dirinya
2.      Pengklafifikasian, penempatan, dan penentuan program
3.      Penentuan arah dan tujuan pendidikan, ini terkait dengan perbedaan klasifikasi berat ringannya kelainan yang disandang seorang anak, yang berdampak pada perbedaan tujuan pendidikannnya
4.      Pengembangan program pendidikan individual yang sering dikenal sebagai individualized educational program, yaitu suatu program pendidikan yang dirancang khusus secara individu untuk anak-anak berkebutuhan khusus
5.      Penentuan strategi, lingkungan belajar, dan evalusi pembelajaran.
        Selain kelima tujuan di atas, Wallace, G & Larsen, S mengemukakan adanya dua tujuan dalam pelaksanaan asesmen, yaitu:
1.      Untuk mengidentifikasi dan terkadang pemberian label untuk kepentingan administratif masalah belajar yang dialami anak-anak berkebutuhan khusus,
2.      Untuk memperoleh informasi tambahan yang dapat membantu dalam merumuskan tujuan pembelajaran, dan strategi pemberian remedial bagi anak-anak yang diduga berkebutuhan khusus.
       Dari uraian tujuan di atas, setidaknya ada beberapa hal penting yang perlu digaris bawahi dalam asesmen, yaitu:
1.      Asesmen dilakukan untuk penseleksian anak-anak yang berkebutuhan khusus,
2.      Asesmen bertujuan pula untuk penempatan siswa, sesuai dengan kemampuannya,
3.      Untuk merencakan program dan strategi pembelajaran,
4.      Untuk mengevaluasi dan memantau perkembangan belajar siswa.
        Secara khusus, sesungguhnya tujuan asesmen dapat berorientasi pada keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh seorang anak, baik dalam segi kemampuan akademik ataupun nonakademik. Keterampilan akademik terkait dengan kemampuan anak dalam bidang-bidang scholastik atau matapelajaran yang membutuhkan pemikiran dan penalaran, seperti bahasa dan matematika. Di sini akan dapat diketahui dan ditentukan dalam hal apa anak mengalami permasalahan, serta bagaimana langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjawab permasalahan tersebut. Sedang keterampilan nonakademik menyangkut kemampuan atau kesanggupan anak dalam bidang-bidang yang tidak berorientasi pada pemikiran dan penalaran, misalnya kesenian, orahraga, vocasional, atau kemampuan motorik.

C. Langkah Asesmen Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
      Sebagai suatu aktivitas yang sistematik dan berkelanjutan, sudah barangtentu asesmen perlu dilakukan sesuai dengan prosedur yang baik, agar dengan begitu hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Adanya beberap faktor yang terkait dengan pelaksanaan asesmen juga harus dipertimbangkan secara seksama. Berikut adalah alur asesmen secara skematik.
Langkah umum pelaksanaan asesmen pendidikan








 


















                                                                                          






 

      Dari skema tersebut, terlihat bahwa tahapan asesmen dilakukan dengan terlebih dahulu merumuskan tujuannya dengan memperhatikan tahapan ruang lingkup materinya. Setelah tujuan ditentukan langkah selanjutnya adalah merumuskan prosedurnya, yang dapat dilakukan melalui tes formal maupun informal untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Dari hasil informasi yang telah diperoleh, selanjutnya diolah dan dianalisis guna menentukan tujuan pembelajaran, dan strateginya dalam pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Setelah langkah-langkah tersebut dilakukan, maka sebagai tindak lanjutnya adalah implementasi kegiatan pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
      Secara lebih spesifik Mercer & Mercer (1989:38) menjelaskan adanya beberapa langkah yang dilakukan dalam asesmen anak berkebutuhan khusus di sekolah, yaitu:
1.      Menentukan cakupan dan tahapan keterampilan yang akan diajarkan. Agar pelaksanaan asesmen dapat dilakukan secara efektif, maka seyogyanya guru terlebih dahulu memahami tahapan kompetensi pembelajaran siswa dalam bidang pembelajaran tertentu. Ini penting dilakukan untuk mengetahui dengan jelas keterampilan-keterampilan apa yang telah dikuasai siswa. Secara teknik guru dapat melakukannya melalui analisis tugas dalam kegitan pembelajaran di sekolah.
2.      Menetapkan perilaku yang akan diases. Asesmen perilaku diawali dari tahapan yang paling umum menuju tahapan yang khusus. Perilaku umum menunjuk pada rentang kompetensi siswa dalam penguasaan materi kurikulum, misalnya pada mata pelajaran bahasa mencakup kompetensi dasar untuk semua aspek bahasa. Sedang yang khusus, mungkin hanya pada aspek membaca saja.
3.      Memilih aktivitas evaluasi, guru harus mempertimbangkan aktivitas yang akan dilakukan itu untuk evaluasi dalam rentang kompetensi umum, atau kompetensi khusus . Evaluasi kompetensi umum, lazimnya dilakukan secara periodik (semester), sedang untuk kompetensi khusus sebaiknya dilakukan secara formatif dan berkesinambungan.
4.      Pengorganisasian alat evaluasi, Hal ini perlu dilakukan berkenaan dengan evaluasi pendahuluan, yang mencakup; identifikasi masalah, pencatatan bentuk-bentuk kesalahan yang terjadi, dan evaluasi keterampilan-keterampilan tertentu. Setelah evaluasi awal dilakukan, selanjutnya ditentukan tujuan dan strategi pembelajaran, serta implementasi dan pemantuan kemajuan belajar siswa.
5.      Pencatatan kinerja siswa, Ada dua hal mengenai kinerja siswa yang harus dicatat guru, yaitu kinerja siswa pada pelaksanaan tugas sehari-hari, dan penguasaan keterampilan secara keseluruhan, yang umumnya dicacat pada laporan kemajuan belajar siswa.
6.      Penentuan tujuan pembelajaran khusus untuk jangka pendek dan jangka panjang, Di sini guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran khusus bagi anak dalam jangka pendek secara spesifik, misalnya dalam aspek membaca atau mengeja dalam pelajaran bahasa, tetapi harus tetap berkontribusi dalam tujuan jangka panjang.
        Langkah-langkah pelaksanaan asesmen sebagaimana diuraikan di atas, secara struktur telah dikembangkan berdasarkan kebutuhan pendidikan anak-anak bekebutuhan pendidikan khusus, sehingga dapat dijadikan panduan bagi guru dalam melakukan asesmen di sekolah. Guru tentunya juga diharapkan dapat menyesuaikan sendiri dengan kebutuhan dan kondisi yang dihadapi di sekolahnya masing-masing.

D. Teknik Pelaksanaan Asesmen
      Terdapat beberapa teknik atau metode yang dapat dilakukan dalam upaya pelaksanaan asesmen untuk anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah (dasar). Beberapa diantara yang dapat dijelaskan di sini adalah melalui observasi, tes formal dan informal, dan wawancara, dengan didukung beberapa instrumen seperti checklist ataupun skala penilaian.
1.   Observasi, merupakan pengamatan yang dilakukan secara seksama terhadap aktivitas belajar siswa, seperti cara pelajar, kinerja, perilaku, ataupun kompetensi yang dicapai.
2.   Tes formal, sesungguhnya merupakan suatu bentuk tes yang telah terstandarkan, yang memiliki acuan norma ataupun acuan patokan dengan tolok ukur yang telah ditetapkan. Tes demikian umumnya dikembangkan secara global, oleh para ahli dibidangnya. Dalam konteks asesmen pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus, sesungguhnya kurang cocok untuk dilakukan, jika dilihat dari tujuannya yang sangat spesifik, dan mencakup persoalan-persoalan pendidikan yang unik, yang dihadapi siswa berkebutuhan khusus secara individual.
3.   Tes informal, Suatu jenis tes yang sangat bermanfaat dan sangat sesuai untuk memperoleh informasi tentang berbagai hal yang berkenaan dengan kompetensi dan kemajuan belajar anak berkebutuhan khusus. Tes informal umumnya dipersiapkan dan disusun sendiri oleh guru, serta digunakan secara intensif untuk mengetahui kompetensi-kompetensi khusus pada anak. Dalam kaitannya dengan asesmen, ada beberapa bentuk yang sering digunakan, yaitu checklist, tes buatan sendiri, ataupun berupa cloze.
4.   Wawancara, atau interview untuk memperoleh informasi dengan sasaran utama orangtua, keluarga, guru di sekolah ataupun teman sepermainan.

E.  Hambatan dalam Asesmen Layanan Pendidikan di Sekolah Dasar
      Dalam melakukan asesmen layanan pendidikan di sekolah dasar pada anak berkebutuhan khusus terdapat beberapa hambatan, dikarenakan melakukan asesmen pada anak berkebutuhan khusus akan berbeda dengan melakukan asesmen pada anak normal, yaitu:
1.      Dalam melakukan asesmen guru dituntut untuk bersikap adil karena setiap anak berkebutuhan khusus meskipun mereka memiliki kelainan yang berbeda tetapi ia memiliki kemampuan yang berbeda
2.      Fasilitas yang kurang memadai dalam melakukan asesmen pada anak berkebutuhan khusus misalnya kurangnya buku braille yang tersedia untuk penilaian anak tuna netra.
3.      Dalam melakukan asesmen pada anak berkebutuhan khusus membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan melakukan asesmen pada anak normal, karena guru harus melakukan asesmen secara bertahap.
4.      Anak berkebutuhan khusus cenderung sulit diatur dan emosinya masih belum stabil sehingga guru harus lebih sabar dalam menghadapi anak tersebut dan dalam melakukan asesmen.
5.      Jumlah pendidik yang masih sedikit khususnya pendidik untuk anak berkebutuhan khusus.
Guru harus memilih model dan metode yang tepat untuk pembelajaran anak berkebutuhan khusus sehingga guru akan lebih mudah dalam melakukan asesmen   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar