Minggu, 18 Desember 2016

Kelompok 10

BAB X
LAYANAN DAN PRINSIP PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. Pengertian Layanan Anak Berkebutuhan Khusus
      Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mempunyai keunikan tersendiri yang ditunjukkan oleh jenis dan karakteristiknya yang berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya.dengan kondisi seperti itu tentunya dalam memberikan layanan pendidikan anak berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya. Oleh sebab itu sebagai guru atau pendidik perlu memiliki beberapa pengetahuan dan pemahaman mengenai cara memberikan layanan yang sesuai agar anak-anak yang kurang beruntung ini memperoleh pendidikan secara optimal.
      Layanan pendidikan merupakan satu kajian penting untuk memenuhi kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, dan membedakan mereka dari anak-anak normal pada umumnya.Keadaan inilah yang menuntut adanya penyesuaian dalam pemberian layanan pendidikan yang dibutuhkan.Keragaman yang terjadi, memang terkadang menyulitkan guru dalam upaya pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Namun apabila guru telah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai cara memberikan layanan yang baik, maka akan dapat dilakukan secara optimal. Dalam beberapa terminologi, Istilah layanan diartikan sebagai (1) cara melayani; (2) usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang); (3) kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau barang.
.
B.  Prinsip- prinsip Layanan Anak Berkebutuhan Khusus
      Ada beberapa prinsip dasar dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus pada umumnya yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Prinsip dasar tersebut menurut Musjafak Assjari (1995) adalah sebagai berikut:

1.   Keseluruhan anak (all the children)
     Layanan pendidikan pada anak berkebutuhan khusus harus didasarkan pada pemberian kesempatan bagi seluruh anak berkebutuhan khusus dari berbagai derajad, ragam, dan bentuk kecacatan yang ada. Dengan layanan pendidikan diharapkan anak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin, sehingga ia dapat mencapai hidup bahagia sesuai dengan kecacatannya. Konsekuensi dari ini, guru seyogyanya bersifat kreatif. Guru dituntut mencari berbagai pendekatan pembelajaran yang cocok bagi anak . Pendekatan tersebut disesuaikan dengan keunikan dan karakteristik dari masing-masing kecatatan.
2.   Kenyataan (reality)
     Pengungkapan tentang kemampuan fisik dan psikologis pada masing-masing anak berkebutuhan khusus mutlak untuk dilakukan. Hal ini penting, mengingat malalui tahapan tersebut pelaksanaan pendidikan maupun pelaksanaan rehabilitasi dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing anak berkebutuhan khusus. Dasar pendidikan yang menempatkan pada kemampuan masing-masing anak tunadaksa inilah yang dimaknai sebagai dasar yang berlandaskan pada kenyataan (reality)
3.   Program yang dinamis (a dynamic program)
     Pendidikan pada dasarnya bersifat dinamis. Pendidikan dikatakan dinamis karena yang menjadi subjek pendidikan adalah manusia yang sedang tumbuh dan berkembang, yang di dalamnya terdapat proses yang bergradasi, berkesinambungan untuk mencapai sasaran pendidikan. Dinamika dalam proses pendidikan terjadi karena subjek didiknya selalu berkembang, sehingga penyesuaian layanan harus memperhatikan akan perkembangan yang terjadi pada subjek didik. Dinamika dapat pula terjadi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua kenyataan ini menuntut guru untuk mengkaji teori-teori pendidikan yang berkembang setiap saat. Memperhatikan kedua dinamika tersebut layanan pendidikan seharusnya memperhatikan karakteristik yang cukup heterogen pada anak dengan segala dinamikanya.
4.   Kesempatan yang sama (equality of opportunity)
     Pada dasarnya anak berkebutuhan khusus diberikan kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya tanpa memprioritaskan jenis-jenis kecacatan yang dialaminya. Titik perhatian pengembangan yang utama pada anak berkebutuhan khusus adalah optimalisasi potensi yang dimiliki masing-masing anak melalui jenjang pendidikan yang ditempuhnya. Hal-hal yang bersifat teknis berkaitan dengan sarana dan prasarana sekolah disesuaikan dengan kenyataan yang ada. Kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan menuntut penyelenggara pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus untuk menyediakan dan mengusahakan sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak dan variasi kecacatannya.
5.   Kerjasama (cooperative)
     Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak akan berhasil mengembangkan potensi mereka mana kala tidak melibatkan pihak-pihak yang terkait. Beberapa pihak yang terkait yang paling utama adalah orangtua. Orangtua anak berkebutuhan khusus perlu dilibatkan dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan. Selain orangtua, pihak lain yang terkait adalah dokter, psikolog, psikhiater, pekerja sosial, ahli terapi okupasi, dan ahli fisioterapi, konselor, dan tokoh masyarakat utamanya mempunyai perhatian dalam dunia pendidikan anak.
      Selain kelima prinsip tersebut di atas, ada prinsip lain yang juga perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1.   Prinsip kasih sayang
     Sebagai manusia, anak berkebutuhan khusus membutuhkan kasih sayang dan bukan belas kasihan. Kasih sayang yang dimaksudkan merupakan wujud penghargaan bahwa sebagai manusia mereka memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan diakui bahwa mereka adalah sama seperti anak-anak yang lainnya. Perubahan lingkungan dari lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang ke lingkungan sekolah pada awal anak masuk sekolah merupakan peristiwa yang menentukan bagi perkembangan anak selanjutnya.
2.   Prinsip keperagaan
     Anak berkebutuhan khusus ada yang memiliki kecerdasan di bawah jauh rata-rata. Keadaan ini berakibat anak mengalami kesulitan dalam menangkap informasi, ia memiliki keterbatasan daya tangkap pada hal-hal yang konkret, ia mengalami kesulitan dalam menangkap hal-hal yang abstrak. Untuk itu, guru dalam membelajarkan anak hendaknya menggunakan alat peraga yang memadai agar anak terbantu dalam menangkap pesan. Alat-alat peraga hendaknya disesuaikan dengan bahan, suasana, dan perkembangan anak.
3.   Kemampuan anak
     Heteroginitas mewarnai kelas-kelas pendidikan pada anak berkebutuhan khusus, akibatnya masing-masing subjek didik perlu memperoleh perhatian dan layanan yang sesuai dengan kemampuannya. Kemampuan yang dimaksud meliputi keunggulan-keunggulan apa yang ada pada diri anak, dan juga aspek kelemahan-kelemahannya. Proses pendidikan yang berdasar pada kemampuan anak akan lebih terarah ketimbang yang berdasar bukan pada kemampuan anak, seperti keinginan orangtua atau tuntutan paket kurikulum. Orangtua memang memiliki anaknya, tetapi seringkali terjadi orangtua kurang dan tidak mengetahui kemampuan anaknya. Mereka menganggap sama pada semua anaknya. Oleh karena itu, sebelum dan selama proses pendidikan orangtua perlu disertakan dalam proses pendidikan anaknya, sehingga kemampuan dan perkembangannya dapat diikutinya. Selain itu, guru harus mampu menterjemahkan tuntutan kurikulum terhadap heteroginitas kemampuan masing-masing subjek didik.
4.   Pembiasaan
     Penanaman pembiasaan pada anak normal lebih mudah bila dibarengi dengan informasi pendukungnya. Hal ini tidak mudah bagi anak berkebutuhan khusus. Pembiasaan bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan penjelasan yang lebih konkret dan berulang-ulang. Hal ini dilakukan karena keterbatasan indera yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus dan proses berpikirnya yang kadang lambat. Untuk itu, pembiasaan pada anak berkebutuhan khusus harus dilakuakn secara berulang-ulang dan diringi dengan contoh yang konkret.
5.   Latihan
     Latihan merupakan cara yang sering ditempuh dalam pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Latihan sering dilakukan bersamaan dengan pembentukan pembiasaan. Porsi latihan yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus disesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya. Pemahaman akan kemampuan anak dalam memberikan latihan pada diri subjek didik akan membantu penguasaan keterampilan yang telah dirancangkan lebih dahulu. Latihan yang diberikan tidak melebihi kemampuan anak, sehingga anak senang melakukan kegiatan yang telah diprogramkan oleh pengelola pendidikan.
6.   Pengulangan
     Karakteristik umum anak berkebutuhan khusus adalah mudah lupa. Oleh karena itu, pengulangan dalam memberikan informasi perlu memperoleh perhatian tersendiri. Pengulangan diperlukan untuk memperjelas informasi dan kegiatan yang harus dilakukan anak. Meskipun hal ini sering menjemukan, tetapi kenyataan mereka memerlukan demi penguasaan suatu informasi yang utuh.
7.   Penguatan
     Penguatan atau reinforcement merupakan tuntutan untuk membentuk perilaku pada anak. Pemberian penguatan yang tepat berupa pujian, atau penghargaan yang lain terhadap munculnya perilaku yang dikehendaki pada anak akan membantu terbentuknya perilaku. Pujian yang diberikan padanya akan memiliki arti tersendiri dalam pencapaian usaha keberhasilan. Secara psikologis akan memberikan penghargaan pada diri subjek didik, bahwa dirinya mampu berbuat. Penghargaan ini akan memberikan motivasi pada diri mereka. Bila ini terjadi, anak akan berusaha untuk menampilkan prestasi lain.
      Selain prinsip umum, ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Prinsip khusus tersebut berkaitan erat dengan kecacatan yang dialami anak. Prinsip khusus yang berkaitan dengan layanan pendidikan anak tunanetra menurut Annastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) adalah :
1.   Prisip totalitas
     Prinsip totalitas berarti prisip keseluruhan atau keutuhan. Dalam prinsip ini guru mengajar harus secara keseluruhan atau utuh. Keseluruhan dimaksudkan bahwa dalam mengajarkan konsep sedapat mungkin melibatkan keseluruhan indera, sedangkan keutuhan dimaksudkan bahwa konsep yang dikenalkan harus utuh, tidak sepotong – potong. Misalnya, menjelaskan “tomat”, guru tidak hanya mengenalkan model tomat , tetapi juga harus menunjukkan tomat yang asli, anak disuruh meraba bentuk – bentuk tomat, mencium bau tomat, merasakan tomat, bahkan melengkapinya dengan pohon tomat.
2.   Prinsip Keperagaan
     Prinsip keperagaan sangan dibutuhkan untuk menjelaskan konsep baru pada anak tunanetra. Prinsip keperagaan berkaitan erat dengan tipe belajar anak. Ada anak yang mudah menerima konsep melalui indera perabaan, ada anak yang mudah dengan indera pendengaran. Dengan peragaan anak akan terhindar dari verbalisme. Misalnya, guru menerangkan perbedaan antara apel dan tomat. Guru harus membawa kedua jenis buah tersebut. Anak harus dapat membedakan keduanya dari segi teksture (kasar halus, keras lembut), berat, rasa, dan baunya. Contoh lain misalnya guru menerangkan nyamuk , untuk suara mungkin dapat langsung, tetapi untuk bentuk guru harus mencari spesimen nyamuk, yang besarnya ratusan kali dari nyamuk yang sebenarnya.
3.   Prinsip Kesinambungan
     Prinsip kesinambungan sangat dibutuhkan anak tunanetra dalam mempelajari konsep. Mata pelajaran yang satu harus berhubungan dengan mata pelajaran yang lain. Kesinambungan tersebut dalam hal materi dan istilah yang digunakan guru. Istilah yang digunakan sebaiknya tidak terlalu banyak variasi.


4.   Prinsip Aktivitas
     Prinsip aktivitas penting artinya dalam kegiatan belajar anak. Murid dapat memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan guru. Reaksi ini dilaksanakan dalam bentuk mengamati sendiri dengan bekerja sendiri. Anak tunanetra diharapkan aktif dan tidak hanya mendengarkan. Tanpa aktivitas , konsep yang diterima anak hanya sedikit dan mereka akan merasa jenuh. Jika anak aktif dalam pembelajaran, maka pengalaman mereka akan banyak, memperoleh kepuasan dalam belajar sehingga akan mendorong rasa ingin tahu yang tinggi.
5.   Prinsip individual
     Prinsip individual dalam pembelajaran berarti pengajaran dilakukan dengan memperhatikan perbedaan individu, potensi anak, bakat dan kemampuan masing – masing anak. Prinsip ini merupakan ciri khusus dalam layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Bagi anak tunanetra, prinsip induvidual mendorong guru untuk memenuhi tuntutan variasi ketunaan dan kemampuan anak. Guru dituntut sabar, telaten, ulet dan kreatif. Guru harus mengajar satu per satu sesuai dengan perbedaan anak.

C. Pendekatan Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
1.   Pendekatan
      Secara umum dikenal 2 pendekatan yang sering dilakukan dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yaitu: pendekatan kelompok/klasikal dan pendekatan individual.
a.    Pendekatan Kelompok adalah pendekatan yang dilakukan secara kelompok. Pendekatan ini memiliki kelebihan dalam hal waktu, tenaga, dan biaya. Disamping kelebihan juga ada kelemahannya yaitu kurang efektif dalam proses pembelajarannya.
b.   Pendekatan individual yang dilakukan secara individu. Pendekatan ini memiliki kelebihan dalam hal waktu, tenaga dan biaya.
      Selain pendekatan individu dan pendekatan kelompok, masih ada pendekatan yang dapat digunakan bagi anak berkebutuhan khusus, yaitu pendekatan remidial dan pendekatan ekseleratif. Pendekatan remidial bertujuan untuk membantu anak berkebutuhan khusus dalam upaya mencapai kompetensi yang ditentukan dengan lebih menekankan pada hambatan atau kekurangan yang ada pada anak berkebutuhan khusus. Pendekatan remidial didasarkan pada bagian-bagian sub kompetensi yang belum di capai oleh anak. Pendekatan ini dapat melatih dan mendorong anak untuk menutup kekurangan yang ada pada dirinya dengan memperhatikan kemampuan yang dimilikinya.Sedangkan pendekatan ekseleratif bertujuan untuk mendorong anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat untuk lebih khusus lagi menguasai kompetensinya yang ditetapkan berdasarkan asesmen kemampuan anak.Pendekatan akseleratif juga lebih bersifat individual.
2.   Layanan Pendidikan Anak Berkelainan Fisik
      Secara umum anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan fisik membutuhkan layanan pendidikan dengan pendekatan dan strategi khusus, yang dapat dikemukakan sebagai berikut.
a.    Anak Tuna Netra
     Pengertian tuna netra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak dapat melihat (KBBI, 1989: 971) dan menurut literatur berbahasa Inggris visually handicapped atau visual impaired. Pada umumnya orang mengira bahwa tunanetra identik dengan buta, padahal tidaklah demikian karena tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori.
     Anak yang mengalami gangguan penglihatan dapat didefinisikan sebagai anak yang rusak penglihatannya yang walaupun dibantu dengan perbaikan, masih mempunyai pengaruh yang merugikan bagi anak yang yang bersangkutan (Scholl, 1986 ). Pengertian ini mencakup anak yang masih memiliki sisa penglihatan dan yang buta.
     Dengan demikian, pengertian anak tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti orang awas.
     Strategi khusus dan isi layanan pendidikan bagi anak tuna netra menurut Hardman (dalam Suparno, 2008), meliputi 3 hal, yaitu sebagai berikut.
1)   Mobility training and daily living skill, yaitu latihan untuk berjalan dan orientasi tempat dan ruang dengan berbagai sarana yang diperlukan serta latihan keterampilan kehidupan keseharian yang berkaitan dengan pemahaman uang, belanja, mencuci, memasak, kebersihan diri, dan membersihkan ruangan.
2)   Tradisional curriculum content area, yaitu orientasi dan mobilitas, keterampilan berbahasa termasuk ekspresinya dan keterampilan berhitung.
3)   Communication media, yaitu penguasaan braille dalam komunikasi. Annastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) (dalam Suparno, 2008) menyatakan bahwa layanan khusus bagi anak Tunanetra yaitu sebagai berikut.
a)   Penguasaan Braille, yaitu kemampuan untuk menulis dan membaca braille. Tulisan Braille Pengembangan metode membaca dan menulis dengan perabaan dimulai pada akhir abad ke-17. Pada abad ke 18 ditemukannya tulisan timbul oleh Louis Braille yang memberikan perubahan monumental bagi kehidupan para tunanetra dan kemajuan di bidang literature (bacaan), komunikasi, dan pendidikan. Braille adalah serangkaian titik timbul yang dapat dibaca dengan perabaan jari oleh orang tunanetra. Braille bukanlah bahasa tetapi kode yang memungkinkan bahasa seperti bahasa Indonesia, Inggris, Jerman dan lain-lain dapat dibaca dan ditulis. Simbol Braille dibentuk dari titik timbul dalam suatu formasi (susunan) sebagai suatu unit yang disebut sel Braille. Sebuah sel Braille yang penuh terdiri atas enam titik timbul yang tersusun dalam dua kolom dan tiga baris. Posisi titik dalam sel diberi nomor urut dari 1 sampai dengan 6. Nomor 1 sd 3 untuk sel sebelah kiri dari atas ke bawah dan nomor 4 sd 6 untuk sel sebelah kanan. Kombinasi titik dalam satu sel Braille dapat digunakan untuk satu huruf, angka, atau tanda baca bahkan sebagai satu kata.
b)   Latihan orientasi dan mobilitas, yaitu jalan dengan pendamping awas, latihan jalan mandiri, latihan jalan dengan menggunakan alat bantu jalan (tongkat dan sign guide).
c)   Penggunaan alat bantu dalam pembelajaran berhitung dan matematika, meliputi cubaritma, papan taylor frame, abacus (sempoa) dalam operasi penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan beberapa konsep matematikan braille.
d)  Pembelajaran pendidikan jasmani bagai anak tunanetra. Pembelajaran pendidikan jasmani disesuaikan, bagi anak tunanetra menggunakan pendidikan jasmani adaktif.
e)   Pembelajaran IPA. Dalam pembelajaran IPA sedapat mungkin menggunakan model yang dapat diamati dan diraba oleh anak.
b.   Anak Tunarungu
     Layanan pendidikan yang spesifik bagi anak Tunarungu adalah terletak pada pengembangan persepsi bunyi dan komunikasi. Ada beberapa cara mengembangkan kemampuan komunikasi anak tunarungu, yaitu:
1)   Metode Oral
Cara melatih anak tunarungu supaya dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan normal.Dalam hal ini perlu partisipasi lingkungan anak tunarungu untuk berbahasa secara verbal.
2)   Membaca Ujaran
Kegiatan yang mencangkup pengamatan visual dari bentuk dan gerak bibir lawan bicaranya sewaktu dalam proses berbicara. Membaca ujaran memiliki kelamah antara lain; tidak semua bunyi bahasa dapat terlihat pada bibir, ada persamaan antara berbagai bunyi bentuk bahasa, lawan bicara harus berhadapan dan tidak terlalu jauh dan pengcapan harus pelan dan lugas.
3)   Metode manual
Cara mengajar atau melatih anak tunarungu berkomunikasi dengan isyarat atau ejaan jari. Bahasa isyarat ini mempunyai komponen yaitu:
a)   Bahasa ungkapan badaniyah, adalah bahasa yang dilakukan dengan cara menggunakan keseluruhan ekspresi badan.
b)   Bahasa isyarat lokal, suatu ungkapan manual dalam bentuk isyarat konvensional berfungsi sebagai pengganti kata.
c)   Bahasa isyarat formal, bahasa nasional dalam isyarat biasanya menggunakan kosa kata isyarat dan dengan berstruktur bahasa yang sama persis dengan bahasa lisan.
4)   Ejaan jari, Penunjang bahasa isyarat dengan menggunakan ejaan jari. Dalam penggunaan bahasa ejaan jari dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu : ejaan jari dengan satu tangan, ejaan jari dengan dua tangan, dan ejaan jari campuran.
5)   Komunikasi total cara berkomunikasi dengan menggunakan salah satu modus atau semua cara komunikasi, yaitu penggunaan sistem isyarat, ejaan jari, bicara, baca ujaran, amplifikasi, gesti, pantomimik, menggambar dan menulis,serta pemanfaatan sisa pendengaran sesuai kebutuhan dan kemampuan seseorang.
c.    Anak Tunadaksa
     Menurut Frieda Mangunsong, dkk (1998) (dalam Suparno, 2008) layanan pendidikan bagi anak tuna daksa perlu memperhatikan tiga hal, yaitu sebagai berikut.
1)   Pendekatan Multidisipliner dalam Program Rehabilitasi Anak Tunadaksa
Pendekatan multidisipliner merupakan layanan pendidikan yang melibatkan berbagai ahli terkait secara terpadu dalam rangka mengoptimalkan memampuan yang dimiliki oleh anak.Beberapa ahli terkait memberikan layanan rehabilitasi adalah ahli medis (dokter), dokter tulang, dokter syaraf, ahli pendidikan, psikolog, pekerja sosial, konselor, ahli fisioterapi, okupasi, dan ahli pendidikan khusus. Dalam program rehabilitas ini dikenal empat stadium yaitu:
a)   Pertama, stadium akut antara 0-6 tahun sejak menderita, pada stadium ini merupakan stadium “survival” yaitu berjuang untuk bertahan hidup.
b)   Kedua, stadium sub.acut 6-12 minggu, merupakan stadium perawatan rutin agar perkembangan otot dapat pulih dan tumbuh walaupun minimal.
c)   Ketiga, stadium mandiri, pada stadium anak lebih diarahkan untuk memperoleh keterampilan kerja untuk kehidupan mendatang.
d)  Keempat, stadium “after care”, pada stadium ini anak dipersiapkan kembali kerumah atau kesekolah untuk mengikuti program pendidikan selanjutnya.
2)   Program Pendidikan Sekolah
Program pendidikan sekolah bagai mereka yang tidak mengalami kelainan mental relatif sama dengan anak normal, hanya bina gerak masih terus dikembangkan melalui fisioterapi dan terapi okupasi, utamanya untuk perbaikan motoriknya.
3)   Layanan Bimbingan dan Konseling
Layanan bimbingan dan konseling diarahkan untuk mengembangkan “self-respect” (menghargai diri sendiri). Sunarya Kartadinata, (1998/1999) menyatakan bahwa anak tunadaksa perlu mengembangkan self-respect, yaitu menghargai diri sendiri dengan cara menerima diri sesuai dengan apa adanya, sehingga anak merasa bahwa dirinya adalah sebagai seorang pribadi yang berharga.
3.   Anak Berkelainan Mental Emosional
a.    Anak Tunagrahita
     Pendekatan layanan pendidikan bagi anak tunagrahita lebih diarahkan pada pendekatan indivudual dan pendekatan remidiatif. Pendekatan individual didasarkan pada asesment kemampuan anak untuk mengembangkan sisa potensi yang ada dalam dirinya. Tujuan utama layanan pendidikan bagi anak tunagrahita adalah penguasaan kemampuan aktivitas kehidupan sehari-hari dalam mengelola diri sendiri. Untuk mencapai itu perlu pembelajaran mengurus diri sendiri dan pengembangan keterampilan vocational terbatas sesuai dengan kemampuannnya.
     Layanan pendidikan khusus bagi anak tunagrahita meliputi latihan senso motorik, terapi bermain dan okupasi, dan latihan mengurus diri sendiri. Pendekatan pembelajaran dilakukan secara individual dan remidiatif. Perkembangan kemampuan anak berdasarkan tingkat kemampuan kornitifnya. Anak yang ber IQ 55 – 70 berbeda dengan yang ber IQ 35 – 55. dalam sebaran IQ tersebut juga berbeda dalam layanan masing-masing.
b.   Anak Tuna Laras
Pendekatan layanan pendidikan bagi anak tunalaras untuk pembelajaran akademik relatif sama dengan anak normal. Khusus untuk kelainan perilakunya, pendekatan pendidikan bagi anak tunalaras menggunakan pendekatan bimbingan dan konseling serta terapi. Pendekatan terapi sering digunakan untuk layanan pendidikan anak  tunalaras menurut Hardman, M.L. dkk (1990) adalah:
1.   Insight oriented thterapies
2.   Play therapy
3.   Group Therapy
4.   Behavior Therapy
5.   Marital and Family Therapy
6.   Drug Therapy
Penggunaan pendekatan terapi sangat bergantung pada jenis dan tingkat problem perilaku yang dimiliki oleh anak tunalaras.  Selain pendekatan terapi, dalam pembelajaran khusus untuk anak tunalaras adalah binapribadi-sosial anak. Mata pelajaran ini diarahkan untuk membina perilaku positif anak tunalaras dalam kaitannya dengan perilaku dirinya dan perilaku dalam berhubungan dengan orang lain.
4.   Anak Berbakat dan Anak Berkesulitan Belajar Spesifik
     Pendekatan layanan khusus bagi anak berbakat dan berkesulitan belajar spesifik lebih bersifat pendekatan individual. Pendekatan individual ini lebih memperhatikan potensi yang dimiliki oleh anak.


1.   Anak Berbakat
Layanan pendidikan bagi anak berbakat di sekolah dasar dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap penjaringan (sreening) dan tahap seleksi (identifikasi) (Sunarya kartadinata, dkk, 1998/1999). Dalam tahap penjaringan dilakukan oleh guru dengan menganalisis hasil belajar anak dan menganalisis hasil observasi komitmen anak akan tugas dan kreativitasnya. Mereka yang mempunyai kreativitas tinggi, komitmen akan tugas yang tinggi, dan prestasi belajar di atas rata-rata dipromosikan sebagai anak berbakat. Langkah selanjutnya adalah kerjasama dengan psikolog dan konselor untuk menentukan IQ dan bakat anak. Setelah teridentifikasi keberbakatan anak, langkah selanjutnya adalah menentukan layanan pendidikan bagi mereka. Ada berbagai macam layanan pendidikan bagai anak berbakat, yaitu:
a.    Layanan akselerasi, yaitu layanan tambahan untuk mempercepat penguasaan kompetensi dalam merealisasi bakat anak.
b.   Layanan kelas khusus, yaitu anak yang berbakat unggul dikelompokkan dalam satu kelas dan diberikan layanan tersendiri sesuai dengan bakat mereka.
c.    Layanan kelas unggulan, sama dengan layanan kelas khusus hanya berbeda dalam model pengayaannnya.
d.   Layanan bimbingan sosial dan kepribadian melali pendekatan individual dan pendekatan kelompok. Guru mampu memberikan penerapan kegiatan yang mampu melatik sosialisasi anak dengan tean dan orang sekitar misalnya diskusi dan observasi tempat tinggal.
2.   Anak Berkesulitan Belajar Spesifik
Pendekatan layanan pendidikan abagi anak berkesulitan belajar spesifik menurut Jerome Rosner ,1993 dalam Sunarya Kartadinata, dkk (1998/1999) ada tiga macam, yaitu:
a.    Layanan remidiasi
Layanan remidiasi terfokus pada upaya menyembuhkan, mengurangi, dan bahkan kalau mungkin mengatasi kesulitan yang dialami anak. Dalam layanan ini anak dibantu dalam keterampilan perseptual dan kecakapan dasar berbahasa, sehingga ia mampu memperoleh kemajuan belajar yang normal. Dalam layanan remidiasi ini sering digunakan beberapa teknik dalam modifikasi perilaku, di antaranya dengan pemberian penguatan, tabungan kepingan, atau teknik lain yang sesuai dengan kebutuhan anak.
b.   Layanan kompensasi
Layanan kompensasi diberikan dengan cara menciptakan lingkungan belajar khusus di luar lingkungan belajar yang normal, sehingga memungkinkan anak memperoleh kemajuan dalam pembentukan perseptual dan bahasa. Dalam melaksanakan layanan kompensasi, Sunarya Kartadinata, dkk (1998/1999) memberikan patokan atau rambu-rambu sebagai berikut:
1)   Fahami dan pastikan bahwa anak memilki pengetahuan faktual yang diperlukan dalam mempelajari bahan ajar;
2)   Batasi jumlah informasi baru pada hal-hal yang tercantum dalam bahan ajar, sampaikan sedikit demi sedikit, atau mungkin gunakan sistem jembatan keledai (mnemoteknik);
3)   Sajikan informasi dengan jelas tentang apa yang harus dipelajari anak;
4)   Nyatakan secara eksplisit bahawa informasi yang diajarkan berkaitan dengan informasi yang telah dimiliki anak dan sedapat mungkin menggunakan contoh (konkret);
5)   Jika anak sudah mampu menguasai unit-unit kecil perkenalkan dia ke unit-unit yang lebih besar;
6)   Siapkan pengalaman ulang untuk memperkuat informasi baru dalam ingatan anak;
7)   Lakukan drill, latihan efektif dengan melibatkan seluruh indra untuk membuat persepsi yang sempurna, yaitu dengan jalan mendengar, membaca, menulis, dan berbuat.
c.    Layanan prevensi
Layanan prevensi adalah layanan yang diberikan sebelum anak mengalami ketunacakapan belajar di sekolah. Layanan ini diawali dengan melakukan identifikasi terhadap aspek-aspek yang dimungkinkan menimbulkan atau menyebabkan ketunacakapan belajar. Langkah yang dilakukan dalam layanan ini diawali dengan memberikan tes kemampuan dasar anak dalam membaca, menulis, berhitung, dan melakukan koordinasi gerak. Langkah selanjutnya dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan terhadap aspek-aspek pribadi anak, di antaranya pemeriksaaan kesehatan, perkembangan, penglihatan dan pendengaran, keterampilan dan perseptual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar