BAB X
LAYANAN
DAN
PRINSIP PENDIDIKAN
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
A.
Pengertian
Layanan Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus adalah anak
yang mempunyai keunikan tersendiri yang ditunjukkan oleh jenis dan
karakteristiknya yang berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya.dengan
kondisi seperti itu tentunya dalam memberikan layanan pendidikan anak berbeda
dengan anak-anak normal pada umumnya. Oleh sebab itu sebagai guru atau pendidik
perlu memiliki beberapa pengetahuan dan pemahaman mengenai cara memberikan
layanan yang sesuai agar anak-anak yang kurang beruntung ini memperoleh
pendidikan secara optimal.
Layanan pendidikan merupakan satu
kajian penting untuk memenuhi kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK),
yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, dan
membedakan mereka dari anak-anak normal pada umumnya.Keadaan inilah yang
menuntut adanya penyesuaian dalam pemberian layanan pendidikan yang
dibutuhkan.Keragaman yang terjadi, memang terkadang menyulitkan guru dalam
upaya pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Namun apabila guru telah
memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai cara memberikan layanan yang baik,
maka akan dapat dilakukan secara optimal. Dalam beberapa terminologi, Istilah
layanan diartikan sebagai (1) cara melayani; (2) usaha melayani kebutuhan orang
lain dengan memperoleh imbalan (uang); (3) kemudahan yang diberikan sehubungan
dengan jual beli jasa atau barang.
.
B.
Prinsip-
prinsip Layanan Anak Berkebutuhan Khusus
Ada
beberapa prinsip dasar dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
pada umumnya yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Prinsip
dasar tersebut menurut Musjafak Assjari (1995) adalah sebagai berikut:
1.
Keseluruhan anak (all
the children)
Layanan pendidikan pada
anak berkebutuhan khusus harus didasarkan pada pemberian kesempatan bagi
seluruh anak berkebutuhan khusus dari berbagai derajad, ragam, dan bentuk
kecacatan yang ada. Dengan layanan pendidikan diharapkan anak dapat
mengembangkan potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin, sehingga ia dapat
mencapai hidup bahagia sesuai dengan kecacatannya. Konsekuensi dari ini, guru
seyogyanya bersifat kreatif. Guru dituntut mencari berbagai pendekatan
pembelajaran yang cocok bagi anak . Pendekatan tersebut disesuaikan dengan
keunikan dan karakteristik dari masing-masing kecatatan.
2.
Kenyataan (reality)
Pengungkapan
tentang kemampuan fisik dan psikologis pada masing-masing anak berkebutuhan
khusus mutlak untuk dilakukan. Hal ini penting, mengingat malalui tahapan
tersebut pelaksanaan pendidikan maupun pelaksanaan rehabilitasi dapat
memberikan layanan yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing
anak berkebutuhan khusus. Dasar pendidikan yang menempatkan pada kemampuan
masing-masing anak tunadaksa inilah yang dimaknai sebagai dasar yang
berlandaskan pada kenyataan (reality)
3.
Program yang dinamis (a
dynamic program)
Pendidikan
pada dasarnya bersifat dinamis. Pendidikan dikatakan dinamis karena yang
menjadi subjek pendidikan adalah manusia yang sedang tumbuh dan berkembang,
yang di dalamnya terdapat proses yang bergradasi, berkesinambungan untuk
mencapai sasaran pendidikan. Dinamika dalam proses pendidikan terjadi karena
subjek didiknya selalu berkembang, sehingga penyesuaian layanan harus
memperhatikan akan perkembangan yang terjadi pada subjek didik. Dinamika dapat
pula terjadi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua kenyataan ini menuntut guru
untuk mengkaji teori-teori pendidikan yang berkembang setiap saat.
Memperhatikan kedua dinamika tersebut layanan pendidikan seharusnya
memperhatikan karakteristik yang cukup heterogen pada anak dengan segala
dinamikanya.
4.
Kesempatan yang sama
(equality of opportunity)
Pada
dasarnya anak berkebutuhan khusus diberikan kesempatan yang sama untuk
mengembangkan potensinya tanpa memprioritaskan jenis-jenis kecacatan yang
dialaminya. Titik perhatian pengembangan yang utama pada anak berkebutuhan
khusus adalah optimalisasi potensi yang dimiliki masing-masing anak melalui
jenjang pendidikan yang ditempuhnya. Hal-hal yang bersifat teknis berkaitan
dengan sarana dan prasarana sekolah disesuaikan dengan kenyataan yang ada.
Kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan menuntut penyelenggara
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus untuk menyediakan dan mengusahakan
sarana dan prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak dan variasi
kecacatannya.
5.
Kerjasama (cooperative)
Pendidikan
bagi anak berkebutuhan khusus tidak akan berhasil mengembangkan potensi mereka
mana kala tidak melibatkan pihak-pihak yang terkait. Beberapa pihak yang
terkait yang paling utama adalah orangtua. Orangtua anak berkebutuhan khusus
perlu dilibatkan dalam merancang dan menyelenggarakan program pendidikan.
Selain orangtua, pihak lain yang terkait adalah dokter, psikolog, psikhiater,
pekerja sosial, ahli terapi okupasi, dan ahli fisioterapi, konselor, dan tokoh
masyarakat utamanya mempunyai perhatian dalam dunia pendidikan anak.
Selain
kelima prinsip tersebut di atas, ada prinsip lain yang juga perlu diperhatikan
dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Prinsip-prinsip
tersebut adalah:
1.
Prinsip kasih sayang
Sebagai
manusia, anak berkebutuhan khusus membutuhkan kasih sayang dan bukan belas
kasihan. Kasih sayang yang dimaksudkan merupakan wujud penghargaan bahwa
sebagai manusia mereka memiliki kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan
diakui bahwa mereka adalah sama seperti anak-anak yang lainnya. Perubahan
lingkungan dari lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang ke lingkungan
sekolah pada awal anak masuk sekolah merupakan peristiwa yang menentukan bagi
perkembangan anak selanjutnya.
2.
Prinsip keperagaan
Anak
berkebutuhan khusus ada yang memiliki kecerdasan di bawah jauh rata-rata.
Keadaan ini berakibat anak mengalami kesulitan dalam menangkap informasi, ia
memiliki keterbatasan daya tangkap pada hal-hal yang konkret, ia mengalami
kesulitan dalam menangkap hal-hal yang abstrak. Untuk itu, guru dalam
membelajarkan anak hendaknya menggunakan alat peraga yang memadai agar anak
terbantu dalam menangkap pesan. Alat-alat peraga hendaknya disesuaikan dengan
bahan, suasana, dan perkembangan anak.
3.
Kemampuan anak
Heteroginitas
mewarnai kelas-kelas pendidikan pada anak berkebutuhan khusus, akibatnya
masing-masing subjek didik perlu memperoleh perhatian dan layanan yang sesuai
dengan kemampuannya. Kemampuan yang dimaksud meliputi keunggulan-keunggulan apa
yang ada pada diri anak, dan juga aspek kelemahan-kelemahannya. Proses pendidikan
yang berdasar pada kemampuan anak akan lebih terarah ketimbang yang berdasar
bukan pada kemampuan anak, seperti keinginan orangtua atau tuntutan paket
kurikulum. Orangtua memang memiliki anaknya, tetapi seringkali terjadi orangtua
kurang dan tidak mengetahui kemampuan anaknya. Mereka menganggap sama pada
semua anaknya. Oleh karena itu, sebelum dan selama proses pendidikan orangtua
perlu disertakan dalam proses pendidikan anaknya, sehingga kemampuan dan
perkembangannya dapat diikutinya. Selain itu, guru harus mampu menterjemahkan
tuntutan kurikulum terhadap heteroginitas kemampuan masing-masing subjek didik.
4.
Pembiasaan
Penanaman
pembiasaan pada anak normal lebih mudah bila dibarengi dengan informasi
pendukungnya. Hal ini tidak mudah bagi anak berkebutuhan khusus. Pembiasaan
bagi anak berkebutuhan khusus membutuhkan penjelasan yang lebih konkret dan
berulang-ulang. Hal ini dilakukan karena keterbatasan indera yang dimiliki oleh
anak berkebutuhan khusus dan proses berpikirnya yang kadang lambat. Untuk itu, pembiasaan
pada anak berkebutuhan khusus harus dilakuakn secara berulang-ulang dan diringi
dengan contoh yang konkret.
5.
Latihan
Latihan
merupakan cara yang sering ditempuh dalam pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus. Latihan sering dilakukan bersamaan dengan pembentukan pembiasaan. Porsi
latihan yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus disesuaikan dengan
kemampuan yang dimilikinya. Pemahaman akan kemampuan anak dalam memberikan
latihan pada diri subjek didik akan membantu penguasaan keterampilan yang telah
dirancangkan lebih dahulu. Latihan yang diberikan tidak melebihi kemampuan
anak, sehingga anak senang melakukan kegiatan yang telah diprogramkan oleh
pengelola pendidikan.
6.
Pengulangan
Karakteristik
umum anak berkebutuhan khusus adalah mudah lupa. Oleh karena itu, pengulangan
dalam memberikan informasi perlu memperoleh perhatian tersendiri. Pengulangan
diperlukan untuk memperjelas informasi dan kegiatan yang harus dilakukan anak.
Meskipun hal ini sering menjemukan, tetapi kenyataan mereka memerlukan demi
penguasaan suatu informasi yang utuh.
7.
Penguatan
Penguatan atau
reinforcement merupakan tuntutan untuk membentuk perilaku pada anak. Pemberian
penguatan yang tepat berupa pujian, atau penghargaan yang lain terhadap
munculnya perilaku yang dikehendaki pada anak akan membantu terbentuknya
perilaku. Pujian yang diberikan padanya akan memiliki arti tersendiri dalam
pencapaian usaha keberhasilan. Secara psikologis akan memberikan penghargaan
pada diri subjek didik, bahwa dirinya mampu berbuat. Penghargaan ini akan
memberikan motivasi pada diri mereka. Bila ini terjadi, anak akan berusaha
untuk menampilkan prestasi lain.
Selain prinsip umum, ada beberapa
prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus. Prinsip khusus tersebut berkaitan erat dengan kecacatan
yang dialami anak. Prinsip khusus yang berkaitan dengan layanan pendidikan anak
tunanetra menurut Annastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) adalah :
1.
Prisip totalitas
Prinsip totalitas
berarti prisip keseluruhan atau keutuhan. Dalam prinsip ini guru mengajar harus
secara keseluruhan atau utuh. Keseluruhan dimaksudkan bahwa dalam mengajarkan
konsep sedapat mungkin melibatkan keseluruhan indera, sedangkan keutuhan
dimaksudkan bahwa konsep yang dikenalkan harus utuh, tidak sepotong – potong.
Misalnya, menjelaskan “tomat”, guru tidak hanya mengenalkan model tomat ,
tetapi juga harus menunjukkan tomat yang asli, anak disuruh meraba bentuk –
bentuk tomat, mencium bau tomat, merasakan tomat, bahkan melengkapinya dengan
pohon tomat.
2.
Prinsip Keperagaan
Prinsip keperagaan
sangan dibutuhkan untuk menjelaskan konsep baru pada anak tunanetra. Prinsip
keperagaan berkaitan erat dengan tipe belajar anak. Ada anak yang mudah
menerima konsep melalui indera perabaan, ada anak yang mudah dengan indera
pendengaran. Dengan peragaan anak akan terhindar dari verbalisme. Misalnya,
guru menerangkan perbedaan antara apel dan tomat. Guru harus membawa kedua
jenis buah tersebut. Anak harus dapat membedakan keduanya dari segi teksture
(kasar halus, keras lembut), berat, rasa, dan baunya. Contoh lain misalnya guru
menerangkan nyamuk , untuk suara mungkin dapat langsung, tetapi untuk bentuk
guru harus mencari spesimen nyamuk, yang besarnya ratusan kali dari nyamuk yang
sebenarnya.
3.
Prinsip Kesinambungan
Prinsip kesinambungan
sangat dibutuhkan anak tunanetra dalam mempelajari konsep. Mata pelajaran yang
satu harus berhubungan dengan mata pelajaran yang lain. Kesinambungan tersebut
dalam hal materi dan istilah yang digunakan guru. Istilah yang digunakan
sebaiknya tidak terlalu banyak variasi.
4.
Prinsip Aktivitas
Prinsip aktivitas
penting artinya dalam kegiatan belajar anak. Murid dapat memberikan respon
terhadap stimulus yang diberikan guru. Reaksi ini dilaksanakan dalam bentuk
mengamati sendiri dengan bekerja sendiri. Anak tunanetra diharapkan aktif dan
tidak hanya mendengarkan. Tanpa aktivitas , konsep yang diterima anak hanya
sedikit dan mereka akan merasa jenuh. Jika anak aktif dalam pembelajaran, maka
pengalaman mereka akan banyak, memperoleh kepuasan dalam belajar sehingga akan
mendorong rasa ingin tahu yang tinggi.
5.
Prinsip individual
Prinsip individual
dalam pembelajaran berarti pengajaran dilakukan dengan memperhatikan perbedaan
individu, potensi anak, bakat dan kemampuan masing – masing anak. Prinsip ini
merupakan ciri khusus dalam layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Bagi
anak tunanetra, prinsip induvidual mendorong guru untuk memenuhi tuntutan
variasi ketunaan dan kemampuan anak. Guru dituntut sabar, telaten, ulet dan kreatif.
Guru harus mengajar satu per satu sesuai dengan perbedaan anak.
C.
Pendekatan
Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
1.
Pendekatan
Secara
umum dikenal 2 pendekatan yang sering dilakukan dalam memberikan layanan
pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yaitu: pendekatan
kelompok/klasikal dan pendekatan individual.
a.
Pendekatan Kelompok
adalah pendekatan yang dilakukan secara kelompok. Pendekatan ini memiliki
kelebihan dalam hal waktu, tenaga, dan biaya. Disamping kelebihan juga ada
kelemahannya yaitu kurang efektif dalam proses pembelajarannya.
b.
Pendekatan individual
yang dilakukan secara individu. Pendekatan ini memiliki kelebihan dalam hal
waktu, tenaga dan biaya.
Selain
pendekatan individu dan pendekatan kelompok, masih ada pendekatan yang dapat
digunakan bagi anak berkebutuhan khusus, yaitu pendekatan remidial dan
pendekatan ekseleratif. Pendekatan remidial bertujuan untuk membantu anak
berkebutuhan khusus dalam upaya mencapai kompetensi yang ditentukan dengan
lebih menekankan pada hambatan atau kekurangan yang ada pada anak berkebutuhan
khusus. Pendekatan remidial didasarkan pada bagian-bagian sub kompetensi yang
belum di capai oleh anak. Pendekatan ini dapat melatih dan mendorong anak untuk
menutup kekurangan yang ada pada dirinya dengan memperhatikan kemampuan yang
dimilikinya.Sedangkan pendekatan ekseleratif bertujuan untuk mendorong anak
berkebutuhan khusus yang memiliki bakat untuk lebih khusus lagi menguasai
kompetensinya yang ditetapkan berdasarkan asesmen kemampuan anak.Pendekatan
akseleratif juga lebih bersifat individual.
2.
Layanan
Pendidikan Anak Berkelainan Fisik
Secara umum anak-anak berkebutuhan
khusus yang mengalami kelainan fisik membutuhkan layanan pendidikan dengan
pendekatan dan strategi khusus, yang dapat dikemukakan sebagai berikut.
a. Anak Tuna Netra
Pengertian tuna netra menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah tidak dapat melihat (KBBI, 1989: 971) dan menurut
literatur berbahasa Inggris visually handicapped atau visual impaired. Pada
umumnya orang mengira bahwa tunanetra identik dengan buta, padahal tidaklah
demikian karena tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori.
Anak yang mengalami gangguan
penglihatan dapat didefinisikan sebagai anak yang rusak penglihatannya yang
walaupun dibantu dengan perbaikan, masih mempunyai pengaruh yang merugikan bagi
anak yang yang bersangkutan (Scholl, 1986 ). Pengertian ini mencakup anak yang
masih memiliki sisa penglihatan dan yang buta.
Dengan demikian, pengertian anak
tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak
berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti
orang awas.
Strategi khusus dan isi layanan
pendidikan bagi anak tuna netra menurut Hardman (dalam Suparno, 2008), meliputi
3 hal, yaitu sebagai berikut.
1)
Mobility training and daily living skill, yaitu latihan
untuk berjalan dan orientasi tempat dan ruang dengan berbagai sarana yang
diperlukan serta latihan keterampilan kehidupan keseharian yang berkaitan
dengan pemahaman uang, belanja, mencuci, memasak, kebersihan diri, dan
membersihkan ruangan.
2)
Tradisional curriculum content area, yaitu orientasi dan
mobilitas, keterampilan berbahasa termasuk ekspresinya dan keterampilan
berhitung.
3)
Communication media, yaitu penguasaan braille dalam
komunikasi. Annastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) (dalam Suparno,
2008) menyatakan bahwa layanan khusus bagi anak Tunanetra yaitu sebagai
berikut.
a)
Penguasaan Braille, yaitu kemampuan untuk menulis dan
membaca braille. Tulisan Braille Pengembangan metode membaca dan menulis dengan
perabaan dimulai pada akhir abad ke-17. Pada abad ke 18 ditemukannya tulisan
timbul oleh Louis Braille yang memberikan perubahan monumental bagi kehidupan
para tunanetra dan kemajuan di bidang literature (bacaan), komunikasi, dan
pendidikan. Braille adalah serangkaian titik timbul yang dapat dibaca dengan
perabaan jari oleh orang tunanetra. Braille bukanlah bahasa tetapi kode yang
memungkinkan bahasa seperti bahasa Indonesia, Inggris, Jerman dan lain-lain
dapat dibaca dan ditulis. Simbol Braille dibentuk dari titik timbul dalam suatu
formasi (susunan) sebagai suatu unit yang disebut sel Braille. Sebuah sel
Braille yang penuh terdiri atas enam titik timbul yang tersusun dalam dua kolom
dan tiga baris. Posisi titik dalam sel diberi nomor urut dari 1 sampai dengan
6. Nomor 1 sd 3 untuk sel sebelah kiri dari atas ke bawah dan nomor 4 sd 6
untuk sel sebelah kanan. Kombinasi titik dalam satu sel Braille dapat digunakan
untuk satu huruf, angka, atau tanda baca bahkan sebagai satu kata.
b)
Latihan orientasi dan mobilitas, yaitu jalan dengan
pendamping awas, latihan jalan mandiri, latihan jalan dengan menggunakan alat
bantu jalan (tongkat dan sign guide).
c)
Penggunaan alat bantu dalam pembelajaran berhitung dan
matematika, meliputi cubaritma, papan taylor frame, abacus (sempoa) dalam
operasi penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan beberapa konsep
matematikan braille.
d)
Pembelajaran pendidikan jasmani bagai anak tunanetra.
Pembelajaran pendidikan jasmani disesuaikan, bagi anak tunanetra menggunakan
pendidikan jasmani adaktif.
e)
Pembelajaran IPA. Dalam pembelajaran IPA sedapat mungkin
menggunakan model yang dapat diamati dan diraba oleh anak.
b. Anak Tunarungu
Layanan pendidikan yang spesifik
bagi anak Tunarungu adalah terletak pada pengembangan persepsi bunyi dan
komunikasi. Ada beberapa cara mengembangkan kemampuan komunikasi anak
tunarungu, yaitu:
1) Metode Oral
Cara melatih anak tunarungu supaya
dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan normal.Dalam hal ini perlu
partisipasi lingkungan anak tunarungu untuk berbahasa secara verbal.
2) Membaca Ujaran
Kegiatan yang mencangkup pengamatan
visual dari bentuk dan gerak bibir lawan bicaranya sewaktu dalam proses
berbicara. Membaca ujaran memiliki kelamah antara lain; tidak semua bunyi
bahasa dapat terlihat pada bibir, ada persamaan antara berbagai bunyi bentuk
bahasa, lawan bicara harus berhadapan dan tidak terlalu jauh dan pengcapan
harus pelan dan lugas.
3) Metode manual
Cara mengajar atau melatih anak
tunarungu berkomunikasi dengan isyarat atau ejaan jari. Bahasa isyarat ini
mempunyai komponen yaitu:
a) Bahasa ungkapan badaniyah, adalah
bahasa yang dilakukan dengan cara menggunakan keseluruhan ekspresi badan.
b) Bahasa isyarat lokal, suatu ungkapan
manual dalam bentuk isyarat konvensional berfungsi sebagai pengganti kata.
c) Bahasa isyarat formal, bahasa
nasional dalam isyarat biasanya menggunakan kosa kata isyarat dan dengan
berstruktur bahasa yang sama persis dengan bahasa lisan.
4) Ejaan jari, Penunjang bahasa isyarat
dengan menggunakan ejaan jari. Dalam penggunaan bahasa ejaan jari dapat
dikelompokan menjadi tiga, yaitu : ejaan jari dengan satu tangan, ejaan jari
dengan dua tangan, dan ejaan jari campuran.
5) Komunikasi total cara berkomunikasi
dengan menggunakan salah satu modus atau semua cara komunikasi, yaitu
penggunaan sistem isyarat, ejaan jari, bicara, baca ujaran, amplifikasi, gesti,
pantomimik, menggambar dan menulis,serta pemanfaatan sisa pendengaran sesuai
kebutuhan dan kemampuan seseorang.
c. Anak Tunadaksa
Menurut Frieda Mangunsong, dkk
(1998) (dalam Suparno, 2008) layanan pendidikan bagi anak tuna daksa perlu
memperhatikan tiga hal, yaitu sebagai berikut.
1) Pendekatan Multidisipliner dalam
Program Rehabilitasi Anak Tunadaksa
Pendekatan multidisipliner merupakan layanan pendidikan yang
melibatkan berbagai ahli terkait secara terpadu dalam rangka mengoptimalkan
memampuan yang dimiliki oleh anak.Beberapa ahli terkait memberikan layanan
rehabilitasi adalah ahli medis (dokter), dokter tulang, dokter syaraf, ahli
pendidikan, psikolog, pekerja sosial, konselor, ahli fisioterapi, okupasi, dan
ahli pendidikan khusus. Dalam program rehabilitas ini dikenal empat stadium
yaitu:
a) Pertama, stadium akut antara 0-6
tahun sejak menderita, pada stadium ini merupakan stadium “survival” yaitu
berjuang untuk bertahan hidup.
b) Kedua, stadium sub.acut 6-12 minggu,
merupakan stadium perawatan rutin agar perkembangan otot dapat pulih dan tumbuh
walaupun minimal.
c) Ketiga, stadium mandiri, pada
stadium anak lebih diarahkan untuk memperoleh keterampilan kerja untuk
kehidupan mendatang.
d) Keempat, stadium “after care”, pada
stadium ini anak dipersiapkan kembali kerumah atau kesekolah untuk mengikuti
program pendidikan selanjutnya.
2) Program Pendidikan Sekolah
Program pendidikan sekolah bagai mereka yang tidak mengalami
kelainan mental relatif sama dengan anak normal, hanya bina gerak masih terus
dikembangkan melalui fisioterapi dan terapi okupasi, utamanya untuk perbaikan
motoriknya.
3) Layanan Bimbingan dan Konseling
Layanan bimbingan dan konseling diarahkan untuk
mengembangkan “self-respect” (menghargai diri sendiri). Sunarya Kartadinata,
(1998/1999) menyatakan bahwa anak tunadaksa perlu mengembangkan self-respect,
yaitu menghargai diri sendiri dengan cara menerima diri sesuai dengan apa
adanya, sehingga anak merasa bahwa dirinya adalah sebagai seorang pribadi yang
berharga.
3. Anak Berkelainan Mental Emosional
a.
Anak Tunagrahita
Pendekatan layanan pendidikan bagi
anak tunagrahita lebih diarahkan pada pendekatan indivudual dan pendekatan
remidiatif. Pendekatan individual didasarkan pada asesment kemampuan anak untuk
mengembangkan sisa potensi yang ada dalam dirinya. Tujuan utama layanan
pendidikan bagi anak tunagrahita adalah penguasaan kemampuan aktivitas
kehidupan sehari-hari dalam mengelola diri sendiri. Untuk mencapai itu perlu
pembelajaran mengurus diri sendiri dan pengembangan keterampilan vocational
terbatas sesuai dengan kemampuannnya.
Layanan pendidikan khusus bagi anak
tunagrahita meliputi latihan senso motorik, terapi bermain dan okupasi, dan
latihan mengurus diri sendiri. Pendekatan pembelajaran dilakukan secara
individual dan remidiatif. Perkembangan kemampuan anak berdasarkan tingkat
kemampuan kornitifnya. Anak yang ber IQ 55 – 70 berbeda dengan yang ber IQ 35 –
55. dalam sebaran IQ tersebut juga berbeda dalam layanan masing-masing.
b. Anak Tuna Laras
Pendekatan layanan pendidikan bagi anak tunalaras untuk
pembelajaran akademik relatif sama dengan anak normal. Khusus untuk kelainan
perilakunya, pendekatan pendidikan bagi anak tunalaras menggunakan pendekatan
bimbingan dan konseling serta terapi. Pendekatan terapi sering digunakan untuk
layanan pendidikan anak tunalaras
menurut Hardman, M.L. dkk (1990) adalah:
1.
Insight oriented thterapies
2.
Play therapy
3.
Group Therapy
4.
Behavior Therapy
5.
Marital and Family Therapy
6.
Drug Therapy
Penggunaan pendekatan terapi sangat
bergantung pada jenis dan tingkat problem perilaku yang dimiliki oleh anak
tunalaras. Selain pendekatan terapi,
dalam pembelajaran khusus untuk anak tunalaras adalah binapribadi-sosial anak.
Mata pelajaran ini diarahkan untuk membina perilaku positif anak tunalaras
dalam kaitannya dengan perilaku dirinya dan perilaku dalam berhubungan dengan
orang lain.
4.
Anak Berbakat dan Anak Berkesulitan
Belajar Spesifik
Pendekatan layanan khusus bagi anak
berbakat dan berkesulitan belajar spesifik lebih bersifat pendekatan individual.
Pendekatan individual ini lebih memperhatikan potensi yang dimiliki oleh anak.
1.
Anak Berbakat
Layanan
pendidikan bagi anak berbakat di sekolah dasar dilakukan melalui dua tahap,
yaitu tahap penjaringan (sreening) dan tahap seleksi (identifikasi) (Sunarya
kartadinata, dkk, 1998/1999). Dalam tahap penjaringan dilakukan oleh guru
dengan menganalisis hasil belajar anak dan menganalisis hasil observasi
komitmen anak akan tugas dan kreativitasnya. Mereka yang mempunyai kreativitas
tinggi, komitmen akan tugas yang tinggi, dan prestasi belajar di atas rata-rata
dipromosikan sebagai anak berbakat. Langkah selanjutnya adalah kerjasama dengan
psikolog dan konselor untuk menentukan IQ dan bakat anak. Setelah
teridentifikasi keberbakatan anak, langkah selanjutnya adalah menentukan
layanan pendidikan bagi mereka. Ada berbagai macam layanan pendidikan bagai
anak berbakat, yaitu:
a.
Layanan akselerasi, yaitu layanan tambahan untuk mempercepat
penguasaan kompetensi dalam merealisasi bakat anak.
b.
Layanan kelas khusus, yaitu anak yang berbakat unggul
dikelompokkan dalam satu kelas dan diberikan layanan tersendiri sesuai dengan
bakat mereka.
c.
Layanan kelas unggulan, sama dengan layanan kelas khusus
hanya berbeda dalam model pengayaannnya.
d.
Layanan bimbingan sosial dan kepribadian melali pendekatan
individual dan pendekatan kelompok. Guru mampu memberikan penerapan kegiatan
yang mampu melatik sosialisasi anak dengan tean dan orang sekitar misalnya
diskusi dan observasi tempat tinggal.
2.
Anak Berkesulitan Belajar Spesifik
Pendekatan layanan pendidikan abagi anak berkesulitan belajar spesifik
menurut Jerome Rosner ,1993 dalam Sunarya Kartadinata, dkk (1998/1999) ada tiga
macam, yaitu:
a.
Layanan remidiasi
Layanan remidiasi terfokus pada upaya menyembuhkan, mengurangi, dan
bahkan kalau mungkin mengatasi kesulitan yang dialami anak. Dalam layanan ini
anak dibantu dalam keterampilan perseptual dan kecakapan dasar berbahasa,
sehingga ia mampu memperoleh kemajuan belajar yang normal. Dalam layanan
remidiasi ini sering digunakan beberapa teknik dalam modifikasi perilaku, di
antaranya dengan pemberian penguatan, tabungan kepingan, atau teknik lain yang
sesuai dengan kebutuhan anak.
b.
Layanan kompensasi
Layanan kompensasi diberikan dengan cara menciptakan lingkungan belajar
khusus di luar lingkungan belajar yang normal, sehingga memungkinkan anak
memperoleh kemajuan dalam pembentukan perseptual dan bahasa. Dalam melaksanakan
layanan kompensasi, Sunarya Kartadinata, dkk (1998/1999) memberikan patokan
atau rambu-rambu sebagai berikut:
1)
Fahami dan pastikan bahwa anak
memilki pengetahuan faktual yang diperlukan dalam mempelajari bahan ajar;
2)
Batasi jumlah informasi baru pada
hal-hal yang tercantum dalam bahan ajar, sampaikan sedikit demi sedikit, atau
mungkin gunakan sistem jembatan keledai (mnemoteknik);
3)
Sajikan informasi dengan jelas
tentang apa yang harus dipelajari anak;
4)
Nyatakan secara eksplisit bahawa
informasi yang diajarkan berkaitan dengan informasi yang telah dimiliki anak
dan sedapat mungkin menggunakan contoh (konkret);
5)
Jika anak sudah mampu menguasai
unit-unit kecil perkenalkan dia ke unit-unit yang lebih besar;
6)
Siapkan pengalaman ulang untuk
memperkuat informasi baru dalam ingatan anak;
7)
Lakukan drill, latihan efektif
dengan melibatkan seluruh indra untuk membuat persepsi yang sempurna, yaitu
dengan jalan mendengar, membaca, menulis, dan berbuat.
c. Layanan prevensi
Layanan prevensi adalah layanan yang
diberikan sebelum anak mengalami ketunacakapan belajar di sekolah. Layanan ini
diawali dengan melakukan identifikasi terhadap aspek-aspek yang dimungkinkan
menimbulkan atau menyebabkan ketunacakapan belajar. Langkah yang dilakukan
dalam layanan ini diawali dengan memberikan tes kemampuan dasar anak dalam
membaca, menulis, berhitung, dan melakukan koordinasi gerak. Langkah
selanjutnya dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan terhadap aspek-aspek
pribadi anak, di antaranya pemeriksaaan kesehatan, perkembangan, penglihatan
dan pendengaran, keterampilan dan perseptual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar